
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, tepat pukul 5 sore mereka tiba di rumah Nova.
Pak sopir memberhentikan taksinya.
"Baik mbak, kita sudah sampai." Ujar pak sopir.
"Alhamdulillah." Ucap Nova.
Dilihatnya Sezha masih tertidur pulas, ia pun membangunkan Sezha.
"Zha, bangun Zha. Kita udah sampe ni."
Sezha terbangun dari tidurnya.
"Hoammm udah sampe ya." Ciri khas orang baru bangun tidur.
"Iya, tapi dirumahku." Tandas Nova.
"Yaudah deh, aku juga masih malas pulang kerumah."
Disela obrolan mereka berdua pak sopir berdehem.
"Ekhem..maaf mbak-mbak apa bisa obrolannya dilanjutkan setelah turun dari taksi. Soalnya saya harus segera menuju ke tempat lain, sudah ada yang memesan dari aplikasi." Tegur pak sopir.
"Astaga pak, gitu amat baru juga ngomong bentar udah diusir aja suruh turun kayak kita gak bayar aja." Nova protes dengan sikap pak sopir.
"Sekali lagi maaf mbak, saya bukan sopir pribadi yang memiliki banyak waktu luang." Tutur pak sopir sambil tersenyum tenang.
Sezha yang melihat Nova akan membalas perkataan pak sopir, ia mengajak Nova untuk turun dari taksi.
"Udah ah Nov yuk kita turun lagian udah sampe juga jadi ngapain coba kita di dalam taksi." Sezha menengahi.
"Ck, iya iya. Berapa ongkos pak ?" Tanya Nova sembari berdecak.
__ADS_1
"Sesuai argo mbak 450ribu." Jawab pak sopir.
"Ini uangnya pak, makasih." Nova memberikan uang ongkos dengan nada bicara sedikit ketus.
"Terimakasih mbak."
Sezha dan Nova pun turun setelah membayar ongkos.
Usai mereka turun, sopir melajukan taksinya.
Nova mengajak Sezha untuk masuk kedalam rumahnya.
"Zha, masuk yuk. Aku mau rebahan di kamar ngelurusin tulang-tulangku yang terasa krepek-krepek ni."
"Gak apa-apa ni Nov, gak usah deh aku langsung pulang aja. Aku istirahat dirumah." Sezha enggan menerima ajakan Nova.
"Lah tadi kata kamu belum mau pulang dulu kenapa sekarang buru-buru mau pulang sih?"
"Hm yaudah deh, mau aku anter ni?"
"Gak usah makasih, aku udah terlalu banyak ngerepotin kamu. Aku pulang naik becak aja."
"Ongkos kamu ada ?"
"Hehehe pinjem dulu Nov uang kamu nanti aku ada uang pasti aku kembalikan."
"Santai aja kali Zha, ada sih tapi cuma 50 ribu ni cukup kan buat ongkos becak ?" Nova memberikan pada Sezha.
"Cukup kok, kan gak jauh amat pasti abang becaknya mau. Aku pake dulu ya Nov uang kamu."
"Iya, nah itu bang becak." Nova melihat ada becak motor lewat.
"Becak !" Sezha menoleh dan langsung memanggil.
__ADS_1
Mendengar ada yang memanggilnya, becak motor menepikan becaknya di dekat mereka berdua.
"Becak mbak ?" Tanya bang becak memastikan.
"Iya bang, kalo ke jalan xxx ongkosnya berapa bang?" Tanya Sezha.
"40 ribu mbak." Jawab bang becak.
"Gak 30 ribu bang, deket sini doank." Nova coba menawar.
"Ya ampun Nov make nawar." Sezha menggelengkan kepalanya.
"Elah Zha ni itu bukan nawar tapi nego. Ya gak bang." Tepis Nova.
"Sama aja mbak, toh minta kurangi ongkos kan. 40 ribu gak kurang mbak, emang segitu ongkosnya." Bang becak tidak mau menurunkan tarif ongkosnya.
"Ya deh." Nova mengalah.
"Ok Nov, aku pulang ya. Bye Nov." Sezha naik ke becak.
"Bye, hati-hati dijalan. Bang bawa becaknya jangan ngebut-ngebut ya." Nova mengingatkan bang becak.
"Tenang mbak paling lari 100." Ledek bang becak menahan tawanya.
"Astaghfirullah, awas ya bang kalo temen saya kenapa-kenapa bakalan saya cariin abang sampe dapat." Nova jengkel.
"Aihhh Nov, Nov..abang becak cuma becanda kali Nov. Emosian banget kamu dah." Sezha menghela nafas.
"Bisa kita berangkat mbak ?" Tanya bang becak di sela pembicaraan mereka.
"Iya bang kita jalan. Dah Nov." Sezha melambaikan tangannya.
"Dah."
__ADS_1