MAMA

MAMA
Bab 73


__ADS_3

Disaat para mayat hidup itu serempak mengempung bulek Sukini dan Nova.


Desi dan Hanifah secepatnya mengingatkan kepada Mak Iyem untuk segera melanjutkan ritual sebelum bulan purnama mengilang.


"Mak Iyem, silahkan Mak melanjutkan acara ritual ini sebelum waktunya habis, karena jika sampai melewatkan ini maka Mak harus menunggu lagi untuk waktu yang cukup lama." Tutur Desi sambil berlutut.


"Ahhh, aku sampe lupa. Kalian urus mereka. Aku ingin melanjutkan ritual ku ini." Mak Iyem sambil melangkah kearah Sezha yang terbaring.


"Njih Mak." Timpal Desi dan Hanifah berbarengan.


Desi dan Hanifah langsung berjaga di sekitar Mak Iyem' yang akan melanjutkan ritual yang sempat tertunda.


Mak Iyem yang sudah berada tepat di dekat kedua kaki Sezha kembali membaca seruan panggilan itu.


"Rawuh panjenengan ratu Ajeng !" Seru Mak Iyem' dengan suara keras.


Mak Iyem mengulangnya sampai 3 kali.

__ADS_1


Usai Mak Iyem' menyeru dengan sepenggal kalimat itu tiba-tiba muncul di hadapannya sebuah gumpalan asap hitam yang membumbung tinggi.


Kemudian dari dalam gumpalan asap hitam itu muncullah sesosok wanita dengan memakai mahkota berwarna hitam dan tentunya juga dengan dihiasi dengan permata berwarna hitam pula. Berambut panjang terurai, berwajah hitam legam, namun bagian kepala sampai ke dada saja berwujud seperti layaknya manusia sedangkan bagian mulai dari perut hingga ke bawah berwujud seperti sisik ular, penampakan keseluruhan dari wujud sosok ratu Ajeng ini adalah hitam pekat.


Ratu Ajeng ini memakai pakaian sejenis kemben untuk menutupi bagian dadanya.


Wujud ratu Ajeng sudah terlihat jelas, gumpalan asap hitam itu perlahan memudar. Ratu Ajeng melayang di udara, posisi munculnya Ratu Ajeng tepat di atas kepala Sezha.


Melihat sosok Ratu Ajeng yang sudah nampak jelas, Mak Iyem' menyerukan untuk berlutut kepada Ratu Ajeng.


"Nyembah Ratu Ajeng !" Mak Iyem berlutut.


Ratu Ajeng tersenyum sombong, namun senyumannya seketika berubah sinis ketika memandang ke arah bulek Sukini dan Nova yang tidak ikut berlutut.


Ratu Ajeng melemparkan tatapan mata tajam.


Bulek Sukini membalas tatapan dari Ratu Ajeng, sementara Nova memilih bersembunyi di balik tubuh bulek Sukini. Perasaan Nova saat benar-benar ketakutan.

__ADS_1


"Bulek, bagaimana ini ? saya takut." Bisik Nova sambil masih memejamkan kedua matanya.


"Ingat apapun yang terjadi, kita harus hadapi." Ucap bulek menanamkan rasa berani.


"Tapi bulek, apa mungkin kita bisa lolos dari sini dan membawa Sezha? sebaiknya kita pulang saja bulek, kita meminta bantuan kepada warga kampung." Nyali Nova mendadak ciut.


"Sudah diam ! kamu lupa tujuan awal kita datang ketempat sesat ini hah !" Sentak bulek namun pandangannya tetap mengarah kepada Ratu Ajeng.


"Hiks maaf bulek, maaf hiks." Nova menangis.


Ratu Ajeng nampak begitu sangat meradang.


"Iyem, siapa manusia-manusia itu ?! berani sekali mereka tidak berlutut padaku !" Ratu Ajeng menanyakan lantang kepada Mak Iyem'.


"Ampun Ratu, mereka adalah penyusup yang dengan lancangnya masuk kedalam area ini tanpa seizin saya."


"Huh ternyata manusia-manusia sampah lemah !

__ADS_1


Heii, manusia ! berlutut lah menyembahku sebelum aku bertindak diluar perkiraan." Titah Ratu Ajeng.


"Jangan mimpi kau setan ! aku tidak sudi jika harus berlutut di hadapanmu !" Bulek menolak dengan lantang."


__ADS_2