MAMA

MAMA
Bab 213


__ADS_3

Sezha batal untuk menegur ustadz Dedek, tapi tatapan tidak sukanya tetap ia lemparkan kearah pak ustadz yang berdiri ditepi jalan sembari masih memperhatikan Sezha.


"Astaghfirullah 'al adzim, gak salah lagi gadis itu telah diliputi aura jahat yang sangat pekat. Ya Allah bantu hamba-Mu ini untuk menyadarkan seorang anak manusia yang telah tersesat jauh dari jalan-Mu ya Allah." Ustadz Dedek memanjatkan doa.


Ustadz Dedek bukanlah warga di daerah ini, hanya saja beberapa hari yang lalu, ia berolahraga hingga sampai ke daerah ini. Ustadz Dedek sedaerah dengan Nova. Pertama kali memasukinya daerah ini pandangannya sudah tertuju kepada rumah keluarga Sezha.


Beberapa warga daerah sini telah mengenal ustadz Dedek juga karena ustadz Dedek pernah mengisi ceramah di mesjid daerah sini.


Selain terkenal sebagai ustadz yang santun berceramah, ustadz Dedek juga dikenal mampu meruqyah orang dengan gangguan sihir, baik itu sihir kiriman oleh orang yang berniat jahat ataupun sihir yang berasal dari makhluk ghaib.


Ustadz Dedek yang masih berdiri dari belakang ada yang menepuk pundaknya.


"Permisi pak." Sapa seseorang.


"Ya." Ustadz Dedek menoleh.

__ADS_1


Ternyata ayah Sezha yang menepuk pundak ustadz.


"Dari tadi saya perhatikan, bapak melihat kearah rumah saya." Ayah Sezha tidak mengenal Ustadz Dedek.


"Oh maaf pak, saya tidak ada niatan buruk. Kenalkan saya Dedek, saya warga daerah M. Kesini cuma buat jalan-jalan pagi aja." Ustadz Dedek memperkenalkan diri.


"Salam kenal, tapi maaf sebelumnya bapak belum jawab pertanyaan saya yang tadi tentang alasan bapak memperhatikan rumah saya."


"Begini pak, kebetulan sekali saya bertemu bapak disini. Saya melihat rumah bapak seperti diselimuti aura hitam yang begitu pekat."


Seorang tetangga menghampiri ayah Sezha dan ustadz Dedek yang sedang berbicara ditepi jalan.


"Assalamualaikum pak ustadz, saya lihat dari rumah saya kok sepertinya ada pembicaraan serius." Sapa si tetangga.


"Waalaikum salam, ahh tidak bicara serius kok. Hanya bicara santai."

__ADS_1


Ayah Sezha heran karena tetangganya mengenal yang menurutnya orang asing karena ia tidak pernah melihatnya.


"Bapak mengenal orang ini ?" Tanya ayah Sezha sambil menunjuk kearah ustadz Dedek.


"Ya kenal pak, ni kan pak ustadz Dedek, soalnya pernah ngisi ceramah pagi di mesjid kita lho pak. Woah keliatan sekali kalo bapak sudah lama tidak pergi ke mesjid ya pak ? makanya belum kenal sama pak ustadz Dedek."


"Maklumlah saya kalo habis pulang kerja suka kecapekan, ya sudah saya tinggal dulu ya. Saya harus. berangkat bekerja. Mari pak, pak ustadz." Ayah Sezha segera berangkat bekerja karena ia malas jika bicara lebar apalagi tentang ibadah ayah Sezha seperti melupakan.


Ayah Sezha meninggalkan si tetangga dan pak ustadz Dedek, dirasa ayah Sezha sudah cukup jauh si tetangga mengajak ustadz Dedek untuk singgah kerumahnya.


"Pak ustadz mari mampir sebentar kerumah saya, kita ngopi bareng atau pak ustadz mau sarapan sekalian dirumah saya juga gak apa-apa."


"Alhamdulillah terimakasih banyak pak, tidak usah. Kebetulan saya sudah sarapan tadi sebelum jalan pagi gini. Oh ya saya juga mau pamit, masih banyak kerjaan. Saya tinggal dulu ya, Wassalamu'alaikum.." Pak ustadz menolak halus tawaran si tetangga yang memintanya untuk bertamu ke rumahnya.


"Waalaikum salam pak ustadz."

__ADS_1


__ADS_2