MAMA

MAMA
Bab 264


__ADS_3

Sezha masuk ke kamar rawat Ega dengan membawa 2 bungkus nasi dan 2 botol air mineral ukuran besar.


"Ini yah, ibu.." Sezha meletakkan di meja.


Begitu melihat Sezha masuk, Ega menatap Sezha dengan marah.


"Untuk apa kakak kesini ? sebaiknya kakak pergi ! aku gak sudi kakak disini." Ega malah mengusir Sezha dari kamarnya.


Sontak reaksi Sezha kaget mendapati adiknya mengusir dirinya.


"Kok kamu ngusir kakak ?"


"Iya aku usir kakak, sekarang kakak pergi dari sini, pergi ! aku gak mau liat kakak ada disini."


"Ega ! kamu kok gini sama kakak ? kamu sadar gak, kakak ini kakak kamu." Sentak Sezha.


"Gak sudi aku punya kakak seperti kamu, pergi ! ayah, ibu, usir kak Sezha dari sini !"


Ayah mencoba menenangkan Ega yang mulai meningkat emosionalnya.


"Ega, kamu tenang. Ini kak Sezha, kakak kamu. Kamu gak boleh seperti itu."

__ADS_1


"Buat apa aku punya kakak jahat kayak dia, aku gak sudi yah, gak sudi !! pergi !"


Sezha terbelalak, ketika Ega dengan gamblangnya berbicara seperti itu.


Ibu yang memegang piring berisikan nasi untuk diberikan kepada Ega, berusaha menenangkan Ega juga.


"Ega, tenang nak. Ini kakak kamu, kak Sezha."


"Ibu dan ayah sama aja, kalian bela dia ! (Ega menunjuk kearah Sezha dengan lantang). Aku mau dia pergi !"


Ayah dan ibu mulai panik dan bingung, baru saja Ega akan makan tapi tidak jadi karena Ega kembali emosional ketika melihat Sezha masuk.


"Bagaimana ini Bu ? sebaiknya panggil dokter Tio saja." Ucap ayah.


"Ega belum makan Bu, ibu tidak ingat apa kata dokter kalo sebelum minum obat harus makan terlebih dahulu."


"Biar Sezha yang keluar, ayah dan ibu tidak perlu panggil dokter." Sela Sezha.


Sezha menggendong bayinya yang dibaringkan oleh ibunya di kursi yang ada di kamar ini, kemudian ia dengan segera meninggalkan kamar rawat Ega.


Saat akan melangkah keluar, ia teringat dengan uang yang dititipkan oleh Deon untuk diberikan kepada ayah dan ibu.

__ADS_1


"Oh ya Sezha lupa, ini ada titipan dari mas Deon. Uang untuk ayah dan ibu." Sezha mendekat kearah ayah dan ibu yang berada disisi ranjang Ega.


Sezha mendekat, Ega lagi-lagi mengusir. Tersirat kebencian terhadap Sezha.


"Jangan mendekat ! pergi kak, pergi !"


"Gak usah usir kakak, kakak juga akan pergi."


Sezha menggerutu kesal, ia tak sangka Ega mengusir dirinya.


"Kenapa aku diusir sama Ega? heran, emang apa salahku. Ck, aku mau nemui Ratu juga gak bakalan ada jalan keluarnya, intinya tetap aku yang harus tanggung. Tapi gak bisa diem aja liat Ega gitu. Coba aja bisa di pindahkan ke orang lain, pasti Ega gak akan seperti ini."


Sezha menuruni anak tangga, kemudian tidak sengaja ia hampir bertabrakan dengan ibu-ibu.


"Astaga Bu, Lihat-lihat donk kalo jalan. Hampir aja nabrak saya, otomatis anak saya bakalan kesakitan."


"Maafin ibu dek, ibu tadi lihat tangganya jadi ibu gak perhatikan."


"Yaudah lah Bu, lain kali hati-hati. Permisi."


Sezha berlalu menjadi si ibu.

__ADS_1


Ibu ini hanya bisa menghela nafas.


"Zaman sekarang, anak muda jarang sekali menghormati orang tua." Gumam si ibu melihat perilaku Sezha yang mencerminkan sikap kebanyakkan diusia muda jarang ia temui menghormati orang lebih tua.


__ADS_2