MAMA

MAMA
Bab 134


__ADS_3

"Dengarkan baik-baik, karena kamu telah bersedia melakukan syarat yang akan saya sebutkan ini maka secara otomatis kamu telah setuju dengan apapun konsekuensinya, jika kamu melanggar. Apakah kamu mengerti ?" Tanya Tukijan usai menerangkan sebelum ia sebutkan syarat.


"Saya mengerti pak, apapun resikonya saya tanggung jika saya melanggar." Jawab Sezha penuh keyakinan tanpa ada sedikit rasa ragu.


"Syarat pertama. Besok malam tepat pukul 9 malam, kamu harus mandi dengan bunga kantil sebanyak 4 tangkai dan itu harus kamu lakukan setiap 4 malam berturut-turut.


Syarat kedua. Dimalam terakhir atau dimalam ke 4, setelah kamu menyelesaikan ritual mandi bunga kantil, bunga kantil yang bekas kamu gunakan untuk mandi jangan kamu buang, tapi harus memakan ke 4 bunga kantil itu sampai habis.


Syarat ketiga. Jika kamu telah menyelesaikan kedua syarat tadi, kamu datanglah lagi kesini. Kamu akan saya bawa ke suatu tempat. Dimana itu, nanti saya beritahu. Intinya kamu fokus dulu dengan kedua syarat tadi. Apa kamu sudah mengerti ?" Tukijan menjelaskan panjang lebar tentang syarat kemudian menanyakan kepada Sezha.


"Saya mengerti pak. Ketiga syarat itu pasti akan saya lakukan." Tanpa berfikir Sezha menyetujui syarat yang dilontarkan oleh Tukijan.


"Bagus, ini minyak yang kamu butuhkan. Sekarang kamu boleh pulang. Saya masih ada pekerjaan." Tukijan memberikan minyak yang diinginkan Sezha kemudian menyuruh Sezha untuk segera pulang.


"Terimakasih pak, hm maharnya gimana pak ?" Sezha mengambil minyak itu.

__ADS_1


"Ini gratis dari saya, cepat pulang." Jawab Tukijan dengan raut wajah serius.


"Iya pak, saya pulang. Sekali lagi terimakasih pak." Sezha langsung beranjak dari duduknya dan menuju ke arah pintu keluar.


Sezha yang baru selangkah dari pintu, pintu sudah ditutup oleh Tukijan.


Karena sudah mendapatkan minyak yang emang ia inginkan, Sezha pulang dengan perasaan bahagia sebab ia percaya berkat minyak ini, baik sikap ibunya dan Deon sekejap berubah perhatian dengan dirinya.


Disela jalan pulang, ia mendengar suaran tangisan bayi. Kali ini Sezha tidak mau memperdulikan suara tangisan bayi itu.


"Huh bayi setan itu lagi, bodo' amat dah. Nangis yang kenceng, gak takut aku." Sezha berbicara lirih sambil berjalan.


Tak lama Sezha telah sampai dirumahnya. Sezha membuka pintu lalu ia masuk. Begitu masuk, ia di panggil oleh ayah dan ibunya yang sudah duduk sengaja menunggunya.


"Sezha ! sini sebentar ayah dan ibu ingin bicara." Seru ayah.

__ADS_1


Sezha cepat menoleh kearah seruan ayahnya yang mengajaknya berbicara.


"Ayah, ibu ? mau ngomongin apa sih ? ck pasti nyeramahin aku lagi ni uh males banget aku. Malah belum oles ni minyak lagi." Gumam Sezha sambil menghela nafas tanda ia malas berhadapan dengan kedua orangtuanya.


Sezha hanya berdiri, lalu ibunya memanggil Sezha.


"Sezha ! kamu tidak dengar ayah panggil suruh kesini malah bengong kamu."


"Eh iya Bu !" (sahut Sezha )


Sezha menghentakkan sebelah kakinya sambil menggerutu kesal. Namun begitu sudah dekat dengan ayah dan ibunya, wajah Sezha berpura-pura ramah.


"Ada apa yah ?" Tanya Sezha santai.


"Duduk dulu." Kata ayah sebelum menjawab pertanyaan Sezha.

__ADS_1


Sezha pun duduk. Tatapan ayah dan ibu seperti menghardiknya. Sezha merasa tidak melakukan kesalahan.


"Kenapa sih ayah sama ibu ? emang Sezha ada salah apa lagi sih ayah..ibu..?" Tanya Sezha penasaran dengan sikap ayah dan ibunya yang melihatnya seperti melakukan kesalahan.


__ADS_2