
Malam ini adalah malam puncak ritual, Sezha sudah tiba dirumah Tukijan tepat pukul 10 malam. Tukijan mengajak Sezha ke sebuah ruangan, ya ruangan ini adalah ruangan khusus Tukijan untuk melakukan ritual pemujaan kepada Ratu Ajeng.
"Kamu pakai jubah ini." Perintah Tukijan.
Sebelum Sezha mengenakan jubah ini, ia penasaran dengan ruangan ini. Ia pun menanyakan perihal ruangan apa ini.
"Hmm pak, ini ruangan apa ?" Tanya Sezha sembari memperhatikan tiap sudut ruangan yang bernuansakan warna hitam.
"Ini ruangan khusus untuk melakukan pemujaan, nanti kamu akan tau. Sudah cepat kamu kenakan jubah hitam ini sekarang."
"Iya pak."
Sezha dengan wajah cemberut mengenakan jubah hitam ini.
Usai mengenakannya, Tukijan menyuruh Sezha untuk duduk bersila di dekat meja yang diatasnya sudah ada bakaran dupa dan kemenyan.
"Mulai malam ini, kamu harus mengucapkan ikrar setia pada Ratu Ajeng."
"Ikrar setia ? Ratu Ajeng ? siapa Ratu Ajeng yang bapak maksud ?" Tanya Sezha bingung.
"Ratu Ajeng adalah sosok yang membantu kamu melewati semua masalah kamu, asal kamu tau kekuatan sakti saya itu juga berasal dari bantuan Ratu Ajeng."
__ADS_1
"Pasti hebat ya pak, si Ratu Ajeng itu. Woah saya makin penasaran gimana wujud Ratu Ajeng."
"Tentunya kekuatan Ratu Ajeng tiada yang bisa menandinginya, Ratu Ajeng adalah penguasa alam ghaib dengan pengikut setia yang berjumlah cukup banyak, pengikut setia Ratu ada diberbagai kota maupun pelosok desa." Tukijan membanggakan sosok Ratu Ajeng.
"Berarti saya bisa minta apa aja kan pak sama Ratu kalau saya udah ucapin ikrar setia gitu." Sezha antusias.
"Itu hal yang sangat mudah bagi Ratu, tapi Ratu juga tidak akan main-main jika sudah mengucapkan ikrar setia ternyata orang itu berpaling maka nyawa taruhannya."
"Iya pak saya ngerti, saya gak akan macem-macem. Saya mah nurut orangnya." Sezha menelan salivanya.
"Sudah cukup ngobrolnya, sekarang saya akan memulai pemanggilan Ratu Ajeng kesini. Selama pemanggilan Ratu Ajeng, kamu tidak diizinkan untuk menengadahkan kepala, kamu hanya boleh tertunduk dan cukup katakan apa yang kamu inginkan tapi sebelumnya kamu harus mengucapkan ikrar janji setia sampai mati pada Ratu Ajeng."
Tukijan pun mulai memanggil Ratu Ajeng untuk hadir.
Mulut Tukijan komat-kamit tidak jelas, dan tak lama kemudian gumpalan asap memenuhi seisi ruangan ini. Gumpalan asap ini menandakan jikalau Ratu Ajeng sudah tiba.
"Selamat datang, wahai Ratu Ajeng. Abdi setiaku untuk Ratu." Tukijan duduk bersimpuh.
"Ada apa kau memanggilku ?" Tanya Ratu Ajeng .
"Ampun Ratu, aku telah lancang menggangu waktu istirahatmu tapi aku ingin memberitahukan pada Ratu jika aku membawa seorang gadis yang ingin menemui Ratu dan tentunya juga akan menjadi pengikut setia untuk Ratu."
__ADS_1
Ratu Ajeng menatap Sezha tajam sembari Ratu Ajeng tersenyum miring, kemudian beralih ke Tukijan.
"Apa kau yakin kalo dia akan setia padaku ? kau sudah beritahu pada manusia ini jika setengah-setengah dalam memujaku, maka aku akan menghabisinya detik itu juga tanpa ampun."
"Aku yakin Ratu, Ratu tidak perlu meragukannya."
"Buktikan dihadapan ku." Titah Ratu ingin melihat kesungguhan Sezha.
"Baik Ratu." Sahut Tukijan.
Tukijan beralih ke Sezha.
"Ulurkan tangan kamu." Perintah Tukijan.
Tanpa menolak, Sezha mengulurkan sebelah tangannya kepada Tukijan.
"Rentangkan jari-jari mu." Perintah Tukijan lagi.
Sezha merentangkan kelima jarinya, setelah itu Tukijan mengambil sebilah pisau kecil lalu mengiris kelima ujung jari Sezha hingga meneteskan darah, tetesan darah dari kelima jari Sezha diarahkan tepat diatas bakaran dupa.
Sezha hanya bisa merelakan dan meringis menahan rasa sakit yang di akibatkan irisan pisau di jarinya.
__ADS_1