
Benar saja setelah Sezha bersedia meminum air berbau itu tak lama Ratu Ajeng kembali hadir di tengah mereka sembari berkata.
"Aku sudah lihat kesungguhanmu. Sesuai janjiku tiga keinginan yang sudah kau sebutkan akan aku kabulkan."
Raut wajah seketika berubah sumringah, hatinya sangat berbunga-bunga ketika mendengar suara Ratu Ajeng berkata seperti itu yang ia tau untuk dirinya.
Rasa eneg yang ia rasakan terbayar dengan mau nya Ratu Ajeng mengabulkan tiga keinginannya.
"Terimakasih banyak Ratu, terimakasih." Spontan Sezha bersujud di hadapan Ratu Ajeng saking senangnya.
"Tapi ini bukan tanpa batas waktu, kau harus tetap menjaga agar pengaruh sihir ku tidak memudar." Ucap Ratu Ajeng lagi memberi peringatan.
"Apa itu Ratu ? apapun itu akan saya lakukan." Tanya Sezha mengubah posisinya duduk tentunya masih menundukkan kepala.
"Yang kau lakukan hanya satu, berhenti menyembah Tuhan. Cukup aku yang ada didalam jiwa dan ragamu. Panggil namaku, puja aku hahaha..." Ratu mengagungkan dirinya seperti ia yang paling berkuasa atas diri Sezha.
"Apapun itu, setia saya hanya untuk mu Ratu." Sezha duduk bersimpuh.
"Aku menerima ikrarmu." Ucap Ratu Ajeng tersenyum lebar.
__ADS_1
"Begitu kau meninggalkan tempat ini maka keinginan kau akan terwujud sesuai dengan yang kau inginkan. Kekuatan sihirku akan selalu meliputimu kemanapun kau berada."
"Baik Ratu, sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak pada Ratu."
"Ingat pesanku baik-baik, kau sudah resmi menjadi pengikut ku, dan ingat ikrar abdimu padaku ini bersifat mutlak tidak bisa kau lari dari ku apalagi sampai berniat lepas dariku. Ikrar janjimu padaku akan terputus jika kau sudah mati, aku tidak membutuhkan pengikut seorang mayat. Jadi kau ingat pesanku. Aku pergi."
Ratu Ajeng menegaskan kalo seseorang yang sudah mengikrarkan dirinya kepada Ratu Ajeng maka seluruh hidupnya mutlak dibawah kendali Ratu Ajeng.
Tak lama Ratu Ajeng pun menghilang dari ruangan ini.
Usai Ratu Ajeng pergi, sekarang tinggal Tukijan dan Sezha diruangan ini.
"Karena kamu resmi menjadi pengikut Ratu, maka kamu apapun itu harus meminta persetujuan Ratu. Kamu bisa menemui Ratu disini, diruangan ini. Jangan pernah sekalipun kamu ceritakan ini pada siapapun tanpa terkecuali. Baiklah kamu boleh pulang sekarang."
"Bagus, saya memercayai ucapanmu."
"Maaf pak, ini sudah malam rasanya tidak mungkin kalau saya pulang dan mengetuk pintu rumah saya pasti kedua orang tua bakal curiga dan mencerca saya dengan banyak pertanyaan." Sezha takut kalo harus pulang.
"Itu mudah bagi saya. Pejamkan mata kamu. Dalam hitungan ke tiga, kamu akan berada di dalam kamar kamu."
__ADS_1
Sezha memejamkan kedua matanya dan Tukijan menghitung bilangan angka 1-3.
"Satu.
Dua.
Tiga."
Hitungan ketiga sekejap Sezha sudah berada diatas ranjangnya.
Terdengar suara Tukijan ditelinga kiri Sezha.
"Buka matamu."
Sezha membuka mata perlahan, betapa takjubnya ia saat mendapati ia benar-benar berada didalam kamarnya.
"Woah beneran, ajaib. Aku teleportasi, astaga pak Tukijan emang sakti. Gak salah dukun aku memang. Nah sekarang tinggal nunggu besok pagi, penasaran aku sama reaksi ibu dan semua orang disekitar ku. Hoammmmmm...ngantuk. Oh ya oles dulu minyak ampuh ini."
Tak lupa Sezha mengolesi lehernya dengan minyak ini, ya ini seperti sudah menjadi kebiasaan Sezha. Padahal kalau ia berfikir sebenarnya ia tidak memerlukan minyak ini lagi sebab ia sudah di janjikan bahwa tiga keinginannya tadi telah dikabulkannya oleh Ratu Ajeng namun nampaknya Sezha tidak sampai disitu pemikirannya.
__ADS_1
Sezha usia masih belia tapi keinginannya jauh dari remaja seusianya. Nafsu untuk memiliki sesuatu tanpa mau melalui proses panjang dan usaha, akhirnya Sezha mengambil jalan pintas, bahkan ia mengacuhkan akibatnya nanti, yang ada dipikirannya hanya kesenangannya saja. Baik nasihat dari kedua orangtuanya dan sahabatnya tidak ia pedulikan sedikitpun.
Sezha...Sezha..segeralah sadar...