
Arin tiba dirumah, namun rumahnya nampak sepi.
"Pada kemana ni ?" Arin heran.
Arin memeriksa tiap sudut rumahnya, mulai dari ruang tv, ruang tamu kemudian membuka pintu kamar miliknya, adiknya dan juga kamar kedua orangtuanya tapi tidak ada.
Arin menuju satu tempat yang belum ia cek yaitu dapur.
Arin berjalan kedapur sambil memanggil ibunya.
"Ibu, ibu, Arin pulang !" Seru Arin dengan suara cukup keras.
Tidak ada jawaban dari ibunya.
"Ibu kemana sih, di cariin juga gak ada. Bilangin anak sendiri suka kelayapan, gak taunya ibu sama aja." Gumam sebel.
Arin yang sibuk mencari ibunya dari arah belakang, ia mendengar suara ibunya.
"Kamu sudah pulang." Ucap ibu.
"Ya Bu, nih sayurannya. Lagian ibu kemana sih daritadi Arin nyariin ?"
"Ibu abis motong ayam dibelakang."
Ibu berbicara dengan wajah tertunduk, dan sebelah tangannya memegang pisau yang sudah berlumuran darah.
__ADS_1
Arin merasa ada yang aneh dengan ibunya, baik dari nada bicara dan juga sikap ibunya.
"Bu, ibu baik-baik aja kan?" Tanya Arin curiga.
"Baik ibu baik." Ibu Arin mengangguk-anggukkan kepala.
"Ibu yakin Bu, ibu aneh hari ini sejak kapan ibu berani motong ayam hidup biasa juga ayah kan?" Arin mulai yakin jika ada keanehan kepada ibunya.
"Tidak, ibu tidak apa-apa." Ibunya menggelengkan kepalanya namun masih posisi menunduk.
"Yaudah kalo gitu Bu, Arin mau balik ke kamar dulu." Arin merasa takut.
Arin berjalan keluar, dia ingin meminta bantuan kepada tetangga. Arin ingin bilang jika ibunya saat ini tidak seperti ibunya.
Arin akan beranjak, ibunya tidak mengizinkan Arin untuk pergi.
"Tidak Bu, Arin mau tidur dulu Bu." Arin gugup.
"Mau tidur ya (Ibunya tersenyum aneh)."
Ibunya dengan langkah terseret kemudian menghampiri Arin yang berdiri kaku, seakan-akan kedua kakinya tidak dapat ia gerakkan.
Keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya.
Ia bertanya pada dirinya, apa yang akan ibunya lalukan dengan pisau berlumuran darah.
__ADS_1
Ibunya semakin dekat dengan Arin yang berdiri, lalu ibunya mengacungkan pisau tadi tepat di depan wajah Arin.
"Kamu tau ini apa ?"
"Bu, ini Arin Bu, sadar Bu, sadar." Jantung Arin berpacu dan diiringi seruan nafas.
"Hi-hi-hi, kamu anakku ya, hm tapi kenapa ibu bisa lupa hi-hi-hi." Ibunya tertawa aneh, dengan raut wajah dingin.
Arin sadar jika ibunya saat ini sedang dirasuki makhluk halus.
Arin benar-benar dilanda ketakutan.
"Bu sadar Bu, ini Arin Bu hiks." Arin mulai menangis.
"Sttttt (ibunya menyuruh Arin untuk diam) anak sudah gede gak boleh nangis." Ibunya menaruh sebilah pisau itu tepat di bibir Arin.
Tubuh Arin bergetar, dia tidak tau harus apa.
"Kenapa kamu takut ya ? kan kamu anakku, dan aku ibu kamu hi-hi-hi."
Ibunya menjilat pisau yang berlumuran darah tadi dan memberikan Arin sebuah peringatan.
"Jika kakak ingin ibu kakak selamat, ingat ucapanku baik-baik. Jangan pernah mencampuri urusanku atau kakak akan menyesalinya hi-hi-hi." Suara ibunya berubah menjadi suara anak perempuan.
Usai mengancam Arin, ibunya pun jatuh pingsan. Arin dengan reflek menangkap tubuh ibunya hingga tak sempat jatuh ke lantai.
__ADS_1
Arin memeluk ibunya sambil menangis.