
Malam harinya sukma Tukijan hadir di kamar Sezha.
"Ada perlu apa kamu memanggil saya ?"
Sezha mendengar suara Tukijan.
"Saya ingin meminta bantuan bapak lagi."
"Bantuan apa ? bukankah tadi sudah kamu lihat tetangga kamu menggelepar di lantai."
"Iya saya tau pak, saya ucapkan banyak terimakasih. Tapi ini bukan perihal tetangga saya melainkan istri dari calon suami saya, pak."
"Mau kamu apakan dia ?"
"Saya ingin membuat dia seperti orang gila, pak. Tidak mengenali siapa dirinya, anaknya dan tentunya suaminya sendiri."
"Saya bisa melakukan itu tapi jika dia berhasil sembuh maka semua yang saya kirimkan ke dia akan berbalik pada kamu. Apa kamu siap dengan resikonya ?"
"Saya yakin dia tidak akan bisa sembuh karena saya percaya bapak adalah dukun sakti yang pernah saya kenal."
"Baiklah, berarti kamu sudah siap dengan resikonya. Saya pergi." Tukijan sekejab menghilang.
Seperginya sukma Tukijan, Sezha merasa sangat puas. Karena semua yang dia inginkan terjadi.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa melihat istri Deon menderita. Itu balasan untuk orang yang berani mengusikku."
Sukma Tukijan telah mengetahui tempat tinggal istri Deon tanpa Sezha memberitahu.
Sukma Tukijan membidik kepala istri Deon dengan sebuah jarum ghaib.
Dengan sekali bidik, jarum ghaib itu berhasil menancap dan masuk kedalam kepala istri Deon.
Usai berhasil sukma Tukijan pun pergi dan kembali ke kediaman nya.
Istri Deon dalam hitungan tidak sampe 5 menit, mendadak tertawa dengan kerasnya sekaligus mengacak-ngacak rambutnya sendiri sembari mengatakan.
"Mas Deon, hihihahahaha kamu dimana ? mama kangen hihihahahaha." Istri Deon seperti orang yang tidak waras.
"Kakek, nenek, mama.." Anak sulung panik.
"Kenapa mama ?" Tanya nenek.
"Mama tiba-tiba ketawa terus cari papa." Jawab polos si sulung.
"Yaudah yuk kita lihat mama." Nenek dan kakek keluar dari kamar dan menuju kamar dimana istri Deon berada. Sebut saja nama istri Deon adalah Nina.
Kakek dan nenek kaget ketika melihat Nina seperti orang yang tidak waras.
__ADS_1
"Astaghfirullah, sadar nak, sadar." Nenek berlari mendekati Nina.
"Eh ibu, hm emang Nina kenapa Bu ? kayaknya Nina baik-baik aja kok."
"Sadar tidak kamu, kamu seperti orang gi*a."
"Hiks ibu jahat, masa Nina dibilang gi*a. Ibu jahat, sama seperti mas Deon." Nina berubah sedih.
"Istighfar nak, istighfar. Kamu jangan seperti ini, pikirkan kedua anak kamu."
"Istighfar ? hm itu sejenis makanan ya Bu hihihahahaha, pasti enak ya Bu. Mau donk Bu, Nina laper."
"Duh gimana ni pak, Nina ?" Nenek bingung dan bertanya pada kakek.
"Kita panggil dokter aja Bu, kali aja Nina syok karena mengetahui kebenaran yang Deon lakukan selama ini." Kata kakek menyarankan.
"Yaudah pak, bapak coba cari dokter yang mau datang kerumah karena tidak mungkin kalo Nina kita bawa keluar dengan kondisi tidak stabil begini."
"Iya Bu, bentar bapak pergi dulu. Jaga Nina ya.
"Pak bawa mereka, ibu gak mau mereka sedih melihat mamanya seperti ini." Nenek meminta kakek untuk membawa kedua cucu mereka.
"Yaudah yuk ikut kakek, kita cari dokter buat sembuhi mama ya." Ajak kakek kepada kedua anak Nina.
__ADS_1
"Iya kek, kami ikut." Jawab berbarengan kedua anak Nina.