
Nova membentuk potongan kawat tadi dengan bentuk menyerupai lubang kunci.
Usai membentuknya ia kemudian memasukkan ke lubang kunci. Nova memutar-mutar kawat yang sudah ia bentuk.
Setelah mencoba berkali-kali, akhirnya kunci berhasil Nova buka.
"Eh kebuka, Alhamdulillah. Aku harus cepat menemukan Sezha tapi aku harus berhati-hati jangan sampai ada yang tau kalo aku bisa lolos dari ruangan ini."
Nova celingukan melihat situasi sekitar ruangan dimana ia disekap.
"Sepertinya aman tidak ada siapapun." Nova berjalan mengendap-endap.
Nova menyusuri tiap ruangan yang ada disini, atau bisa dibilang kamar. Terdapat beberapa kamar yang masih tertutup rapat.
Tanpa Nova sadari tiba-tiba ia sudah berada di depan pintu kamar dimana dia dan Sezha menginap.
"Lho ini kan kamar aku dan Sezha, nah mereka tadi membawa kearah situ. Aku harus mencari Sezha sebelum terjadi apa-apa dengan Sezha." Nova berjalan kearah Desi dan Sezha lewati tadi.
__ADS_1
Saat Nova fokus dengan langkahnya dari berbagai arah yang akan ia tuju terlihat sosok Hanifah sedang berjalan kearahnya.
"Gawat itu Hanifah, sebaiknya aku sembunyi sebelum dia melihat ku." Nova mundur beberapa langkah.
Nova sembarang membuka handle pintu. Ia masuk ke dalam kamar yang tidak tau kamar ini ditempati oleh siapa.
Begitu Nova masuk, ia menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seseorang sedang tertidur diatas ranjangnya dengan mata terpejam dan kain kafan sebagai selimut, wajah seseorang ini sangat pucat.
Tercium bau bunga pemakaman menyeruak seisi kamar ini.
"Astaghfirullah, ada mayat. Jangan-jangan, orang-orang yang ramai sewaktu malam itu bukan manusia tapi mayat hidup." Nova menelan salivanya.
"Gak salah lagi, ini tempat udah gak beres. Aku harus bisa keluar dari sini dan meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Ya, aku yakin pasti mereka akan mau membantu. Tunggu aku Sezha, aku pasti akan menolongmu dan kita akan pulang bersama-sama."
Nova keluar dari kamar aneh itu, di rasa sudah aman. Nova mencari keberadaan kamarnya, Nova ingin mengambil barang bawaannya.
Seperti biasa Nova berjalan mengendap-endap. Nova membuka pintu kamarnya kemudian dengan cepat ia mengambil tas ranselnya yang sudah berisikan barang-barang bawaan miliknya. Ia hanya membawa tas ranselnya saja dan meninggalkan barang bawaan milik Sezha karena ia tidak memiliki waktu banyak.
__ADS_1
Nova memperhatikan situasi diluar kamar.
"Aman, aku bisa keluar dari tempat aneh ini."
Nova berlari sekencangnya, ia melewati Hanifah yang sedang berada di meja resepsionis.
Hanifah menoleh kearah Nova yang sudah berada di pintu keluar.
"Hei ! berhenti disitu." Teriak Hanifah.
Nova tidak memperdulikan seruan Hanifah, Nova terus berlari kearah luar.
Ia mengambil arah menuju rumah penduduk. Hanifah mengejarnya. Karena Hanifah memakai rok, dia pun kalah cepat dengan Nova.
"Akhhh...edan ! dia berhasil kabur dari sekapanku. Aku harus mengejarnya sebelum dia bertemu dengan warga kampung, dasar merepotkan. Awas saja jika sampai aku mendapatkanmu, akan ku kurung kau di ruangan itu lagi dan ku pastikan kau tidak akan bisa keluar lagi." Hanifah geram.
Hanifah memejamkan mata, ia membaca mantra dalam bahasa Jawa. Mantra itu jika dibaca dapat berpindah tempat dengan sekejap mata.
__ADS_1