
Begitu tiba di pasar Sezha buru-buru menuju ke pedagang daging sapi.
"Pak, beli daging sapinya 1kg ?"
"Iya dek, dipotong atau gini aja ?"
"Gak usah pak, gitu aja nanti saya potong dirumah. Saya buru-buru soalnya."
"Ini dek."
"Berapa pak ?"
"130ribu."
"Nih pak uangnya, kembaliannya buat bapak aja."
Sezha segera meninggalkan area pasar, dengan menaiki bentor yang ada di pasar, karena lama jika harus menunggu ojol lagi.
Laju bentor sedikit lambat, Sezha menyuruh bentor untuk lebih cepat melakukan bentor nya.
"Duh, pak lambat banget sih. Cepetan dikit donk, adik saya dirumah sendirian, buruan pak. Nanti saya tambahin deh ongkosnya yang penting saya cepet sampe rumah."
"Ini udah kenceng dek, takut nanti kalo kita ngebut bisa bahaya."
"Ya ampun kalo gini lajunya yang ada saya makin lama sampenya, ck." Keluh Sezha.
__ADS_1
Si bapak bentor menambah sedikit kecepatan karena dilihatnya Sezha seperti gelisah.
Sudah dekat lagi, Sezha minta bentor lebih cepat karena sudah dekat.
"Pak, itu rumah saya. Buruan pak." Desak Sezha.
"Iya dek, ini udah cepet. Sabar toh."
Sudah tiba ditepi jalan depan rumah Sezha.
"Stop pak, stop. Ini rumah saya."
Bapak bentor menghentikan mesin bentornya.
Lalu Sezha memberikan ongkos.
"Makasih dek, kembaliannya 10ribu."
"Gak usah buat bapak aja."
Sezha tergesa-gesa masuk kedalam rumahnya tanpa menunggu si bapak bentor pergi.
Begitu memasukinya rumah, Sezha langsung menuju ke kamar untuk segera memberikan daging segar.
Kondisi kamarnya berantakan, spreinya robek, bantal juga kapasnya terburai ke lantai. Kamarnya benar-benar kacau.
__ADS_1
"Astaga ! adek ! kamarnya kok gini sih." Sezha terbelalak kaget.
Wujud bayinya masih ke wujud semula ia dilahirkan, ia menatap Sezha marah.
"Kenapa kamu mau marah sama mama ? kan mama udah bilang, sehabis pulang sekolah baru mama belikan daging buat kamu, tapi kamu malah buat kamar mama berantakan kayak gini."
Si bayi tidak memperdulikan ucapan Sezha, ia merangkak mendekat kearah Sezha karena ia mencium aroma daging segar kesukaannya.
Si bayi mengambil begitu saja dari tangan Sezha, kemudian dengan lahap memakannya, sama sekali ia tidak menganggap Sezha ada disini.
"Ya ampun, kelewatan kamu ya. Makan aja terus, besok kamu mama hukum, gak akan mama belikan daging lagi. Mama biarkan kamu kelaparan, sebagai hukuman karena kamu udah buat kamar mama kacau berantakan." Ancam Sezha kepada bayinya.
Sedang menikmati daging ini, ketika Sezha mengatakan jika ia tidak akan diberi daging lagi besok. Sontak ia menatap Sezha marah dengan mata yang memerah.
"Apa ? kenapa kamu menatap mama seperti itu ? kamu mau marah sama, ayo marah." Tantang Sezha pada bayinya yang telah berani menatapnya dengan tatapan seperti itu.
Si bayi mendengus, pandangannya tak lepas dari Sezha, sembari menggigit daging itu dengan cara mer*bek. Secara tidak langsung bayinya mengancam balik Sezha, jika ia tidak suka dengan ucapan dan ancama yang dilontarkan oleh Sezha.
Sezha bergidik takut ketika bayinya memandangnya seperti akan menyakiti dirinya.
Sezha segera mengalihkan pandangannya dengan membereskan kamar yang telah di buat berantakan oleh bayinya.
"Jangan lihati mama seperti itu, makan habiskan, mama mau membereskan kamar ini. Sehabis makan kembalilah ke wujud bayi manusia, mama lebih suka melihat kamu begitu." Sezha merendahkan intonasi suaranya, dia tidak lagi keras pada bayinya, jujur ia merasa takut.
Si bayi mengangguk dan terus melahap habis daging mentah ini tanpa sisa.
__ADS_1
Setelah rasa laparnya terpuaskan, sesuai perkataan Sezha, si bayi kembali ke wujud bayi manusia.