MAMA

MAMA
Bab 197


__ADS_3

Di jam istirahat, Sezha ke kantin sembari menikmati semangkuk bakso dan segelas jus jeruk. Nova menghampiri Sezha.


"Hai Zha, gak ngajak-ngajak sih."


"Sorry deh, maklum keburu laper. Kamu tau lah alasannya."


"Iya deh iya. Oh ya Zha, btw gimana sama anak kamu kalo kamu kesekolah gini ?" Celetuk Nova.


"Duh ni mulut ember banget yak." Sezha memelototi Nova yang keceplosan.


"Ups, maaf Zha, Rem blong." Nova menutup mulutnya.


"Udah skip gak usah dibahas deh. Bahas yang lain aja."


Tak berselang lama Arin dan Lala juga menghampiri.


"Ekhem, boleh ikut gabung gak ?" Tanya Arin.


"Gak boleh." Jawab ketus Sezha.

__ADS_1


"Dih jutek amat dah."


"Lagian noh masih banyak meja, jadi gak usah menuhi meja orang. Berdua cukup."


"Astaga Zha, sombong bener. Kita cuma mau gabung doank, masa gak boleh."


Arin dan Sezha sibuk beradu argumen. Lala memperhatikan perubahan bentuk tubuh Sezha. Terutama pandangannya tertuju pada bentuk buah pa*udara Sezha yang ukurannya sedikit berisi dari biasanya.


Sezha sadar jika Lala memperhatikan dirinya.


Sialan ni Lala, liatin aku sampe segitunya. Pasti dia curiga sama perubahan bentuk tubuh aku, ck jangan sampe ada yang tau kalo aku udah punya anak bisa di DO( drop out) aku dari sekolah kalo sampe bocor. Cukup Nova aja yang tau, jangan sampe yang lain tau bisa ribet urusannya. Kesal dalam hati.


"Lho, Zha ! Bakso kamu belum habis. Kok malah ditinggal." Panggil Nova.


"Udah kenyang !" Sahut Sezha yang sudah berjalan.


Nova nampak bingung dengan Sezha yang cepat sekali tersinggung hanya karena Arin dan Lala ingin duduk bersama dengan mereka.


"Sezha, Sezha, cepat banget marahnya." Gumam Nova pelan namun masih bisa didengar oleh Arin dan Lala yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Udahlah Nov, biarin aja. Lagian salah kita apa coba. Aku sama Lala kan cuma pengen gabung bukan pengen buat rusuh kenapa dia jadi sentimen gitu. Makin lama, makin songong tau gak tingkah Sezha, padahal kemaren-kemaren gak gini parahnya tuh orang. Berasa anak sultan dia lama-lama, sok nya kebangetan. Sumpah aku mulai gak suka sama sikap Sezha yang sok gitu." Arin meluapkan ketidaksukaan nya terhadap sikap Sezha yang dinilainya sombong.


"Iya Nov, aku sama Arin sama. Ini ya apalagi aku perhatiin tadi bentuk tubuhnya kayak abis lahiran soalnya aku liat bentuk bokong sama pay*daranya tuh lebih berisi, gak kayak kita. Coba deh kalian perhatiin dengan teliti pasti bentuk tubuhnya berubah. Aku yakin pasti Sezha lagi nyembunyiin sesuatu dari kita." Lala berspekulasi.


"Ihhh kalian ini ya, gak ada habis-habisnya ghibahin Sezha. Awas lho fitnah itu dosa, mungkin aja kan selama libur selera makan nambah makanya bentuk tubuhnya jadi berisi dari biasanya. Positif thinking deh jangan negatif mulu. Udah ah aku juga mau ke kelas, udah kenyang. Kalian masih mau disini atau mau ke kelas?" Makanan Nova telah habis ia santap dan ia pun juga ingin memasuki kelas.


"Dih mentang-mentang best friend nya udah duluan masuk, eh ikutan juga." Sindir Arin.


"Trus aku mau ngapain hem ? makanan aku udah abis, jadi ya tinggal masuk kelas deh. Kenapa kalian mau minta pendapat aku tentang perubahan Sezha, iya kan ?" Nova mengetahui maksud Arin dan Lala.


"Nah itu tau." Timpal Lala.


"Simple aja ni ya, intinya kalo Sezha gitu gampang cuekin aja. Terus berdoa semoga Sezha bisa berubah lebih baik bukan malah ghibahin di belakang, dosa. Udah ah, dah..." Usai memberikan pendapatnya, Nova meninggalkan meja kantin.


Nova yang meninggalkan meja kantin, membuat Arin sedikit kesal.


"Ish gaje Nova, 11 12 sama Sezha. Ngeselin amat dah." Arin dengus kesal.


"Udah stay cool Rin, mending kita minum es coklat dulu biar adem." Lala menyodorkan es cokelat dingin kepada Arin.

__ADS_1


"Iya deh." Arin mau.


__ADS_2