
Sezha sudah tiba dipasar, ia mencari keberadaan toko khusus menjual bunga-bunga tabur/bunga ziarah hingga kedalam pasar, langkah Sezha berhenti disebuah toko kecil penjual bunga tabur.
"Bu, beli bunga kantilnya 5000." Ucap Sezha.
"Pasti untuk mandi ya neng ?" Tanya kepo ibu penjual.
"Iya Bu." Sezha mengangguk kikuk.
Ni ibu kepo banget, beli bunga pake nanya segala.
"Ini neng bunganya." Ibu penjual memberikan bunga kantil yang sudah dibungkus, dengan memakai daun pisang sebagai pembungkusnya.
"Makasih Bu, ini uangnya." Sezha menerima kemudian memberikan selembar uang pecahan 5000.
Setelah mendapatkan bunga kantil, Sezha pun memutuskan untuk langsung pulang kerumah karena ibu memintanya untuk menyetrika pakaian.
Ditengah Sezha berjalan ketempat pangkalan tukang becak tanpa sengaja ia melihat Arin sedang berbelanja sayuran.
__ADS_1
"Aishhhh tuh kan Arin, astaga kenapa pake acara ketemu segala sih sama tuh anak, ach mending aku nunduk aja deh kali aja dia gak tanda sama aku. Ribet urusan kalo ketemu sama Arin, banyak nanya."
Sezha berjalan menunduk, berharap Arin tidak melihatnya, namun dugaan Sezha meleset biarpun Sezha berjalan menunduk Arin tetap mengenali Sezha.
"Lah Sezha, ngapain dia jalannya nunduk gitu, samperin ahh."
Arin mendekati Sezha.
"Hallo Zha..aneh kamu ini ya jalan kok nunduk yang ada kamu bisa nubruk." Sapa Arin sembari menepuk pundak Sezha.
"Eh Arin, jalan emang harus liat kebawah kan biar gak kesandung, masa liat keatas."
"Aku udah selesai kok, ni aku mau pulang."
"Selesai ? mana belanjaan kamu, gak ada." Arin bingung Sezha mengatakan belanja namun Arin perhatian, Sezha sama sekali tidak membawa kantong belanjaan hanya sebuah plastik hitam kecil yang ditenteng sebelah tangan kirinya.
"Iya aku belanja. Yaudah ya aku duluan soalnya belanjaanku udah aku taruh duluan ke Abang becak." Sezha ingin cepat-cepat menghindari Arin.
__ADS_1
"Yaelah Zha, buru-buru amat sih. Temenin aku belanja donk, soalnya ibu aku kasih daftar belanjaan gak pake perasaan, coba kamu lihat ni daftar belanjaan yang harus aku beli, beuh banyak kayak gerbong kereta Zha." Arin menunjukkan secarik kertas yang berisikan daftar belanjaan dari sang ibu.
Sezha melihat sekilas namun ia nampak tidak mau peduli.
"Duhh maaf deh Rin, aku gak bisa. Soalnya ibu aku juga udah keburu mau masak. Yaudah ya Rin, aku pulang duluan. Dah..."
"Lah, hmm Zha temenin aku donk please." Arin meminta Sezha agar mau menemaninya berbelanja.
"Maaf Rin, aku gak bisa. Udah ya kasihan Abang becaknya nungguin lama." Sezha melangkah meninggalkan Arin.
Begitu Sezha melewatinya, Arin mencium semerbak aroma bunga kantil.
"Wangi bunga kantil ni ( Arin mengendus-endus mencari asal aroma kantil )."
Indera penciumannya tertuju pada Sezha, karena Sezha yang baru melintas didekatnya.
"Kayaknya wangi bunganya dari Sezha deh. Hm tapi masa iya Sezha, apa aku tanya aja kali ya ? penasaran aku."
__ADS_1
Arin yang sibuk menerka asal aroma bunga kantil, Sezha sudah tidak tampak dari pandangan.
"Kebanyakan mikir aku, jadi kehilangan jejak kan ck padahal aku masih mau nanya. Siapa tau Sezha diikuti sama dedemit, ihhh kan serem kalo tuh dedemit sampe ikut Sezha pulang kerumah tapi aku mau ngejar juga iya kalo ketemu sama Sezha, kalo dia udah naik becak kan buat kaki aku makin capek. Udah ah perasaan aku aja kali, lanjut belanja lagi deh keburu ibu nge-reff berabe urusan, mana masih banyak lagi yang mau dibeli hu.." Arin mengacuhkan aroma kantil itu, ia pun lanjut berbelanja.