MAMA

MAMA
Bab 147


__ADS_3

"Hahahaha...bagus, bagus. Kau tidak salah dalam memilih manusia, Tukijan." Ratu Ajeng tertawa puas.


"Terimakasih Ratu." Ucap Tukijan.


Ratu Ajeng mengalihkan pandangannya ke arah Sezha yang sedari awal menundukkan kepalanya, sesuai yang diperintahkan oleh Tukijan.


"Aku menerima abdi setiamu padaku. Sebutkan apa yang kau inginkan ?"


Sezha belum sadar jika ia yang di tanya oleh Ratu Ajeng jadi dia hanya diam saja.


Tukijan melirik ke Sezha dan berdehem memberi tanda kalau Ratu Ajeng sedang bertanya padanya.


"Ekhem..Ratu sedang bertanya padamu, kenapa kamu diam ? jawab pertanyaan Ratu."


"Maaf, saya kira Ratu sedang bertanya sama bapak makanya saya diam, tidak berani menjawab." Kata Sezha.

__ADS_1


"Ratu bertanya padamu, sebutkan apa yang kamu inginkan ? ini adalah imbalan atas ikrar setiamu pada Ratu." Tukijan mengulangi pertanyaan yang dilontarkan oleh Ratu tadi.


"Baiklah saya akan sebutkan keinginan saya, besar harapan saya jikalau Ratu berkenan mengabulkannya."


"Sebutkan saja, waktuku tidak banyak." Timpal Ratu Ajeng.


"Pertama, saya ingin membalaskan dendam pada seseorang yang sudah mengambil bayi dari rahim saya. Saya ingin orang itu mendapatkan balasan yang setimpal.


Kedua, saya ingin di senangin oleh banyak orang tanpa terkecuali siapapun itu. Walaupun saya salah, tapi saya tetap di pandang baik.


Inilah tiga keinginan yang sangat saya inginkan Ratu, saya mohon agar Ratu dapat mengabulkannya." Sezha menjelaskan keinginannya yang sangat berani.


Begitu Sezha selesai menerangkan tiga keinginannya, Ratu Ajeng menatap kearah Tukijan, tatapan itu tegas syarat akan makna tapi Tukijan sudah paham maksud dari tatapan Ratu Ajeng padanya.


Tukijan menghela nafas, dan berbicara pada Sezha, sementara Ratu Ajeng telah menghilang pergi dari ruangan ini tanpa mau memberikan jawaban dari ketiga keinginan yang disebutkan oleh Sezha secara panjang barusan.

__ADS_1


"Ratu Ajeng sudah pergi, angkat kepala kamu dan berhenti menunduk." Perintah Tukijan.


Sezha mengangkat kepalanya dan dia merasa heran dengan menghilangnya Ratu Ajeng dari ruangan ini padahal ia sudah sebutkan keinginannya tapi bukannya kepastian yang ia dapat malah Ratu Ajeng menghilang begitu saja.


"Lho Ratu udah pergi, terus apakah Ratu bisa wujudkan tiga keinginannya saya tadi, pak ?" Tanya Sezha memastikan.


"Ratu bukan tidak bisa mewujudkan keinginan kamu tapi keinginan kamu itu sungguh diluar biasanya."


"Hm jadi Ratu gak mau wujudkan keinginan saya, begitu maksud bapak. Padahal itu yang sangat saya inginkan." Wajah Sezha lesu saat tau kalo Ratu enggan mengabulkan keinginannya.


"Saya bilang Ratu bukan tidak bisa mengabulkannya tapi sebelum Ratu mengabulkan keinginan kamu, apakah kamu bersedia melakukan sebuah syarat lagi untuk Ratu ?"


"Maksud bapak, syarat apa lagi pak ? bukankah saya sudah mengucapkan ikrar setia dan saya juga sudah membuktikannya dengan bapak mengiris kelima jari saya dengan pisau, lalu syarat apalagi pak yang harus saya lakukan ? bapak bilang tadi kalo saya sudah mengucapkan ikrar setia maka Ratu akan mengabulkan apa yang saya inginkan, kenapa sekarang saya harus melakukan satu syarat lagi ? bapak mau membohongi saya dengan memberikan harapan kosong, begitu maksud bapak."


Sezha tidak terima dengan syarat yang dikatakan oleh Tukijan, menurutnya ia sudah melakukan semuanya yang diperintahkan oleh Tukijan.

__ADS_1


__ADS_2