MAMA

MAMA
Bab 148


__ADS_3

"Siapa yang membohongi kamu ? saya tidak pernah membohongi kamu. Saya hanya menyampaikan syarat yang diinginkan oleh Ratu Ajeng, sebelum Ratu Ajeng menuruti ketiga keinginanmu." Tukijan membela diri.


"Baik kalo gitu. Sebutkan apa syarat yang terakhir ? tapi setelah saya melakukan syarat yang terakhir, bapak harus menepati janji bapak kepada saya." Tegas Sezha.


"Kamu tidak perlu takut, begitu kamu selesaikan syarat terakhir maka keinginan kamu akan Ratu Ajeng kabulkan." Jawab Tukijan.


"Kita mulai, sekarang." Ucap Tukijan tanpa mau berbasa-basi lagi.


Sezha mengangguk dengan penuh percaya diri dan keyakinan penuh jikalau dia pasti berhasil melakukan syarat yang terakhir.


Tukijan beranjak dari duduknya, kemudian mengambil sebuah wadah yang berisikan seekor ular yang sudah mati dan juga berbau bangkai.


Tukijan meletakkan wadah berisikan bangkai ular ini tepat dihadapan Sezha.


Sezha merasa ingin muntah begitu mencium aroma bangkai memasuki lubang hidungnya ketika tidak sengaja terhirup.

__ADS_1


"Bangkai ular ? (tanya Sezha sambil menahan rasa mual ). Untuk apa pak bangkai ular ini di bawa kehadapan saya ?" Sezha masih belum tau kenapa bangkai ular ini Tukijan bawakan.


Tukijan tidak menjawab pertanyaan Sezha, Tukijan fokus dengan bangkai ular ini, ia menyiram bangkai ular dengan segelas air. Setelah itu meminta Sezha untuk meminumnya.


"Kamu minum airnya sampai habis." Perintah Tukijan.


"Hah ? minum ? air bekas bangkai ular ini ? gak, saya gak mau pak. Ini bukan syarat kalo menurut saya, atau ini cuma alesan bapak aja karena sebenarnya Ratu Ajeng tidak mau mewujudkan keinginan saya." Sezha tegas menolak.


"Terserah, kamu mau atau tidak. Pilihan ada di kamu. Kamu berharap Ratu mengabulkan keinginan kamu tapi kamu malah tidak mau bahkan keberatan melakukan syarat yang terakhir. Kalo begitu ritual kita selesai malam ini, silahkan kamu tinggalkan kediaman saya. Saya tidak ada waktu membantu orang yang setengah-setengah dalam menyelesaikan syarat yang sudah di berikan oleh Ratu." Tukijan menyuruh lebih tepatnya mengusir Sezha untuk meninggalkan kediamannya.


Aduhhh gawat ni kalo sampai keinginan ku gak terwujud, ck kenapa harus air bekas bangkai ular coba ? minum gak ya ? ayo Sezha berfikir.


Sezha berdebat dengan pikirannya.


Melihat Sezha tidak juga kunjung beranjak dari duduknya, Tukijan kembali menegur Sezha kali ini ia menyentak Sezha dengan nada yang cukup keras.

__ADS_1


"Kamu tuli ? saya bilang keluar dari rumah saya ! Dan ingat jangan pernah kembali ke sini lagi." Tukijan memelototi Sezha.


Sezha terkejut sadar dan nyalinya menciut.


"Hm baik pak, saya akan meminum airnya. Tapi saya mohon setelah ini saya berharap Ratu dapat mengabulkan keinginan saya." Sezha bersedia meminum air dari wadah bangkai ular walaupun ia sebenarnya sama sekali tidak mau.


Tukijan diam sembari menatap Sezha tajam. Sementara Sezha harus membuang jauh rasa jijiknya demi keinginannya bisa terwujud.


Sezha meraih wadah ini, ia mendekatkan ke mulutnya. Sambil menahan nafas dan memejamkan kedua mata, Sezha menenggak habis air yang sudah bercampur dengan bangkai ular tadi.


Setelah menenggak beberapa saat Sezha tidak dapat menahan rasa ingin muntahnya, tanpa dapat tertahankan lagi Sezha pun akhirnya memuntahkan kembali air yang sudah berhasil ia tenggak tadi kedalam wadah itu.


"Howeeekkkkkk.....uhuggggg..uhugg..." Sezha muntah sampai terbatuk-batuk saking enegnya air itu di dalam tenggorokan dan juga lambungnya.


Tukijan menyunggingkan senyuman licik.

__ADS_1


__ADS_2