
Pagi datang lagi, sinar mentari malu-malu menguar dari jendela kaca kamar kami, setelah selesai sholat subuh berjamaah kami terlelap kembali, mengembalikan sisa tenaga yang terkuras semalam. Sepanjang malam ia memijit kakiku, sedang aku tak bisa mengerjapkan mata walau sesaat, entah pukul berapa mata kami terjaga hingga akhirnya sama-sama terlelap bersama.
Aku tahu dia lelah, mengurusku sarapan makan siang atau makan malam yang kadang aku sendiri bingung hendak makan apa. Meski bekerja seharian tapi setiap jam makan tiba, dia dengan sigap menyuapiku meski kembali dari kantor walau sesaat.
'Maafkan aku suamiku, aku juga begitu lelah dengan awal kehamilan ini, terkadang saat mood sedang kacau tak jarang aku akan menangis tanpa sebab, dan kau lah pelampiasan egoku', aku berbisik lirih tanpa suara.
Aku memandangi wajahnya yang masih terpejam, guratan lelah terpancar disana. Ia begitu lelap setelah berhari-hari mengurusiku. Maklum saja, kami tak punya asisten rumah tangga, jadi persoalan rumah terkadang kami kerjakan bersama-sama.
Ku coba bangun perlahan-lahan dari tempat tidur, langkahku mengendap-endap pelan agar ia tak terganggu dari tidur nyenyaknya. Aku beralih menuju dapur, ada tumpukan piring kotor disana, lantai dapur yang licin karna bekas sisa air dan makanan yang terjatuh belum sempat di bersihkan semalam, serta barang-barang yang tercecer tidak pada tempatnya.
__ADS_1
Ada sedikit sisa tenaga yang ku punya, ku ambil alih tumpukan piring kotor, satu dua piring bisa ku selesaikan, tapi tiba-tiba isi perutku mulai terguncang, mual tak bisa ku tahan, "uuuuuueeeeeek", nafasku tercekat, ku sandarkan diri pada dinding kamar mandi, tak kuat hidung ini pada bau sisa masakan yang mulai membusuk. Air mataku menetes menahan rasa yang tak bisa ku terjemahkan.
" Bun... Buka pintunya bun, bunda kenapa sayang???", suara ketukan pintu berkali-kali serta cemas suamiku beradu mengagetkan rasa lemasku.
Ku buka pintu dan memasang wajah seceria mungkin, namun pucat pasi ini tak bisa ku tutupi.
Ia menarikku dalam pelukannya, tak banyak kata ia membawaku kembali ke kamar, detak jantungnya tak beraturan, aku tau ia begitu cemas pada kondisiku.
"Tapi bunda pingin bantuin juga yaah, kasian ayah capek. Ayah sudah kerja di tambah kerjaan rumah yang numpuk, bunda cuma ga mau nyusahin ayah", Aku tertunduk menahan masam di tenggorokanku.
__ADS_1
" Kita kerjain semua sama-sama bun, kalau bunda capek ya ayah yang gantiin, dan stop bilang nyusahin, bunda itu tanggungjawab ayah ya", ia mendekapku, rasa nyaman menguar di seluruh tubuh.
Ya Tuhan betapa beruntungnya aku memilikinya.
Namun jangan biarkan rasa cinta ini melebihi rasa cintaku pada-Mu.
...
Dulu, rasa trauma kepada lelaki membuatku tak memiliki kepercayaan terhadap lelaki manapun. Bertahun-tahun hidup dengan seorang wanita baja membuatku harus lebih tangguh dari kerasnya kehidupan. Aku di besarkan oleh seorang mama, yang memiliki dua peran, karna ia juga menggantikan papa. Aku masih terlalu kecil untuk mencerna betapa bencinya mama pada papaku. Aku tak mengerti kenapa papa pergi meninggalkan kami, sebelum ini keluarga kami baik-baik saja. Hingga suatu hari mama mengusir papa dari rumah, aku yang saat itu benar-benar dekat dengan papa merasa tak terima mama mengusirnya, ku tarik tangan papa, tak ku biarkan ia pergi.
__ADS_1
Papa berdiri dengan lututnya agar kami tampak sejajar, ia mengusap rambutku, "Papa pergi dulu ya nak, nggak lama kok, papa mau cari uang yang banyak biar bisa ngajak ara sama mama jalan-jalan. Nggak usah nangis, jaga mama, nurut sama mama, jadi anak yang baik ya" Papa mencium keningku untuk yang terakhir kali. Aku berteriak kencang, menangis sejadi-jadinya, mencoba mengejar papa yang makin lama makin menghilang bersama deru mobil yang menyisakan debu. Beberapa orang mengejarku, mencoba memelukku, membawaku kembali ke rumah.
Disana telah ada kakek dan nenek yang telah bersama ibu. Mereka merunduk pilu, sedang diri ini telah kacau bersama hati yang telah menghilang separuh, ~Papa kini telah pergi dari hidup kami....