
Esoknya Sezha harus pergi kesekolah. Bayinya harus ia tinggal dirumah seorang diri karena tidak mungkin jika disekolah bayinya dibawa. Tidak mungkin juga kalo si bayi dititipkan ke tetangga karena memang bayinya bukan seperti bayi manusia pada umumnya.
"Dek, mama pergi kesekolah dulu ya. Kamu gak apa-apa kan kalo mama tinggal sendirian dirumah ? soalnya nenek sama kakek lagi nunggui om Ega dirumah sakit. Mama gak lama kok pulangnya, ntar siang juga pulang. Sekalian nanti mama pulang kesekolah pergi ke pasar buat beliin kamu daging segar, mau kan ? Tapi janji jangan nakal selama mama sekolah, ok."
Bayinya memberi anggukan sembari mengedip-ngedipkan kedua matanya.
"Ihh pinternya anak mama ini, hm tapi sayang papa kamu belum bisa tinggal bareng sama kita, papa kamu masih sibuk dengan keluarganya. Mama kesulitan misahkan papa kamu dengan keluarganya. Sabar aja kita ya, mama yakin sebentar lagi pasti papa bakalan bareng sama kita. Ok deh, mama terlambat ini, mama pergi dulu ya. Baik-baik dirumah, tunggu mama pulang."
Sezha meninggalkan bayinya sendirian dirumah sementara ia pergi ke sekolah. Ia mengunci bayinya agar tidak ada yang masuk selama ia pergi kesekolah.
Begitu ia keluar rumah, Sezha berdiri diteras untuk menunggu ojol. Ustadz Dedek kebetulan lewat di depan rumah Sezha dan menghentikan langkahnya dengan memperhatikan Sezha beserta rumahnya.
"Gadis ini sudah terlalu jauh dari Allah, aura rumahnya juga semakin meredup." Ustadz Dedek prihatin kepada Sezha dan keluarga.
Sezha sadar jika ada seseorang yang sedang memperhatikan, dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel untuk melihat siapa. Begitu ia melihat jika ustadz yang tempo hari lagi, seketika ia kesal, raut wajahnya berubah.
Sia*an ni ustadz, gak bosen- bosen kepoin hidup orang. Minta di kasih tau sopan santun nih ustadz, biar berhenti ngurusin orang.
Sezha berjalan menghampiri ustadz yang masih berdiri ditepi jalan.
"Hello pak ustadz, dari tadi saya liat bapak gak ada kerjaan ya, selalu perhatiin rumah saya. Saya curiga jangan-jangan bapak punya niat gak baik ya sama saya dan keluarga saya." Sezha menuduk ustadz.
"Maaf saya tidak ada maksud seperti itu, kebetulan saya melintas."
__ADS_1
"Hilih alesan, mana ada orang niat jahat mau ngaku, penjara penuh pak. Saya ingatkan sama bapak ya, sekali lagi bapak perhatiin rumah saya seperti ini lagi, bakalan saya laporkan ke polisi, atas perbuatan tidak menyenangkan." Ancam Sezha.
"Astaghfirullah, saya sarankan kamu segera bertobat ke jalan Allah, saya tau apa yang sedang kamu lakukan, aura jahat meliputi dirimu dan juga keluarga kamu. Segeralah sebelum kamu menyesali semuanya. Allah maha penerima tobat."
"Gini ya, udah salah malah nasehati. Ni ya pak sebaiknya bapak ceramahin aja anak dan keluarga bapak, jangan lain karena apa karena belum tentu orang lain terima dengan ceramah bapak yang kesannya maksa orang buat berubah, emang pak ustadz Tuhan. Hadeh pagi-pagi, ada aja masalah." Sezha tidak senang dengan nasehat ustadz Dedek.
"Saya hanya mengingatkan kamu sebagai sesama muslim, saya mengingatkan demi kebaikan kamu dan juga keluarga kamu. Ingat pesan saya baik-baik, apapun yang berhubungan dengan syaitan pasti akan berakhir bencana."
"Bener-bener ni ustadz lagi sepi job kayaknya, jadi ceramahin orang dijalan. Saya gak butuh ceramah dari bapak, saya bisa urus saya dan keluarga saya sendiri. Simpan tenaga bapak gak usah capek-capek buat ngurusin hidup orang. Saya permisi."
Ojol datang, Sezha pun bergegas pergi meninggalkan ustadz Dedek.
"Ya Allah, sungguh telah jauh gadis itu. Berilah hidayah untuknya, amin ya rabbal alamin." Ustadz Dedek menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sikap Sezha.
"Apes banget aku pagi-pagi udah jumpa ustadz gadungan, ck julid banget jadi orang. Heran hidup, hidup aku tapi yang kepo orang, gak sekalian aja tanggung makan aku sama keluarga ku." Gerutu Sezha sembari duduk.
Saat ia baru duduk dan selesai menggerutu. Nova menghampiri.
"Hallo Zha, apa kabar ?" Tanya Nova.
"Baik." Jawab Sezha singkat.
"Syukur deh, oh ya semalam siang aku datang kerumah kamu, tapi kamunya gak ada. Kata tetangga kamu, kalo kamu, ayah dan ibu sedang dirumah sakit. Apa bener Zha, adik kamu sakit ya ?"
__ADS_1
"Iya." Jawab Sezha singkat lagi.
"Cepet sembuh ya buat adik kamu, nanti kalo aku ada waktu, insya Allah jenguk adik kamu."
"Gak usah, gak perlu dijenguk. Adek aku cuma sakit biasa aja. Makasih perhatiannya."
"Oh yaudah deh, nanti aja kalo adik kamu udah pulang dari rumah sakit, aku berkunjung kerumah kamu. Masih bolehkan ?"
"Boleh kok, gak mungkin kan tamu aku usir."
Arin dan Lala yang baru sampai dikelas melihat pemandangan Nova sedang di dekat meja Sezha. Mereka berdua pun menatap heran sambil berbisik.
"Nova ngapain ?" Tanya Arin.
"Entahlah, mungkin Nova baikan sama Sezha." Jawab Lala.
"Nova emang sabar banget, udah digituin sama Sezha masih aja baikin Sezha, padahal ada kita."
"Ya namanya juga mereka udah bersahabat deket lama."
"Yaudahlah, moga aja mereka beneran baikan." Harap Arin.
"Aminn, moga aja Rin." Timpal Lala.
__ADS_1