
Tak terasa mereka berdua telah lama mengobrol, hingga jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Wih udah sore aja nih, yaudah deh kalo gitu aku pamit pulang ya. Oh ya ini ada titipan dari ibu aku, ya gak seberapa sih, terima ya Zha." Nova memberikan sebuah amplop.
"Makasih ya Nov, udah mau dateng kesini dan makasih juga sama ibu kamu. Salam ya buat ibu kamu."
"Iya sama-sama, yaudah ya aku pulang. Wassalamu'alaikum."
Sezha hanya mengangguk sembari tersenyum tipis tanpa mau membalas ucapan salam dari Nova.
Nova tidak mau menegur Sezha sebab ia merasa jikalau Sezha telah melakukan sesuatu yang dilarang namun Nova tidak mau langsung celetuk kepada Sezha, soalnya ia belum sepenuhnya yakin dengan apa yang ia rasakan.
Nova berjalan keluar dari rumah Sezha, baru beberapa saat melangkah, tetangga yang tadi menghampirinya.
"Dek, dek, tunggu." Panggil si tetangga.
"Iya Bu, hm ibu panggil saya ?" Nova menoleh dan bertanya.
"Ish ya kamu lah jadi siapa lagi, emang disini ada selain kamu. Ini lho ibu mau nanya sesuatu, soalnya dari semalam ibu penasaran."
__ADS_1
"Mau tanya apa Bu ?" Tanya Nova heran.
"Sini-sini ibu bisikin, gak enak kalo keras-keras nanti kedengaran."
Nova menurut aja tanpa penolakan. Si tetangga membisikkan sebuah pertanyaan kepada Nova.
"Apa bener Sezha itu melahirkan ?" Bisik si tetangga.
"Bener Bu, kenapa ya Bu?" Nova mengangguk dan kembali balik bertanya apa alasan si tetangga menanyakan hal itu.
"Hah ? jadi bener ? Astaga, gak nyangka ibu lho ternyata Sezha melahirkan bayi sebelum menikah ( si tetangga terkejut ). Oh ya ngomong-ngomong kamu tau tidak siapa ayah dari bayi nya Sezha ? soalnya kemarin ibu pernah liat kalo Sezha di jemput naik mobil, cuma ibu gak jelas orangnya." Si tetangga mulai julid.
"Saya kurang tau Bu, permisi saya pulang. Wassalamu'alaikum." Nova cepat-cepat meninggalkan si tetangga tanpa mau memberikan jawaban.
Si tetangga pulang kerumahnya, ia tidak sadar jikalau Sezha memperhatikan dari balik jendela.
"Huh sebelum kau beritahu kepada orang-orang, kau akan kubuat lebih dulu tidak bisa berbicara selamanya. Kau sudah terlalu dalam ikut campur dengan kehidupanku. Tunggu kejutan dariku sebentar lagi." Sezha mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi wajah kebencian.
Sezha kembali masuk kedalam kamar, ia memanggil Tukijan untuk meminta bantuan.
__ADS_1
"Pak Tukijan, aku mohon datanglah kesini. Tolong bantu aku." Sezha duduk bersila diatas ranjang sembari memejamkan mata.
Dikediaman Tukijan, Tukijan mendengar jikalau Sezha memanggilnya.
"Ada apa gadis itu memanggilku ? hm merepotkan saja dia, tapi tidak apa. Aku akan kesana mau apa dia memanggilku."
Sukma Tukijan langsung memisahkan dari raganya dan menuju ke rumah Sezha.
Dalam waktu singkat, Sukma Tukijan telah sampai di kamar Sezha.
"Ada apa kamu memanggil saya ?"
Sontak Sezha membuka kedua matanya.
"Begini pak, ada salah satu tetangga saya yang terlalu ingin tau dengan kehidupan saya. Saya mau bapak membuat dia jera karena telah mengganggu kehidupan saya."
"Kamu tenang saja, biar saya yang urus. Jika tidak ada lagi, saya mau pergi." Tandas Tukijan.
"Tidak ada pak, hanya itu saja."
__ADS_1
"Baiklah."
Sukma Tukijan dengan sekejap menghilang dari hadapan Sezha.