
Sezha membuka daun pintu yang terbuat dari kayu.
Setelah dibuka mereka berdua dibikin heran dan bertanya-tanya. Mereka saling melempar pandangan.
"Stop dulu Zha, jangan masuk dulu."
"Ok." Sezha mengiyakan.
"View dari luar bagus sih, tapi kenapa view yang didalam jadul gini Zha ? Aneh gak sih, perasaanku bilang kita harus pulang sekarang Zha. Hayuk kita telpon lagi pak sopir yang tadi buat jemput kita, aku yakin pasti pak sopir itu belum terlalu jauh." Nova mulai panik, ia berbicara berbisik.
"Astaga, astaga, mulai deh parno. Nova ni yang namanya kayak kita dibikin balik ke masa lalu terus kamu liat interior sama furniturenya klasik tau, bernilai sejarah. So jangan bilang kamu takut atau mau pulang ya, coba deh kamu pikir interior klasik gini bagus kan terus ciamik banget, bisa buat spot foto, Nov Nov."
"Iya Zha, tapi tetep aja aneh. Mana sepi banget lagi, kayak gak ada penghuninya ni. Jangan-jangan." Nova curiga dan menduga-duga.
"Sssttt..stop, cukup deh, jangan mikir yang aneh-aneh. Please donk Nov, kita kesini itu pengen liburan bukan jadi julid sama ini tempat, hadeh mau berapa kali sih aku bilang ke kamu." Sezha mulai jengah dengan sikap Nova.
"Iya ya, namanya juga waspada." Nova cemberut.
"Yaudah yuk masuk masa mau disini aja."
__ADS_1
Nova hanya mengangkat kedua alisnya.
Sezha berjalan ke meja resepsionis sedangkan Nova memandangi setiap sudut ruangan ini. Di dalam ruangan ini terdapat beberapa patung, lukisan, kursi dan meja yang memiliki desain tempo dulu. Warna ruangan ini identik dengan warna hitam, putih dan juga cokelat.
Pandangan Nova tertuju pada sebuah lukisan satu keluarga, tergambar di lukisan itu sepasang orang tua dan sepasang anak perempuan.
Nova mendekati lukisan itu, tapi saat Nova akan melihat lebih dekat lukisan itu dari arah belakang ada yang menyapanya.
"Selamat siang menjelang sore mbak." Sapa seseorang.
"Eh iya sore." Balas Nova dengan wajah sedikit kikuk.
Pikiran Nova sibuk menerka-nerka.
"Mbak, mbak." Seseorang ini melambaikan tangan kearah wajah Nova.
"Ma~maaf, saya malah melamun. Hm kalo boleh saya tau kakak ini pegawai disini ya ?" Tanya Nova.
"Iya mbak, perkenalkan nama saya Hanifah, saya bekerja sebagai resepsionis disini. Mbak pasti temennya mbak yang ada disana kan ?" Sambil menunjuk kearah Sezha yang berdiri di dekat meja resepsionis.
__ADS_1
"Iya bener kak, saya temennya."
"Kalo begitu mbak ikut saya ke meja resepsionis, mari."
"Baik kak."
Nova mengikuti dibelakang.
Sesampainya di meja resepsionis, Hanifah bertanya pada mereka berdua.
"Satu kamar sudah saya siapkan, atas nama mbak Sezha. Silahkan mbak membayar administrasinya untuk 5 hari kedepan sebesar 500ribu." Jelas resepsionis.
"Ok 500ribu ya, ini uangnya." Sezha menyerahkan 5 lembar uang pecahan seratus ribu.
"Terimakasih banyak mbak, ini kuncinya dan mari saya antarkan sampai ke kamar." Ucap ramah resepsionis.
"Lho kakak kan resepsionisnya ngapain capek-capek nganterin kita, emang pegawai Persinggahan ini gak ada lagi ya selain kakak ?" Tanya Nova kepo.
"Ada kok mbak, mari mbak saya anter ke kamar." Resepsionis tersenyum.
__ADS_1
Nova menatap curiga pada sosok Hanifah. Ia merasa Hanifah sedang menyembunyikan sesuatu.