
Sezha dan Nova menempuh ke jalan Kamboja hanya dengan berjalan kaki karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Sezha.
Setelah memakan waktu 20 menit dengan berjalan kaki, sampailah mereka di jalan Kamboja yang disebut oleh penjual sayur.
"Nah pasti ini jalannya." Tutur Sezha.
Nova sedikit merasa aneh dengan nama jalannya ini, terkesan seperti di dekat area pemakaman.
"Kamboja ? emang ada pemakaman di dalam jalan ini ?" Tanya Nova heran.
"Entahlah Nov, aku juga baru pertama kali kesini. Udah gak usah penasaran mending kita lewati dulu jalannya."
__ADS_1
"Kalo menurut aku mending kita pulang, kamu aneh banget diganggu setan bukannya baca ayat kursi gitu malah ke orang pintar, hadeh zaman serba canggih masih percaya aja ma yang model ginian."
"Ssttt udah ah, no protes, kamu ikut aja. Lagian yang mau pake jasa tuh orang pintar kan aku bukan kamu, jadi santai ok."
"Terserah kamu aja deh Zha, aku cuma ingetin aja sebagai temen kalo mendatangi orang pintar atau dukun gitu lalu meminta bantuannya itu sama artinya kita menyekutukan Allah SWT dan dosanya itu gak main-main lho Zha. Sholat kamu selama 40hari 40malam bisa gak diterima, ibarat kata sia-sia. Kan rugi, udah deh kamu urungin aja niat kamu, mending sekarang kita pulang sebelum dosa syirik." Nova menjelaskan kemudian mengajak Sezha untuk kembali.
"Astaga, iya ustadzah Nova. Cukup ceramahnya, makasih ya udah repot-repot ingetin, tapi maaf ni kali ini aku gak ikutin ceramah ustadzah. Kalo ustadzah keberatan ikutin saya, ustadzah boleh pulang kok. Terimakasih udah nganterin saya." Ucap Sezha dengan nada menyindir.
"Au ah intinya aku udah ingetin, jadi itu hak kamu mau dengerin atau gak. Sorry aku mau pulang, kedua kaki aku gak bisa temenin kamu kalo kamu kekeh mau kerumah dukun itu. Aku gak mau dosa." Nova tidak mau menemani Sezha kerumah dukun yang akan didatangi Sezha.
"Ok, aku pulang. Assalamualaikum." Nova mengucap salam dengan wajah sedikit kesal karena melihat sikap Sezha yang begitu keras kepala.
__ADS_1
"Waalaikum salam." Balas Sezha dengan wajah ditekuk.
Nova kali ini benar-benar tidak dapat menemani Sezha, ia lebih memilih pulang kerumahnya.
Selama berjalan Nova tak hentinya menggerutu kesal.
"Ya Allah, ampun aku lihat Sezha bukannya memperbaiki diri malah sibuk mau datengin orang pintar. Gak habis pikir aku dengan isi kepalanya itu, hadeh percuma aku ingetin eh toh dia malah tetap mau nemui tuh dukun."
Nova sudah menjauh darinya, ia seorang diri.
"Bodo' amat, dikira aku takut apa. Huh pake nyeramahin segala lagi, iyalah dia bisa ngomong gitu soalnya diakan gak tau gimana stresnya aku diganggu mulu ma tuh setan-setan." Sezha tak kalah juga, ia juga menggerutu kesal sambil memandangi punggung Nova yang sedang berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
Sezha melangkahkan kedua kakinya untuk memasuki jalan Kamboja ini. Begitu ia baru berjalan sejenak, tiba-tiba ia melihat seperti ada kelebatan putih sedang melintas di sisi kanannya. Ia mengumpulkan keberaniannya, ia sudah bertekad ingin mendatangi seorang dukun yang bernama Tukijan.
Pasti setan anak perempuan itu lagi, ya dia mau tau aku pergi kemana. Ku pastikan, kalian setan-setan jika malam ini adalah malam terakhir kalian mengganggu hidupku. Batin Sezha.