MAMA

MAMA
Bab 214


__ADS_3

Sezha yang baru masuk kelas langsung disapa ramah oleh Nova.


"Hallo Zha, kamu udah sehat ?" Nova menanyai kabar Sezha.


"Kenapa kaget liat aku sehat ?" Bukannya menjawab dengan tutur kata baik, Sezha malah balik bertanya kepada Nova dengan nada ketus.


"Lho kok kamu ngomongnya gitu Zha, aku kan tanya kamu baik-baik. Salahku apa sama kamu ?" Nova tak menyangka jika Sezha bisa ketus begitu saat ia bertanya.


"Hilih udahlah Nov, gak usah basa-basi. Kamu seneng kan kalo aku sakit, huh bilang aja. Gak usah munafik, sok-sok an care gak taunya happy." Sezha mencemooh.


"Astaghfirullah, Sezha..kamu tega banget ya nuduh aku kayak gitu. Sedikitpun aku gak ada punya sifat jelek apalagi seneng saat liat kamu sakit." Nova tidak terima karena tuduhan Sezha yang tak berdasar.


"Mana ada maling ngaku, penuh penjara. Udah deh mulai detik ini, anggap aja kita gak pernah kenal. Jujur ya aku lebih nyaman sendiri ketimbang direcoki dengan yang mengatasnamakan teman eh gak taunya musuh dalam selimut." Sezha memutuskan hubungan pertemanannya dengan Nova.


Arin dan Lala mendengar pembicaraan Sezha dan Nova. Mereka berdua saling berbisik.


"Tuh La, liat aja gayanya udah kayak Sultan kan. Sumpah pengen aku siram pake air minum ku si Sezha biar gak belagu."


"Iya Rin, aku kasian sama Nova. Nova sabar banget ngadepin tingkah si Sezha itu." Timpal Lala sependapat dengan Arin.

__ADS_1


Sezha mengetahui jika Arin dan Lala sedang berbisik menceritakan dirinya.


"Ngomong kok bisik-bisik, dasar tukang rumpi. Hadeh emang susah ya kalo sekelas sama tipe orang-orang julid, sirik plus dengki." Sindir Sezha kepada Arin dan Lala sembari pandangannya melirik kearah mereka berdua.


Arin dan Lala sadar jika sindiran Sezha tertuju pada mereka berdua.


Arin merasa kalo Sezha menyindir dirinya, Arin mendatangi meja Sezha.


"Kamu ngomongin siapa Zha? terus maksud kamu apa tadi ngomong kayak gitu ?" Tanya Arin serius.


"Ya siapa lagi, emang ada selain kalian berdua yang kerjanya cuma bisik-bisik ngomongin orang dibelakang, kalo emang nyali ngomong didepan donk jangan dibelakang, ba*ci tau gak." Sezha berdiri dari duduknya dengan melipat kedua tangannya didepan dada.


Nova dan teman-teman yang lain mulai menonton debat Arin dan Sezha.


Dalam pikiran Nova merasa aneh dan bingung dengan sikap Arin dan Lala, baru kemarin mereka memuji Sezha tapi hari ini Arin dan Lala tidak bersikap demikian.


"Bukannya kemarin Arin dan Lala begitu muji Sezha banget ya, kenapa hari ini berubah ?" Gumanya heran.


Nova sedang mencerna, Lala menepuk pundaknya pelan.

__ADS_1


"Nov.."


"Eh iya La." Nova sadar.


"Bantuin Arin tuh, lagi debat sama Sezha. Aku takut kalo mereka sampe cekcok bisa dipanggil pak Abram ntar, berabe urusan." Lala panik karena Arin dan Sezha mulai bersitegang.


"Yaudah yuk kita pisahin." Ucap Nova beranjak dari duduknya.


Nova dan Lala berusaha melerai debat antara Arin dan Sezha.


"Udah Rin, udah..kamu kembali ke meja kamu ya. La, tolong bawa Arin." Pinta Nova.


"Ya Nov, yuk Rin. Gak usah diladeni si Sezha buang-buang tenaga. Mending kita duduk, bentar lagi pak Abram masuk." Ajak Lala.


"Bener kamu La, buang-buang waktu ngeladeni orang kayak gini. Gak ada gunanya." Ucap Arin masih dengan raut wajah kesal.


"Huh hello, kalian tuh yang gak ada gunanya makanya jadi orang jangan sirik." Sindir Sezha lagi gak mau kalah.


"Udah donk Zha, please." Nova menengahi.

__ADS_1


"Huh." Dibalas sikap angkuh Sezha.


__ADS_2