
Keesokan paginya, Sezha bangun lebih awal tapi ia melewatkan sholat subuh, bahkan ia hanya membasuh wajahnya dan menyikat giginya saja kemudian langsung bergegas keluar rumah.
Sezha sengaja bangun lebih awal karena ia ingin menemui tukang sayur yang sering melintas tiap pagi.
Karena ia pernah mendengar jikalau tukang sayur yang sering melintas di dekat rumahnya, mempunyai seorang saudara yang dijuluki orang pintar atau dukun.
Sezha duduk di terasnya, benar saja tak lama tukang sayur pun melintas sembari menyerukan dagangannya.
"Sayuuuur...sayurrr...Bu mari..mari.. sayurnya dipilih.. dipilih... sayur !"
Sezha beranjak dari duduknya dan memanggil tukang sayur tersebut.
"Bu sayur !" panggil Sezha.
Penjual sayur pun menghentikan sepedanya sambil bertanya.
"Ya dek, mau beli sayur apa ? dipilih saja, sayurnya masih seger-seger."
"Hm maaf Bu, saya tidak membeli sayur tapi saya ingin menanyakan sesuatu." Ucap Sezha wajah sedikit canggung.
__ADS_1
"Walah, kirain manggil pengen beli sayur Ndak taunya cuma pengen nanya. Hadeh gagal buka dasar ini. Ya sudah mau tanya apa ?"
"Ini lho Bu hm saya dengar ibu punya saudara orang pinter ya Bu kayak dukun gitu." Sezha setengah berbisik.
"Iya, ibu ada. Emangnya kenapa dek?"
"Gini Bu, boleh gak saya tau alamat dan namanya ? soalnya saya ingin meminta bantuan."
"Boleh, deket kok dek dari sini. Namanya Tukijan, jalan Kamboja, warna cat rumahnya hitam putih kayak papan catur, nah itu rumahnya." Penjual sayur menyebutkan nama dan alamat si dukun.
"Baik bu, sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Kalo gitu saya permisi pulang."
"Ini lho Bu, saya lagi mau minta ajian biar cepet ingat soalnya sebentar lagi saya ujian Bu makanya mau minta tolong biar pinter pas ujian."
"Ujian hm bukannya udah abis ujian kan ?"
"Iya sih Bu, cuma saya kemaren salah saat menjawab kertas ujian, saya disuruh ngulang ma gurunya nah makanya itu saya kan males belajar jadi mau minta bantuan gitu sama orang pinter biar ikut pinter." Sezha nyengir.
"Ada-ada aja, mau pinter kok ke dukun toh, yo belajar. Walah anak saiki males banget kalo suruh belajar."
__ADS_1
"Oh ya Bu, gak lanjut jualan sayurnya ni keburu siang lho Bu ntar pada beli ke dagangan lain lagi." Sezha mengalihkan.
"Waduh sampe lupa aku, ya sudah ibu mau lanjut dagang. Kalo mau dateng kesana kudu abis Maghrib, soalnya dari pagi sampe sore dia kerja."
"Iya Bu makasih udah ingetin. Semoga laris ya Bu dagangannya."
Pejual sayur kembali mengayuh sepedanya guna menjajakan dagangannya yang sempat terhenti sejenak karena di hadang oleh Sezha.
Sementara Sezha juga kembali kerumahnya, saat akan mendekati rumah, Sezha melihat ibunya sedang berdiri di depan pintu sambil memperhatikannya dengan melipat kedua tangan di dada.
Sezha pun heran dengan sikap ibunya yang melihat dirinya seperti itu.
"Kenapa ibu ngeliatin aku sampe kayak gitu amat, serasa bukan anak kandung aku lama-lama." Gumam Sezha sembari berjalan.
Beberapa langkah lagi Sezha hampir mendekat ke arah ibu yang sedang berdiri, ibu pun memalingkan wajahnya dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mau menoleh ke arah Sezha.
Sezha yang mendapati ibunya begitu, ia berusaha tenang karena bukan pertama kalinya ibu bersikap dingin kepadanya.
"Ya udah ah biarin aja ibu hari ini jutek, ntar kalo aku udah ketemu sama yang namanya Tukijan tinggal minta tolong aja deh."
__ADS_1