
Tepat pukul 10 malam, Arin harap-harap cemas karena ia takut kalo yang ia alami tadi siang terulang lagi ditambah lagi suasans diluar habis gerimis semakin menambah hawa yang tidak mengenakan.
"Malam ini rasanya kok dingin, sejuk gini sih mana diluar hening banget kayak gak ada kehidupan padahal masih jam 10, belum juga tengah malem. Apa aku tidur sama ibu aja ya, kagak bakalan bisa tidur aku kalo ketakutan gini."
Arin sibuk berbicara sendiri hingga terasa hembusan angin menyentuh daun telinganya.
"Waduh tuh kan bener ni pasti gak beres ni, ach kekamar ibu aja deh, masalah ibu ngomel belakangan yang penting aku bisa tidur nyenyak tanpa rasa takut, ihhhh." Arin beranjak dari ranjangnya dan ingin segera keluar dari kamarnya.
Sudah akan sampe pintu kamarnya, terdengar suara yang memanggilnya dari arah belakang.
"Arin, Arin.." Suara ini terdengar mendengung seperti dari alam lain.
Arin sontak tidak dapat melangsingkan kakinya, kedua kakinya terasa sangat berat.
__ADS_1
"Siapa itu ? kok suaranya serem-serem gitu, ya Allah apalagi ini, aku merinding hiks, ibu uuu." Arin memejamkan kedua matanya sambil nangis.
Karena Arin tidak menoleh, sosok ini memanggil Arin lagi.
"Arin, Arin...sini Arin..." Panggil sosok misterius.
Arin tetap memejamkan matanya, tanpa berani melihat kebelakang sedikitpun.
"Pergi..aku gak ada urusan apa-apa sama kamu, kita beda alam, ya ampun kamu kok gangguin aku sih hiks please pergi donk, pergi.." Arin meminta sosok yang belum ia ketahui untuk pergi.
Sosok ini memegang pundak Arin, begitu Arin merasakan pundaknya disentuh oleh tangan yang terasa sangat dingin. Sekujur tubuhnya mulai gemetar.
"Hiks ibu...duh tolongin Arin Bu hiks. Please pergi donk pergi..aku minta maaf kalo ada buat salah sama kamu.. beneran aku gak tau apa-apa."
__ADS_1
"Arin, tolong.." Sosok ini meminta tolong.
"Tolong apaan sih ya ampun cari dukun deh sana, sumpah aku gak ahli dunia ghaib. Please pergi ya, kamu salah orang."
"Arin, tolong.."
"Ni kaki kenapa lagi gak bisa gerak ya Allah, baca apa ya duh kok otak ku mendadak l*mot coba." Arin panik bercampur takut.
Ditengah rasa takutnya, seketika ia ingat almarhumah bulek Sukini, yang sedikitpun tidak memiliki rasa takut pada makhluk halus.
Aku harus berani, bulek aja dulu gak ada rasa takut, masa ponakan takut sama hantu. Hantu kalo kita takut yang ada makin ganggui terus dan gak mau pergi. Ok Arin, ayo berani, jangan takut.. Arin memberanikan dirinya untuk melihat siapa sosok misterius ini yang dari hari Minggu mengganggunya.
Arin perlahan menoleh kebelakang sambil masih memejamkan mata. Dirasa telah berhadapan dengan sosok ini, mulai tercium anyir dan amis, persis bau bangkai, Arin berusaha menahan rasa enegnya, ia membuka pelan-pelan matanya, sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Arin mulai nampak mulai terlihat kedua kaki yang tidak menapak lantai, dengan memakai sarung corak batik.
"Duh liat sampe atas gak ya, mana bau lagi." Arin ragu untuk melihat sampe ke bagian atas tubuh sosok ini sembari menutup hidungnya sebab ia mulai merasa sedikit mual karena bau yang tercium dari sosok ini.