
Mak Iyem' menuju ke sebuah kamar yang letaknya berada di tempat rahasia. Tidak ada yang boleh memasuki kamar ini kecuali atas izin Mak Iyem'.
Di dalam kamar ini terdapat sebuah lemari tua dengan ukuran sedang. Mak Iyem' menggeser lemari dan setelah digeser terdapat sebuah ruangan yang gelap, Mak Iyem menekan saklar lampu. Cahaya lampu ini temaram tidak terlalu terang.
Di dalam ruangan ini sudah ada sesosok misterius yang selalu memakai jubah hitam.
Mak Iyem' mengambil posisi duduk di kursi kebesarannya. Selain kursi juga ada meja ya diruangan ini hanya ada satu kursi dan satu meja tentunya khusus untuk Mak Iyem'. Di atas meja sudah tersedia semangkuk bunga melati dan segelas air yang juga sudah ditaburi dengan 8 bunga melati.
"Kalian tentu tau, kenapa kalian aku suruh kesini ?" Mak Iyem' mulai pembicaraan.
"Njih Mak." Jawab Hanifah.
"Kau (menunjuk sesosok yang memakai jubah) bagaimana hasil penelusuranmu ?" Tanya Mak Iyem' sambil memakan bunga melati satu persatu.
"Semua sesuai perintah Mak, tunggu tiba saatnya maka Mak akan dapat memilikinya." Ungkap sosok berjubah.
__ADS_1
"Kapan itu ? aku tak suka jika harus menunggu lama, kau tau kan kalo kulitku ini harus secepatnya mendapatkan makanan. Jika terlambat sedikit maka aku akan ahh sudahlah, aku tidak mau membayangkan sesuatu yang buruk untuk diriku."
"Bulan penuh akan muncul esok lusa tepat pukul 00:00, maka itu waktu yang tepat untuk Mak melakukan ritual." Tandas sosok berjubah.
"Bagus, bagus, aku senang mendengarnya. Ingat awasi terus calon makananku, jangan sampai ia luput dari jangkauanmu, aku tau aku bisa mengandalkan mu."
"Njih Mak, aku akan keluar untuk mengawasi gadis itu."
"Pergilah."
"Kau, harus mewaspadai gadis yang banyak ingin tau itu. Jangan sampai dia menemukan petunjuk apa pun dari tempat ini. Hilangkan rasa curiga yang ia miliki, bila perlu beri dia ramuan mengunci raga, agar dia tidak melakukan tindakan yang bisa menggagalkan rencanaku."
"Njih Mak."
"Dia bisa menjadi penghalang untukku mendapatkan makananku dan aku tidak mau jika sampai itu terjadi. Ku serahkan dia padamu, urus dia."
__ADS_1
"Njih Mak."
"Huh, dia sungguh penasaran dengan kebiasaan yang ada disini. Ia belum tau jika orang-orang yang ia lihat bukanlah manusia seperti yang ia pikirkan. Mereka hanyalah kamuflase dari sihir ku. Tempat ini juga sebenarnya gubug reot tapi karena sihir yang aku miliki aku dengan mudah bisa menipu pandangan manusia-manusia lemah itu. Hanifah lakukan tugasmu dengan benar, awas jika kau sampai gagal maka kau akan tau akibatnya." Mak Iyem' mengancam Hanifah.
"Njih Mak."
"Gadis ayu penurut, kau boleh keluar. Aku sedang ingin menikmati cemilanku."
"Njih Mak."
Hanifah pun beranjak pergi meninggalkan ruangan khusus ini.
Hanifah harus menuruti setiap perintah yang diberikan Mak Iyem' terhadapnya karena jika ia tidak sampai menuruti ataupun gagal maka sebagai hukumannya maka Hanifah harus memakan bangkai tikus sebanyak 10 ekor tanpa tersisa. Memang Hanifah belum pernah terkena hukuman yang menji*ikan itu, namun hukuman ini pernah dialami oleh seorang pengikut Mak Iyem'. Ia gagal dan Mak Iyem' memerintahkannya untuk memakan bangkai tikus yang sudah disiapkan oleh Mak Iyem' dengan menggunakan sihirnya.
Tontonan yang menji*ikan itu harus disaksikan oleh para pengikut Mak Iyem' tanpa terkecuali.
__ADS_1