MAMA

MAMA
Bab 70


__ADS_3

Bulek Sukini terus memberi penjelasan kepada pak Kasan suaminya.


"Pak, ibu mesti nolong adek iki. Bapak nang omah ae yo. Ibu karo adek iki lungo sediluk ra mastiin koncone nang kono ora kenopo-kenopo wes ngono ae pak." Bulek Sukini berbicara mendekati pak Kasan.


"Hmm yoweslah buk, bapak nunggu nang omah. Ibuk hati-hati yo. Opo perlu bapak melu buk, ibuk yakin ndak?"


"Ora usah toh pak, wes ibuk ae." Bulek Sukini menolak.


"Iyo buk, bapak percoyo karo ibuk." Pak Kasan memberi izin.


"Assalamualaikum pak, ibuk berangkat." Pamit bulek Sukini.


"Waalaikum salam."


"Permisi pak assalamualaikum." Pamit Nova juga.


"Iya waalaikum salam."


Usai berpamitan bulek dan Nova pun melangkah keluar.


Suasana malam didesa ini tidak cukup terang karena lampu jalan belum banyak terpasang hanya ada 3 buah lampu jalan yang disediakan oleh pihak PLN.


"Lumayan gelap juga ya bulek." Kata Nova sambil pandangannya menyusuri.


"Yo ngene lah wong jeneng'e kampung."

__ADS_1


"Iya bulek (angguk Nova ), jadi kita harus berjalan kearah mana ni bulek ?"


"Ikutin bulek."


Bulek Sukini berjalan terlebih dahulu sementara Nova mengikuti dari belakang.


Bulek Sukini belum memperbolehkan Nova untuk menggunakan senter yang ada di ponselnya. Penerangan hanya berasal dari obor yang dipegang oleh bulek Sukini.


Bulek Sukini dan Nova menelusuri jalan persawahan. Bulek sengaja mengambil jalan pintas karena jika mereka melewati jalan biasanya maka akan mudah diketahui oleh orang lain.


Mereka harus berjalan hati-hati, sebab jika tidak maka akan dapat tergelincir dan kemudian masuk kedalam sawah.


"Bulek, pandangan saya remang-remang. Saya tidak begitu jelas melihat jalanan setapak ini." Keluh Nova.


"Sudah jangan banyak mengeluh, ikuti saja langkah yang sudah bulek arahkan."


Nova mengikuti langkah demi langkah sambil memegangi ujung baju bulek. Perjalanan yang bulek ambil memang sedikit jauh.


Nova merasa kalo mereka berjalan sudah cukup lama tapi belum sampai juga mereka ke persinggahan pondok Mak Iyem', kemudian Nova kembali bertanya.


"Bulek, apakah masih jauh ? sepertinya kita jalan lama sekali." Nova terengah-engah.


"Jangan manja, kamu masih muda masih berjalan segini saja masa sudah capek. Sebentar lagi kita juga akan sampai."


"Maaf bulek."

__ADS_1


"Hm beginilah anak yang hidup dikota, semua serba pake kendaraan jadi jalan dikit saja sudah lelah." Bulek menggelengkan kepalanya.


Nova yang kedua kakinya sudah merasa lelah, ia hanya bisa menggerutu di dalam hati tanpa mau membalas perkataan bulek Sukini.


Aishhh gimana gak capek..ada jalan yang bagus malah milih jalan yang kayak gini mana gelap lagi ditambah gak boleh pake senter astaga susah amat mau kesana. Abis tu berasa jauh banget lagi, gak nyampe-nyampe, hadeh ni betis bentar lagi fix udah kayak pemain bola kaki. Moga aja Sezha gak kenapa-kenapa.


Disela rasa kesal campur lelah, bulek Sukini mengatakan jika mereka akan segera sampai.


"Lihat cahaya tu." Bulek menunjuk kearah cahaya.


Nova melihat kearah yang ditunjukkan oleh bulek Sukini.


"Cahaya apa itu bulek?" Tanya polos Nova.


"Oawalah, cahaya opo meneh toh. Lah iku persinggahan ne Mak Iyem'."


"Eh udah sampe ya bulek, kenapa kalo malam beda ya." Nova masih bingung campur ragu.


"Yo beda wong gelap, yowes ojo keokehan tekon. Coba liat jam di hp kamu, wes jam Piro iki ?"


"Jam piro ? hm .." Nova semakin bingung.


"Jam berapa ?" Bulek menghela nafas.


"Ohhh jam berapa, kirain apaan bulek hehehe." Nova nyengir kuda.

__ADS_1


Bentar ya bulek, saya liat dulu."


Nova mengambil ponsel di saku celananya.


__ADS_2