MAMA

MAMA
Bab 24


__ADS_3

Malam harinya Sezha merasa gelisah, tepat pukul 11 malam Sezha seperti tidak sendirian di dalam kamar.


Suasana kamar menjadi lebih dingin dari biasanya. Bulu kuduk Sezha juga mulai merinding.


"Aneh, kok aku ngerasa merinding gini. Masih juga jam 11 malam, dan diuar gak lagi ujan."


Sezha menutupi tubuhnya dengan selimut.


Pintu kamar mandi Sezha terbuka sendiri.


Krek..


"Siapa disana ?!" Seru Sezha masih diatas ranjang.


Sezha bersuara cukup keras namun tidak ada jawaban.


"Jangan-jangan ada maling lagi masuk kamarku ? gawat ni pasti dia sembunyi dibalik pintu kamar mandi. Liat aja aku gebukin kalo bener maling. Oh ya, untung aku ada simpan pukulan bola kasti. Aku pukul kepalanya pasti tepar tuh maling."


Sezha mengendap-endap dan membuka lemari bajunya, Sezha mengambil sebuah pemukul bola kasti.


Setelah memegang pemukul bola kasti, Sezha perlahan-lahan mendekati kamar mandi.


Sezha pelan membuka pintu kamar mandi tentunya waspada.

__ADS_1


Begitu pintu terbuka tidak ada siapapun di dalam kamar mandi.


"Gak ada siapa-siapa, apa angin ya ?" Sezha memperhatikan tiap sudut kamar mandinya dengan kebingungan.


Sezha yang masih bingung mendadak terdengar suara tawa anak perempuan seperti sedang bermain.


"Hahahhaa... hihihiiiii.. hahaha...hihihi.."


Sezha dengan cepat memutar balik tubuhnya. Sezha melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat ada sesosok anak perempuan sedang berlarian riang di dalam kamarnya.


Dengan rasa was-was, jantung berdegup kencang, mulutnya serasa terkunci, Sezha memberanikan langkahnya untuk menghampiri sosok anak perempuan ini.


Sosok anak perempuan ini pun berhenti berlarian, dan ia berdiam diri di sebelah ranjang Sezha. Sosok anak perempuan ini membelakanginya Sezha.


Sezha mengumpulkan keberaniannya, Sezha sudah semakin dekat dengan anak perempuan ini.


"Hiks..hiks..hiks.."


Saat sosok anak perempuan ini menangis seketika Sezha ingat dengan anak perempuan yang menangis sewaktu ia di persimpangan tadi dan anak yang ada di kamarnya sama persis dengan yang ia temui tepat dibawah pohon beringin tadi sore.


Sezha memberanikan dirinya untuk mengeluarkan suaranya.


"Ka-kamu bukannya adek yang nangis tadi kan ? ma-mau apa kamu kesini dan bagaimana bisa kamu masuk ke kamar ini ?" Sezha terbata bercampur rasa takut.

__ADS_1


Anak perempuan ini tidak menjawab, ia terus menangis.


"Hiks..hiks..hiks.."


Sezha menelan salivanya, dengan degup jantung yang semakin berdegup kencang Sezha semakin mendekati sosok anak perempuan ini.


Sezha ingin memegang pundak sosok anak perempuan ini. Sezha ingin melihat wajah dari anak perempuan ini.


Sedikit lagi jemari Sezha meraih pundak sosok anak ini, anak perempuan ini sudah terlebih dahulu berbalik menghadap ke arah Sezha.


"Adik, kakak mau adik.." Kepala anak perempuan menunduk sambil mengarahkan tangannya ke arah perut Sezha.


Sezha yang tercengang sampai terduduk di lantai, Sezha tidak dapat berteriak. Suaranya seperti hilang.


Sezha hanya membelalakkan kedua bola matanya lebar tanpa dapat bergerak.


Sosok anak perempuan ini dengan cara melayang mendekat kearah Sezha yang terduduk dilantai.


Sosok anak perempuan ini mengungkapkan perkataan yang sama.


"Adik..kakak mau adik..beri kakak adik."


Semakin anak perempuan ini mendekat, Sezha akhirnya dapat mengeluarkan suaranya yang tertahan.

__ADS_1


"Pergi kau, pergi !" Sezha sedikit berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Anak perempuan ini menghilang dari hadapan Sezha.


__ADS_2