
Sezha sampai dirumah masih dengan perasaan tidak percaya pada Ega yang mengusir dirinya.
"Ega kenapa tadi usir aku ? bilang aku jahat, apa mungkin Ega tau karena ulahku. Ck mana mungkin, Ega kan kayak kehilangan akal gitu, tapi aneh tiba liat aku, reaksinya langsung marah gitu."
Sezha tengah menerka dalam pikirannya, tentang perilaku Ega yang marah ketika melihatnya, bayinya menangis membuyarkan apa yang ia pikirkan tentang Ega.
"Oek....oekkk....oekkk...."
"Cup...cup...kamu haus ya, sini minum susu dulu." Sezha memangku bayinya untuk ia menyusui.
Bayi Sezha menolak, ia tidak ingin menghis*p pay*dara Sezha. Bayinya menangis.
"Oekk....oekkk...oekk...."
"Lho kok nangis, ini sayang. Katanya tadi haus, kok gak mau nyusu ?"
Sezha menyodorkan pu*ingnya kearah bibir bayi nya.
Walau sudah disodorkan bayinya tetap menolak sembari terus menangis.
"Oekkk...oeekkkkkkk...oekkkkkkk." Tangisan si bayi semakin kenceng.
"Yaudah cup..cup..gak mau nyusu ya, yaudah mama simpen lagi ya, terus kamu mau apa donk ? kamu laper, mau makan ?" Sezha mengancingkan kembali kancing bajunya.
__ADS_1
Si bayi terus menangis, membuat Sezha bingung.
"Duh masih nangis lagi, mana ibu di rumah sakit, makanan bayi apa ya ? hm aku beli aja kali ya diwarung, makanan bayi instan. Soalnya kalo masak aku belum tau. Yaudah deh beli diwarung aja.
Dek, kamu mama tinggal dulu ya. Mama mau ke warung beli makanan untuk adek, adek laper kan ? tapi janji jangan nangis lagi, ok. Mama gak lama kok, deket warungnya."
Sezha mengatakan itu, bayinya bukan diam malah lagi-lagi menangis.
"Oekkkkk...oekkk..oekkkkk...."
"Yaelah dek kalo kamu nangis terus gimana mama mau pergi ke warung, diem donk biar mama ke warung bentar gak lama kok."
Dari kediaman Tukijan, Tukijan mengetahui jika bayi Sezha menangis. Ia pun pergi kerumah Sezha.
Sukma Tukijan telah sampai dan mengatakan.
"Ya ampun, bapak. Kebiasaan muncul selalu tiba-tiba, untung jantung sama umur masih sinkron kalo gak bisa UGD aku, kena serangan jantung dadakan." Keluh Sezha.
"Jangan banyak mengeluh, cepat segera kamu beri makanan untuk bayimu."
"Ya pak, masalahnya saya mau pergi ke warung, tapi bayi saya malah nangis mulu. Hm bapak bisa jaga bentar ? saya mau kewarung, deket kok pak." Sezha meminta Tukijan untuk menjaga bayinya.
"Untuk apa kamu ke warung ?" Tanya Tukijan.
__ADS_1
"Ya beliin makanan untuk si adek, pak. Jadi mau beli apa lagi."
"Dasar otak dangkal, kamu kira bayimu itu sama dengan bayi manusia, beda. Yang dia butuhkan bukan makanan yang tersedia diwarung, tapi berikan dia daging mentah yang masih segar, itu makanannya."
"Hah ? daging mentah ? what ? pak, masih bayi lho pak kok daging mentah. Jangan ngaco deh pak, gak masuk akal banget." Sezha tercengang dan menganggap Tukijan mengada-ada.
"Jangan ngeyel kamu, segera carikan daging segar untukmu makan atau dia tidak akan berhenti menangis."
"Ihh aku bingung pak, apalagi sih ini ? ya ampun." Sezha pusing.
"Dengarkan baik-baik, bayimu sudah mulai ingin makan dan makanannya itu berbeda dengan bayi manusia, beri dia setiap hari potongan daging mentah segar, cukup beri 1kali 1hari."
"Astaga, saya harus cari dimana pak ? masa tiap hari saya harus ke pasar buat cari daging mentah segar." Sezha lemas.
"Itu sudah tanggung jawab mu sebagai ibunya, segera kamu carikan daging segar untuk di makan oleh bayimu. Saya pamit."
Tukijan menghilang.
"Tuh kan selalu, muncul tiba-tiba ngilang juga tiba-tiba. Mana harus cari daging segar lagi, ya ampun dek, dek, kamu seleranya ada-ada aja. Kalo gini yang ada mama pusing. Yaudah deh kalo gitu, kamu tunggu disini ya, mama mau ke pasar cari daging buat kamu tapi jangan nangis ntar tetangga julid pada kesini terus banyak tanya deh, oke."
Mendengar kata daging, seketika bayinya berhenti menangis lalu mengerti ucapan Sezha yang pergi, si bayi pun mengangguk.
"Emang kamu ya, langsung diem hadeh. Kalo gitu mama berangkat ya, jangan nakal dirumah. Tetap dikamar sampe mama pulang."
__ADS_1
Si bayi kembali memberi anggukan mengerti.
Sezhapun meninggalkan bayinya, ia pergi kepasar untuk mencari daging mentah segar.