
"Huh bosan hidup rupanya kalian ! baiklah akan aku percepat kalian untuk menghadapi kematian."
Ratu Ajeng menatap bulek Sukini dan Nova dengan tatapan membunuh.
"Coba saja, setan seperti kau tidak akan bisa mencabut nyawa manusia. Aku yakin Gusti Allah pasti menolong kami !" Balas bulek dengan rasa berani.
"Jangan sebut nama selain namaku !"
Ratu Ajeng penuh rasa amarah menghempaskan ekornya kearah bulek Sukini dan Nova.
Hempasan ekor Ratu Ajeng begitu kuat, bulek dan Nova pun terpental ke belakang menuju ke semak-semak dimana yang tempat awal mereka bersembunyi.
"Rasakan akibat berani melawanku." Ucap Ratu Ajeng dengan wajah bengis.
Bulek Sukini dan Nova pun tak sadarkan diri, mereka berdua tergeletak di dalam semak-semak.
Mak Iyem memerintahkan Desi dan Hanifah untuk menangkap bulek Sukini dan Nova.
"Kalian berdua berdiri, tangkap dan kurung mereka." Titah Mak Iyem'.
"Njih Mak."
Desi dan Hanifah berdiri kemudian beranjak menuju ke semak-semak dimana bulek Sukini dan Nova terhempas.
__ADS_1
Namun ketika mereka berdua akan mendekati semak-semak untuk menangkap bulek dan Nova, Ratu Ajeng memerintahkan untuk tidak memperdulikan bulek dan Nova.
"Sudah hentikan, buang-buang waktu. Biarkan mereka tetap disana. Waktu ku tidak banyak, bulan purnama sebentar lagi akan tertutup. Lanjutkan saja pengambilan janin itu dari rahim wanita ini."
"Perintahmu akan aku turuti Ratu Ajeng." Sambung Mak Iyem'.
Desi dan Hanifah kembali ke posisinya semula, mereka berdua tidak jadi menangkap bulek dan Nova.
Mak Iyem beranjak dari posisi berlututnya tadi, kemudian ia memposisikan dirinya tepat dibawah kedua kaki Sezha.
Sebelum ia melakukan proses pengambilan janin dari rahim Sezha, terlebih dahulu Mak Iyem' menyuruh Hanifah untuk membuka celana yang masih dikenakan oleh Sezha.
"Kau, kesini dan bukakan penghambat ini." Titah Mak Iyem'.
"Njih Mak."
Mak Iyem naik di atas ranjang papan, lalu kedua tangan Mak Iyem' memutar-mutar diatas perut Sezha, sembari mulutnya komat-kamit seperti membaca sebuah mantra.
Mak Iyem terus memutarkan kedua telapak tangannya diatas perut Sezha.
Sezha yang biarpun tidak sadarkan diri tetap merasakan sakit yang teramat dibagian perutnya.
Sezha sontak berteriak sekencang-kencangnya.
__ADS_1
"Ahhhhhhhhhhhh....." Usai berteriak melengking Sezha kembali tak sadarkan diri.
Ternyata sebuah gumpalan merah darah pekat berhasil keluar dari kemalu*n Sezha.
Mak Iyem dengan raut wajah puas segera mengambil gumpalan darah itu sembari tertawa jahat.
Ekspresi Ratu Ajeng pun juga sama dengan Mak Iyem.
"Bagus hahahhaa....telanlah secepatnya tanpa kau harus mengunyahnya." Perintah Ratu Ajeng.
"Baik Ratu, hamba akan segera memakannya sekarang."
Mak Iyem membuka lebar mulutnya, kemudian memasukkannya langsung kedalam mulut mendekati tenggorakannya, setelah itu Mak Iyem' menelan tanpa ia kunyah.
"Sudah hamba telan."
"Sekarang, buang manusia yang sudah tidak berguna ini." Ratu Ajeng memerintahkan untuk membuang Sezha.
"Baik Ratu."
Mak Iyem turun dari ranjang papan, lalu menyuruh Desi dan Hanifah untuk mencampakkan Sezha juga kedalam semak-semak.
"Kalian, campakkan dia di dekat kedua orang tadi."
__ADS_1
"Njih Mak."
Desi dan Hanifah melepas ikatan Sezha setelah itu Sezha di geret menuju ke semak-semak.