
Keesokan paginya, Sezha terpikir untuk mengunjungi istri Deon.
"Gimana kalo nanti abis pulang sekolah, aku kerumah mas Deon terus pura-pura aja pengen jenguk istrinya. Aku penasaran segi*a apa sih istrinya, aku pengen liat secara langsung. Kira-kira kalo aku kesana bawa si adek, reaksinya bisa makin tambah g*la kali ya. Sezha, Sezha hidupmu selalu beruntung. Apa yang aku inginkan pasti terwujud."
Ega mengetuk pintu karena Sezha belum keluar dari kamar padahal mereka sedang sarapan di dapur.
Tok...tok... Kak Sezha ! suruh ibu sarapan !" Seru Ega.
"Ya, sebentar !" Sahut Sezha dari dalam kamar.
Sezha keluar kamar dengan menggendong bayinya, kemudian berjalan menuju dapur untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
Melihat Sezha menggendong bayinya, Ega sumringah.
"Woah ponakan om, udah bangun. Gak nyangka ya, cepet gede tubuhnya, bisa kalah ni om Ega sama si adek. Si adek kakak kasih makan ya, cepet amat gedenya."
"Makan bayi ya ASI donk Ega, ish kamu pertanyaannya ada-ada aja deh."
"Iya itu juga Ega tau. Kak, Ega boleh gendong gak ?"
"Boleh, eh emangnya kamu udah selesai sarapannya?"
"Udah donk kak."
"Yaudah ni, awas lho gendongnya hati-hati." Sezha mendekatkan bayinya ke Ega.
__ADS_1
Ega menggendong, posisi tubuh Ega kaku.
"Widih kak, mayan juga ni BB si adek."
Ayah Sezha juga ingin menggendong bayinya Sezha.
"Udah kan sama om, sekarang gantian sama kakek ya. Sini jagoan kakek ini."
Ayah Sezha begitu senang saat menggendong bayi Sezha.
"Oh ya Zha, udah siapin nama buat cucu ayah ini ?"
"Hm belum sih yah, rencananya sih nanti setelah mas Deon nikahi Sezha baru deh mas Deon aja yang kasih nama."
"Bilang sama pacar kamu, secepatnya ya. Ayah gak mau lho sampe cucu ayah sampe gak ada ayahnya. Kasian masa depannya."
Ayah dan ibu sama aja, desak mulu."
Sarapan Sezha telah habis dan ia pun pamit untuk pergi kesekolah.
"Sezha pergi ya Bu, yah."
"Hati-hati dijalan."
"Siap Bu." Timpal Sezha.
__ADS_1
Usai pamit ke ayah dan ibu, Sezha juga berpamitan pada bayinya.
"Mama pergi sekolah dulu ya, dirumah sama nenek. Jangan nakal ok jagoan mama, mmuaah.." Sezha mencium kening bayinya.
Sezha berangkat sekolah, lalu seperti biasa ia berdiri didepan teras untuk menunggu ojol.
Saat Sezha menunggu ojol, ustadz Dedek melintas.
Begitu melihat Sezha, ustadz Dedek seketika mengingat pernah bertemu dengan Sezha sewaktu bertamu ke rumah Nova.
"Itu bukannya temen Nova ya, kalo gak salah yang waktu pas-pasan dia mau jalan keluar nah saya baru sampai disana. Ya saya masih ingat wajahnya."
Sezha mengetahui jika ia dilihatin oleh ustadz yang ada ditepi jalan.
"Si*lan ni orang, ngeliatin aku sampe serius banget. Belom tau siapa aku rupanya. Aku samperin ya, pakaian aja agamis tapi tiba liat cewek bening, matanya kayak mau lepas." Sezha tidak senang dengan ustadz Dedek yang melihatnya seperti itu. Sezha tidak mengetahui jika itu adalah seorang ustadz yang beberapa hari ini sering melintas di sekitar rumahnya.
Baru 2 langkah ia berjalan, ojol sudah datang.
"Pagi mbak, dengan mbak Sezha ?" Tanya driver.
"Ya saya Sezha."
"Kalo begitu ni helmnya silahkan di pake, mbak."
Sezha menerimanya tapi hanya dibalas deheman.
__ADS_1
"Hm."