MAMA

MAMA
Bab 5


__ADS_3

Pagi ini ibu mertua datang dengan adik iparku, karna bapak mertua sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. beliau membawa rantang berisi setumpuk makanan serta tas selempang besar di pundaknya. suamiku ikut membantu ibu mengeluarkan isi dari dalam rantang susun itu.


Ibu menghampiriku di dekat ranjang, tangan hangatnya menggenggam tanganku.


"Gimana keadaanmu sekarang nduk, masih lemes?" tanya ibu dengan logat jawanya yang khas,


"Alhamdulillah nggak terlalu buk, cuma mual aja masih sering datang", ujarku lirih


"Ya, bawaan bayi beda-beda nduk, dulu ibuk waktu ngandung suamimu juga nggak bisa apa-apa, cuma di kasur, ngguling-ngguling, tiduran, tapi masuk 4 bulan alhamdulillah nafsu makan makin bertambah sampe ibu ini gendut nduk sampe sekarang" ia tertawa sambil menunjukkan tubuhnya yang bulat berisi, aku turut tersenyum.


"Endut tapi tetep cantik kok dan bapak tambah sayang buk, hhhe, jadi kelihatannya bahagia terus"


"Alhamdulillah nduk setelah adikmu lahir, bapak makin sayang dan tambah betah dirumah sampe sekarang" ujar ibuku sambil menunjuk adik iparku yang duduk di kursi pojok.


"O, iya ini tadi ibuk masakin sup ikan nila kesukaanmu, terus ada ayam goreng lengkuas sama tempe orek dan ada telur dadar", kata ibuk sambil memilah-milah makanan yang tadi beliau bawa.


Lambungku gemericik. Semoga rasa lapar ini mengalahkan rasa mual yang masih betah singgah setiap harinya.

__ADS_1


"Ibuk suapin ya nduk, Bismillah aja, semoga bisa masuk perutmu, kasian kalau ga di isi, nanti kamu ga pulih-pulih", ujar beliau sambil memasukkan makanan dalam piring kosong.


Pelan-pelan ibuk menyuapiku dengan telaten, mual mulai menyapa, tapi ada rasa lega saat suapan pertama, aroma dan hangatnya sup ikan ini membuatku benar-benar berselera untuk makan.


"Hmmmmm enak banget buk"


Beliau tersenyum senang sambil memilahkan ikan untuk ku makan.


Sesuap dua suap, Perutku sedikit begah. Ku rasa sudah cukup kenyang untuk pagi ini. Tanganku reflek ke depan mulut, ku coba kuat menahan rasa mual, perlahan dapat ku tahan, dan... Yes Alhamdulillah bisa ku kendalikan untuk tidak di muntahkan.


Ibu menaruh piring dengan makanan yang masih tersisa di atas meja, ku lihat rautnya, mungkin beliau memahami rasa hamil muda seperti apa, jadi beliau tidak memaksaku untuk menghabiskan makanan itu.


"Gausah buk, insya Allah ara baik-baik aja, ibuk nanti malah kecapean buk, ara ga mau ibuk malah drop kondisinya gara-gara ngurusin ara", lirihku.


Ku tahu kondisi ibuk saat ini memang naik turun, usianya yang tak lagi muda sangat memungkinkan untuk beragam penyakit datang.


"Nggak nduk, nggak papa, ibuk nggak capek kok, nanti kalau capek ya ibuk istirahat" ujarnya dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Sudahlah buk, beneran ara udah lumayan baikan ini" sambil ku sandarkan bahuku pada bantal yang di tumpuk tiga. Ku genggam tangannya yang hangat dan mulai berkeriput.


Sambil menunggu suami dan adik iparku menebus obat di apotik ibuk bercerita jika dulu masa kecilnya penuh perjuangan, aku mendengarkan cermat, tampak raut muka ibuk menunjukkan rasa yang begitu dalam.


Aku tahu bagaimana rasanya berjuang, dan saat-saat orang tercinta hilang dengan dunia mereka masing-masing.


Ibuk pun pernah mendengarkan kisah pilu hidupku dari suamiku saat sebelum kami menikah, ntahlah suka atau tidak suka ku harap ibuk bisa menerima keadaanku saat itu,


dan di luar dugaan, ternyata ibuk dan bapak dari suamiku memberikan restunya kepada kami untuk menikah. Ku kira mereka akan menolak karna keadaanku terlahir dari keluarga yang kacau.


Beliau melanjutkan cerita sambil sesekali buliran bening jatuh tanpa permisi di pelupuk matanya. Ada rasa haru saat ibuk mengatakan dulu kondisi keluarga benar-benar stuck tak ada keuangan sedikitpun, sampai ada orang lain ingin mengangkat suamiku sebagai anak angkatnya. Untung saat itu ibuk tetap teguh mempertahankan anak-anaknya agar tetap ikut beliau. Bagaimanapun beliau selalu percaya setiap anak ada rezekinya masing-masing.


"Jadi nduk, apapun yang terjadi anak itu adalah anugerah ya. Kamu gausah kesel atau mengkel kalau mualmu ini sangat menyiksa. Ibuk tau, ibu sudah berpengalaman punya 3 anak, dan ngalamin mual parah kayak kamu, ya nikmatin aja. Anak yang kamu kandung ini anugerah, dan ga semua orang bisa merasakan itu. Ya ibuk cuma bisa berdoa aja semoga anak yang kamu kandung ini jadi anak yang soleh dan berbakti sama orang tua. Selebihnya kamu selama 9 bulan ini jalani dulu masa-masa mengandung. Di nikmati, jangan jadiin beban. Insya Allah itu bakal jadi kadang pahala buatmu nduk", ujar ibuk mengingatkan kesadaranku. Aku mengangguk dalam, ada kekuatan menjalar dari diri ini. Apa yang ibuk katakan semua benar.


"Yaudah ibuk mau siap-siap buat pulang, sambil nunggu suami dan adikmu kelar dari apotik. Takut bapakmu udah nunggu di rumah ya. Ibuk mau ke kamar mandi sebentar nduk", Beliau melangkah ke arah kamar mandi, sedang aku lagi-lagi dibuat terkesiap oleh sikap ibuk yang begitu menghormati bapak.


Aaaaahhhhh, aku pun ingin belajar seperti beliau yang melaksanakan bakti untuk suami dan menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2