
Saat ini Sezha sudah diruangan khusus, dimana biasanya Tukijan melakukan ritual pemanggilan Ratu Ajeng.
"Apa kamu bawa darah yang akan dipersembahkan untuk Ratu ?" Tanya Tukijan berada di sebrang meja ritual.
"Bawa pak, ini." Sezha meletakkan sebuah kantong kresek hitam dia atas meja.
"Bagus, tuang darah itu kedalam mangkuk ini." Titah Tukijan.
"Baik pak."
Sezha menuangkan darah itu kedalam mangkuk yang terbuat dari tanah liat.
"Kita mulai pemanggilan Ratu."
"Iya pak."
Tukijan mulai membakar dupa, menyiapkan beberapa jenis bunga pada wadah tampah.
Tidak butuh waktu lama, setelah aroma dupa menyengat, gumpalan asap hitam memenuhi ruangan tanda Ratu Ajeng telah datang.
"Abdi setiaku untukmu wahai Ratu." Ucap ikrar Tukijan.
__ADS_1
"Abdi setiaku untukmu wahai Ratu." Diikuti Sezha.
Ratu Ajeng menampakkan diri dari dalam gumpalan asap hitam.
"Ada apa perlu apa kalian memanggilku ?"
"Gadis ini menginginkan sesuatu, Ratu." Jawab Tukijan.
Ratu langsung melihat kearah Sezha.
"Mau apa lagi kau hem ? apa masih kurang ?"
"Ampun Ratu, tapi ini tentang istri dari pacar saya Ratu. Rencana mereka akan membawa istrinya untuk melakukan pengobatan alternatif di salah satu pondok pesantren, saya takut Ratu jika sampai istri Deon sembuh, sihir yang sudah dikirimkan akan berbalik pada saya. Tolong saya Ratu, saya tidak mau jika hal itu sampai terjadi pada saya." Sezha mengutarakan keinginannya.
"Hanya semangkuk darah, Ratu. Saya harap Ratu menyukai persembahan dari saya."
Ratu Ajeng menatap kearah mangkuk yang berisikan darah.
"Aku akan menyicipinya dulu, jika aku dahagaku hilang maka permintaanmu akan aku kabulkan."
"Silahkan Ratu." Ucap Sezha menunduk.
__ADS_1
Ratu Ajeng melayangkan mangkuk yang telah berisikan darah, kearah dirinya. Kemudian ia meminum habis darah itu.
Ratu Ajeng merasa puas.
"Nikmat sekali, sering-seringlah kau memberiku minuman senikmat ini."
"Terima kasih Ratu, bagaimana Ratu apakah Ratu berkenan mengabulkan keinginan saya ?"
"Baiklah aku akan mengabulkannya untukmu tapi sihir itu tidak bisa aku hilangkan dari si wanita itu, harus ada pertukaran untuk meletakkan sihir itu."
"Maksud Ratu, pertukaran yang bagaimana ? bukankah menghilang sihir itu sangat mudah bagi Ratu ?" Sezha tercengang.
"Dasar manusia, punya otak tapi gak bisa berfikir. Sihir itu ada karena kau yang meminta. Tukijan meniupkan sihir atas izinku. Sekarang kau menginginkan sihir itu untuk aku ambil kembali, sama saja itu boomerang untukku."
"Ampun Ratu, ampunin saya." Saking takutnya Ratu marah Sezha sampai bersujud.
"Cepat kau putuskan siapa dari salah satu keluargamu yang akan menampung sihir ini agar aku memindahkannya sekarang juga. Waktuku tidak banyak." Tegas Ratu Ajeng.
Sezha nampak kebingungan dengan syarat pertukaran yang diinginkan Ratu, tapi kalo tidak ia lakukan pertukaran maka sihir itu akan berbalik pada dirinya sendiri. Sezha terpikir untuk menukarnya kepada salah satu dari tetangganya.
"Saya berat jika harus menukarkan salah satu dari keluarga saya, Ratu. Jika Ratu berkenan z bagaimana jikalau sihir itu di tukarkan saja kepada tetangga saya."
__ADS_1
"Ha-ha-ha, kau licik sekali. Tidak bisa ! kau harus menukarkan dari keluargamu atau jika dia berhasil sembuh maka sihir ini akan langsung masuk kedalam tubuhmu dan sihir ini tidak akan bisa keluar dari tubuh mu, apa kau mau ? Segera kau sebutkan siapa yang akan menjadi pertukarannya ? cepat !" Ratu Ajeng menolak mentah-mentah pertukaran yang Sezha inginkan, dia tidak tega jika salah satu keluarganya menjadi pertukaran, dia malah tega menukarkan dengan tetangganya.