
Sezha menikmati sarapan paginya seorang diri tanpa Nova.
Disela Sezha sedang menikmati sarapan, Mak Iyem' datang menghampirinya.
"Selamat pagi." Sapa mak Iyem.
"Pagi." Balas ramah Sezha.
"Boleh saya duduk disini ?" Tanya Mak Iyem'.
"Silahkan Bu, duduk saja kebetulan saya sendiri."
"Oh ya, memangnya teman kamu kemana?"
"Biasalah Bu, masih tidur dikamar. Ngomong-ngomong ibu ini siapa ya, soalnya saya baru liat ibu untuk pertama kalinya ?"
"Kamu belum tau saya siapa toh ?"
"Belum." Sezha menggeleng bingung.
Sezha bertanya kepada Mak Iyem' tapi bukan Mak Iyem' yang menjawab malah ibu kantin yang tiba-tiba nongol.
"Kenalkan beliau ini adalah pemilik dari persinggahan ini, namanya Mak Iyem'." Bu kantin memperkenalkan.
"Iya saya Mak Iyem', pemilik dari tempat ini." Timpal Mak Iyem'.
"Pantas saja kalo nuansa disini kental banget etnik Jawa nya, soalnya pemiliknya juga berpenampilan adat Jawa. Saya jadi pengen memakai pakaian adat Jawa gitu Bu."
__ADS_1
"Saya wong jowo asli, makanya saya hias Persinggahan ini dengan memakai ornamen serba adat Jawa. Kamu boleh kalo ingin mencoba memakai pakaian seperti saya. Saya akan memberikan kamu sepasang beserta sanggulnya. Yowes kamu makan dulu yo, saya tunggu."
" Gak sabar saya ingin segera memakai pakaian adat Jawa." Sezha antusias.
"Habiskan dulu sarapan kamu yo."
Mak Iyem' menunggu dengan sabar, Sezha yang sedang menyantap makanannya.
Dalam waktu singkat, nasi goreng sepiring pun habis Sezha makan sampai bersih.
"Ok Bu, sarapan saya sudah selesai sekarang bisa kan kalo ibu memakaikan saya pakaian ada Jawanya. " Sezha tidak sabar.
"Yo wes mari ikut saya, kamu saya ajak ke koleksi pakaian Jawa saya, tenang nanti saya pilihkan yang pualing cuantik untuk kamu, bahasa jowo ne manglingi ngono lho."
"Hehehe ibu bisa saja, saya jadi malu." Wajah Sezha merona.
"Ya sebentar Bu, saya mau bayar nasi gorengnya dulu.''
"Wes ora usah bayar. Sarapan kamu, saya gratisin. Kita pergi saja yo, nanti biar mbok Sinah yang bereskan."
"Makasih Bu, gak nyangka ternyata pemilik persinggahan ini begitu ramah kepada tamu."
"Bioso wae, malahan saya seneng iso ramah koyo ngene ojo isin-isin yo."
Sezha hanya mengangguk, sebenarnya Sezha tidak begitu paham dengan bahasa Jawa.
Mereka berdua meninggalkan kantin, ya Sezha diajak oleh Mak Iyem' untuk ikut.
__ADS_1
Mak Iyem' mengajak Sezha ke sebuah kamar, yang Sezha baru tau jika ada beberapa kamar yang letaknya cukup tersembunyi.
Suasana ketika memasuki ruangan ini itu begitu minim cahaya yang masuk, ruangan ini cenderung gelap.
Mak Iyem' menekan saklar lampu agar ruangan ini tidak terlalu gelap namun karena lampu juga tidak terlalu terang, sehingga ruangan ini masih terlihat temaram.
Sezha meyapu tiap sudut dari ruangan ini, disini terdapat 4 kamar.
Setelah melewati 3 kamar, Mak Iyem' berhenti di kamar terakhir.
"Nah ini kamarnya, kamu nanti pasti suka dan jatuh hati ketika melihat koleksi baju Jawa yang saya."
Mak Iyem' memutar handle pintu, kemudian mempersilahkan Sezha untuk masuk.
"Monggo neng."
Mak Iyem' membuka lebar pintu kamar ini, Sezha pun melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar ini.
Sezha masih penasaran dengan koleksi baju Jawa yang dikatakan oleh Mak Iyem' karena ia tidak melihat adanya pakaian adat Jawa di kamar ini.
"Mana pakaian adat Jawanya Bu ? saya tidak menemukannya apa-apa." Tanya Sezha bingung.
"Ada, di lemari itu. Tunggu yo biar saya bukankan."
Benar saja begitu lemari dibuka, terlipat rapi jejeran pakaian di dalam lemari.
Sezha melongo karena di kiranya jika lemari itu bukan tempat letak pakaian karena fisik dari lemari sudah terlihat usang dan rapuh.
__ADS_1