
Tukijan tepat pukul 11 malam melakukan ritual pemanggilan Ratu Ajeng, ia ingin memberitahu tentang ustadz Dedek yang mendatangi Sezha tadi sore.
Semua kebutuhan ritual sudah tersedia, Tukijan memanggil Ratu Ajeng.
Gumpalan asap hitam memenuhi ruangan khusus ini dan ya dari asap hitam itu muncullah sosok Ratu Ajeng.
"Ada apa kau memanggilku ?" Tanya Ratu Ajeng.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu pada Ratu."
"Apa itu ?"
"Ada seorang yang dipanggil ustadz oleh kebanyakan orang, dia berani mengusik ketentraman kita Ratu. Tadi sore ia mendatangi rumah Sezha untuk mencaritahu."
"Ustadz itu lagi rupanya, besar juga nyalinya. Kau tenang saja, malam ini akan aku bikin salah satu dari tetangganya kerasukan bahkan akan kubuat hingga histeris. Kita lihat masih beranikah dia mengusik kita lagi."
"Saya setuju Ratu, beri pelajaran pada manusia itu agar tidak ikut campur dalam urusan kita."
"Aku pergi, awasi terus Sezha. Dia adalah pengikut yang paling ceroboh. Kau harus pantau dia jangan sampe lengah."
"Baik Ratu, urusan Sezha serahkan saja padaku."
__ADS_1
"Bagus."
Ratu Ajeng menghilang dari hadapan Tukijan. Usai dari rumah Tukijan. Ratu Ajeng beralih dimana ustadz Dedek tinggal. Ia meniupkan sihirnya ke tetangga sekitar rumah ustadz Dedek, Ratu Ajeng meniupkan sihirnya kepada 2 rumah yang bersebelahan tepat di samping rumah ustadz Dedek.
"Malam ini adalah malam yang sibuk untukmu ha-ha-hahaha...ini masih peringatan dariku. Tunggu kejutan yang lebih g*la dari ini jika kau bisa menghalangiku hahaha...." Ratu Ajeng pergi meninggalkan area rumah ustadz setelah meniupkan sihir.
Selang beberapa detik Ratu Ajeng pergi, di 2 rumah secara bersamaan terdengar suara teriakan dan raungan yang membuat berisik di gang ini.
Masing-masing 2 orang suami menggelepar sambil berteriak-teriak tidak jelas. Istri masing-masing kemudian berlari kerumah ustadz Dedek untuk meminta pertolongan.
"Assalamualaikum, pak ustadz, pak ustadz !!" Serunya panik.
Ustadz Dedek beranjak dari duduknya dan membuka pintu.
"Waalaikum salam, ada apa ibu-ibu kesini ? apakah terjadi sesuatu?"
"Tolong pak ustadz, suami saya tiba-tiba kejang-kejang terus matanya keatas sambil mengerang gitu pak ustadz, saya takut pak. Tolong saya."
"Sekarang suami ibu dimana ?"
"Dirumah pak ustadz lagi dipegangi sama anak saya."
__ADS_1
"Ya sudah saya kesana ayo Bu." Ustadz bergegas.
Ibu yang satu lagi menahan langkah ustadz Dedek karena suaminya juga mengalami hal serupa dengan suami ibu yang tadi.
"Tunggu pak ustadz, suami saya juga pak ustadz. Kalo pak ustadz kesana, bagaimana dengan suami saya. Tolong juga saya pak ustadz."
"Suami ibu juga mengalir gejala yang sama dengan suami ibu ini ?" Tanya ustadz bingung.
"Iya pak ustadz, tiba-tiba aja gitu."
Ustadz Dedek berfikir suatu cara agar kedua suami tetangganya ini bisa ia tolong secara bersamaan.
"Begini saja, bawa suami-suami ibu kesini kerumah saya, soalnya kalo saya datangin satu-satu kasian suami ibu yang ini pasti akan menunggu lama."
"Baik pak ustadz, saya akan bawa kesini." Ibu yang satu kembali kerumah.
Sedangkan ibu yang satunya lagi masih berdiri sambil bingung campur panik.
"Ibu bawa kesini saja suaminya, biar saya bisa memeriksa suami ibu dan suami ibu itu. Jadi biar sama-sama kita periksa."
"Iya pak ustadz." Si ibu yang pertama baru paham.
__ADS_1