MAMA

MAMA
Bab 125


__ADS_3

Usai berbincang dengan Arin melalui ponsel, bulek Sukini kembali ke sawah sebab pak Kasan masih disana.


Bulek Sukini melewati jalan setapak persawahan, disaat akan mendekat dengan pak Kasan yang duduk di saung, secara mendadak kaki kiri bulek Sukini tergelincir dan bulek pun terjatuh masuk kedalam sawah kemudian kepala bulek membentur batu, dari kepala belakangnya keluar darah karena benturan yang cukup keras, tanpa bisa mengeluarkan suara bulek pun tak sadarkan diri.


Salah satu petani yang juga teman pak Kasan yaitu pak Asrun melihat bulek Sukini tergelincir, ia pun langsung berteriak memanggil pak Kasan.


"Pak Kasan !! bojo'e bapak tibo iku !"


Pak Kasan menoleh kearah orang yang memanggilnya.


"Ngendi toh ?!"


Pak Asrun secepatnya berlari untuk menunjukkan pada pak Kasan, karena sawah mereka juga saling berdekatan.


"Tekan kene pak Kasan !" Panggil pak Asrun.


Pak Kasan bergegas menghampiri temannya yang menunjukkan, betapa sangat terkejut pak Kasan melihat istrinya tergeletak di dalam sawah.

__ADS_1


"Astaghfirullah ! Bu !" Seru pak Kasan.


Pak Kasan segera mengangkat bulek Sukini dan secepatnya membawa pulang kerumah. Pak Asrun mengikuti dari belakang.


Sesampainya dirumah, pak Kasan langsung membaringkan bulek Sukini di ranjang. Setelah dibaringkan, pak Kasan mengoleskan minyak angin ke lubang hidung bulek Sukini, berharap agar bulek Sukini segera sadar.


Bulek Sukini tak kunjung sadar, pak Kasan memeriksa denyut nadi dan detak jantung bulek Sukini, pak Kasan memeriksa berkali-kali namun ia tidak merasakan adanya detak jantung maupun denyut nadi yang pak Kasan rasakan.


"Bu...bangun Bu..iki bapak iki, Ya Allah ana opo karo bojoku ?" Pak Kasan mengusap lembut wajah bulek sambil menahan bulir air mata agar tidak terjatuh.


Sementara pak Asrun menyarankan untuk memanggil perawat puskesmas agar bisa memeriksa bulek Sukini.


"Ndak usah pak." Pak Kasan terisak.


"Lho nopo pak Kasan ? kan men wero opo sing loro ngono lho pak." Kata pak Asrun.


"Ndak usah, bojoku wes lungo pak."

__ADS_1


"Lungo piye pak ?" Tanya pak Asrun.


"Bojoku wes ora eneng, pak Asrun." Air mata pak Kasan pun tidak terbendung.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Se' yo pak aku ra' manggil kiayi Eman." Pak Asrun bergegas pergi guna memanggil seorang kiayi yang ada di desa ini.


Pak Kasan mulai terisak sesegukan, sambil memegang erat tangan bulek Sukini.


"Bu..bangun..toh Bu, iki bapak hiks. Ojo ninggalin bapak koyo ngene toh Bu, bapak dewek'an iki." Pak Kasan merintih sedih.


Bulek Sukini tak kunjung membuka mata, ya bulek Sukini begitu tergelincir dan jatuh kemudian kepala bagian belakang terbentur batu, disaat itu bulek Sukini menghembuskan nafas terakhirnya.


Tanpa pak Kasan sadari di dekat pintu kamarnya sosok arwah anak perempuan Mak Iyem hadir dengan menggendong arwah bayi Sezha.


Ia tersenyum seram sambil melihat kearah bulek Sukini yang sudah terbaring tidak bernyawa.


Ternyata hilangnya nyawa bulek Sukini bukan murni karena takdir, itu karena ulah jahat dari arwah anak perempuan mak Iyem.

__ADS_1


Ia sengaja mendorong bulek Sukini hingga terjatuh ke sawah. Sosok arwah anak ini tidak ingin jika banyak yang mengetahui mengenai Sezha.


Usai memastikan bulek Sukini sudah berhasil ia celakai, ia pun menghilang pergi dari kediaman bulek Sukini dan pak Kasan.


__ADS_2