
Sezha menunjuk kearah dimana iya melihat anak perempuan yang sedang menangis tadi.
Si kakek tidak memberi jawaban tentang anak perempuan yang Sezha ceritakan, si kakek malah meminta Sezha untuk pulang.
"Sebaiknya kamu pulang saja ya. Kalo begitu kakek permisi dulu." Kakek pamit.
"Iya kek." Sezha mengangguk sambil terbengong.
Sezha merasa hari ini setelah jam istirahat, ia merasa ada kejanggalan yang terjadi di sekitarnya.
"Kok aneh ya, tadi sewaktu ke toilet aku denger anak perempuan ketawa gitu terus tadi di samping warung, baju aku kayak ada yang narik, belum lagi ditambah si ibu warung tiba-tiba lupa, terus yang ini lebih aneh lagi, ada anak perempuan lagi nangis eh ditanyain malah diem aja. Nah yang bikin aku semakin heran ada si kakek tau-tau muncul, kirain kenal ma tuh anak perempuan yang nangis, gak taunya langsung pergi aja. Astaga ah mungkin aku memang harus cepat pulang ni. Aku perlu istirahat." Sezha berbicara sendiri.
Sezha meninggalkan tempat ini, ia pun segera menyebrang melalui persimpangan jalan ini.
Usai menempuh perjalanan yang lumayan jauh karena memang Sezha menempuhnya dengan berjalan kaki, Sezha pun tiba dirumah hampir pukul 5 sore.
Seperti biasa begitu sesampainya dirumah Sezha langsung masuk kedalam kamar. Ia bergegas mandi, tubuhnya serasa lengket dikarenakan keringat yang menempel saat ia berjalan kaki tadi.
__ADS_1
Selesai mandi Sezha berpakaian kemudian berbaring di ranjang.
Sezha masih penasaran dengan 'persinggahan pondok Mak Iyem' itu, entah ada daya tarik apa yang terdapat pada gambar persinggahan ini sehingga membuat Sezha ingin sekali untuk pergi kesana .
"Nomor ponselnya ada, hm apa aku telpon aja ya ? atau langsung datang aja kesana toh juga ada alamatnya disini. Tapi gak mungkin aku sendirian kesana, kalo ngajak Nova kira-kira dia mau gak ya? kebetulan sebentar lagi juga libur, itung-itung nenangin pikiran. Soalnya diliat-liat tempatnya nyaman juga ni, ya walaupun ada agak seremnya juga sih, tapi bodo' ah zaman sekarang mana ada hantu, tahayul doank itu. Yang ada hantu takut sama manusia." Sezha sangat ingin pergi ke persinggahan itu.
Disela Sezha masih sibuk dengan pikirannya tentang Persinggahan itu, ponsel Sezha berdering tertera dilayar ponsel nama 'Nova'.
"Panjang umur ni anak, baru diomongin udah nelpon aja. Yaudah deh angkat, kali aja ada yang penting atau dia masih kepo ya hm Nova, Nova." Gumam Sezha menggelengkan kepalanya.
Sezha mengangkat panggilan telpon dari Nova.
Sezha : " Hallo Nov."
Nova : " Hallo Zha."
Sezha : " Ada apa Nov ?"
__ADS_1
Nova : " Gak, aku cuma mau bilang ada berita mengejutkan ni."
Sezha : " Berita apa emangnya ? jadi penasaran."
Nova : " Ini lho kamu tau Fani Anggraini kan ? anak kelas IPS."
Sezha : " Fani Anggraini hm aku macem kenal deh. Kalo gak salah yang sok kecakepan itu kan, yang kecentilan, terus make up nya yang udah kayak salon berjalan."
Nova : " Nah iya si muka meja rias tu lho. Kamu mau tau berita yang aku dapet dari temen sekelasnya?"
Sezha : " Berita apaan sih ?"
Nova : " Si muka rias tuh, ketauan hamil tau gak terus parahnya dia udah hamil 5 bulan, dan kamu tau siapa yang hamilin dia ? Syahputra, Zha. Astaga gile bener kan. Aku yakin pasti mereka abis ni dikeluarkan dari sekolah terus nikah deh secara hamilnya dah gede gitu, tapi ini ya kenapa baru ketahuan sekarang ya ? hm pinter juga si muka rias tu nyembunyiin perutnya."
Sezha : " Oh ya, yaudah lah biarin aja. Nov maaf ini, perutku mules nanti kita lanjut lagi ya. Bye Nov."
Sezha memutuskan begitu saja sambungnya telponnya tanpa menunggu balasan dari Nova.
__ADS_1
Nova yang masih berada diujung telpon merasa bingung dengan sikap Sezha, tiba-tiba mematikan sambungan telepon mereka sedangkan Nova belum selesai berbicara.
"Ampun deh Sezha, main matiin aja. Masa iya perut bisa tiba-tiba mules. Hm yaudahlah mungkin beneran mules kali. Ahhh gerah, mandi ah biar seger."