
Sezha tidak tau harus kemana, dia memiliki rumah tapi serasa tidak dan Sezha juga memiliki keluarga tapi serasa tidak. Hanya disekolah pikirannya bisa sedikit teralihkan.
Bahkan Sezha sudah melupakan percobaan mengakhiri hidupnya dengan cara menggantungkan diri.
Sezha terus saja menyusuri tepi jalan setapak demi setapak. Ya ia sengaja memilih berjalan kaki, agar ia tidak terlalu cepat sampai kerumah.
Hingga tiba di persimpangan jalan, Sezha pun menghentikan langkanya karena ia melihat ada seorang anak kecil perempuan sedang menangis. Posisi anak perempuan ini tak jauh dari Sezha hendak menyeberang tepatnya di bawah sebuah pohon beringin yang cukup rimbun.
Pohon beringin ini tumbuh di dekat persimpangan jalan. Pohon beringin ini memiliki daun yang cukup rimbun, tapi pohonnya tidak terlalu tinggi bisa dikatakan masih pendek.
"Huhuhuhu...hiks..hiks.." Suara tangisan anak perempuan.
Sezha mendekati anak perempuan yang sedang menangis.
"Dek, kenapa kamu menangis?" Tanya Sezha.
__ADS_1
Anak perempuan ini tidak menjawab pertanyaan Sezha, ia terus saja menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sezha bingung harus apa, Sezha memerhatikan tiap sudut tepi persimpangan ini, tidak banyak orang yang berlalu lalang disini. Walaupun masih siang namun persimpangan ini memang sepi dari pengguna jalan. Sezha tak tau harus bertanya pada siapa mengenai anak ini, karena tidak ada siapapun disekitar si anak perempuan.
"Duh, masih nangis ? ck coba tanyai lagi aja deh kali aja dia mau jawab." Gumam Sezha.
"Dek, apa kamu kesesat ya? kamu gak tau jalan pulang? kalo kakak boleh tau, alamat rumah kamu dimana? nanti biar kakak anterin, daripada kamu nangis disini, sendirian pula. Bahaya buat kamunya." Sezha bertanya lagi.
Percuma, anak perempuan ini tetap tidak mau menjawab. Ia masih terus menangis.
"Huhuhuhu...hiks..hiks.."
Sezha memutuskan untuk meninggalkan anak perempuan ini.
"Dek, kalo kamu gak mau bilang. Yaudah kakak pulang ya. Tapi kamu jangan lama-lama disini keburu sore lho." Ucap Sezha.
__ADS_1
Dengan berat langkah Sezha beranjak meninggalkan si anak perempuan.
Baru beberapa langkah Sezha melangkah, hatinya tak tega jika harus meninggalkan anak perempuan tadi seorang diri.
"Dipikir-pikir kasian juga sih kalo aku tinggalin, mending aku temenin aja kali ya, ya itung-itung ngulur waktu pulang. Ntar kalo kesorean aku tinggal pesen ojol." Sezha mengurungkan niatnya untuk pulang.
Sezha memutar balik langkahnya, saat ia memutar balik si anak perempuan yang menangis tadi sudah tidak ada.
"Lah gak ada (Sezha heran). Kemana perginya tuh anak ? cepet amat perginya ?" Sezha memandangi sekitar pohon beringin sembari bertanya-tanya.
Sezha yang bingung tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
Sezha pun menoleh kebelakang, dilihatnya seorang kakek paruh baya yang menepuk pundaknya barusan.
"Iya kek, ada apa ya ? " Tanya Sezha heran.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini? kakek liat kamu dari tadi berdiri disini sendirian ?" Kakek balik bertanya dengan suara khas pria tua.
"Owh ini lho kek, tadi itu saya lihat ada seorang anak perempuan lagi nangis sendirian disitu tepat dibawah pohon itu kek. Nah saya tanyain eh malah nangis terus, jadi saya mutusin buat ninggalin tapi saya gak tega jadi saya mau nemenin anak itu, namun setelah saya berbalik eh anak perempuan itu udah gak ada, ngilang gitu aja." Jelas Sezha.