
Ibarat kata 'gayung bersambut', rencana Mak Iyem' pasti akan berjalan mulus karena Sezha merasakan kekecewaan terhadap laki-laki. Tentu sikap Sezha yang seperti ini dapat mempermudah rencana Mak Iyem' untuk mengambil janin yang dikandung oleh Sezha.
Mak Iyem mulai mengeluarkan kata-kata halus namun kental akan makna niat jahat Mak Iyem' terhadap Sezha.
"Sudahlah, kamu sekarang berada ditempat yang tepat cah ayu. Saya akan menolong kamu keluar dari beban kamu ini." Mak Iyem memeluk sambil mengusap-usap rambut Sezha lembut.
"Maksud ibu ? ibu bisa bantu saya?" Sezha menatap sembari menyeka air matanya.
"Iya saya bisa bantu kamu." Timpal Mak Iyem.
"Bantu bagaimana Bu ? saya belum paham sepenuhnya."
"Sekarang saya tanya ke kamu, apa kamu menerima janin ini sebagai anak kamu?" Tanya Mak Iyem' langsung.
Sezha menggelengkan kepalanya, ia bingung harus jawab apa.
__ADS_1
"Cah ayu, kamu itu masih muda jalan hidup kamu masih panjang. Ini saya gambarkan agar aku memahami maksud perkataan saya. Usia kamu masih belia, kamu masih sekolah, jika kamu mempertahankan anak ini terus ada di rahim kamu maka anak ini akan dapat menghambat cita-cita kamu. Kamu tidak mau kalo hal itu sampai terjadi bukan?" Mak Iyem terus meyakinkan Sezha.
"Tapi Bu, anak ini tidak bersalah. Yang seharusnya dihukum itu saya Bu, saya ." Sezha kembali memasang wajah sedih.
"Denger apa kata ibu, berhenti menyalahkan diri sendiri. Ini semua kesalahan laki-laki itu, dia yang dengan sengaja menanam benih ke rahim kamu. Jadi untuk apa kamu mempertahankan kandungan kamu, sementara laki-laki itu enak-enakan dengan kehidupannya. Ingat cah ayu kita perempuan jangan mau diremehkan oleh laki-laki." Mak Iyem menanamkan rasa kebencian di dalam diri Sezha.
"Hiks tapi saya harus apa Bu ? mau tidak mau saya harus membesarkan bayi ini,Bu (Sezha mengelus perutnya )."
"Owalah cah ayu, kamu polos sekali. Kamu mau membesarkan anak dari laki-laki itu sementara dia hidup tenang. Apa kamu tidak mau meneruskan masa depan kamu hem?" Mak Iyem terus membujuk Sezha dengan tutur katanya.
Sezha termenung membayangkan jika ia harus mengurus anak seorang diri. Wajah Sezha yang sendu berubah garang, Sezha mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Mak Iyem kepadanya.
Mak Iyem pun merasa sangat puas karena ia berhasil memperdaya Sezha. Ia tidak perlu kesulitan dalam mengambil janin yang ada dirahim Sezha karena Mak Iyem yakin kalo Sezha sendirilah yang akan memberikan janin miliknya.
Manusia go*lok, sungguh mudah, aku tidak perlu repot-repot. Kamu sendiri yang akan memberikannya padaku .
__ADS_1
"Bagaimana cah ayu ? sudah kamu pikirkan apa yang saya bilang ke kamu ? saya begini karena kita adalah seorang wanita jadi saya bersedia membantu kamu melewati beban ni. Kamu tidak akan memikul beban ini sendirian lagi, ada saya di samping kamu."
"Sudah saya pikirkan matang-matang Bu, saya tidak mau bayi ini tumbuh dirahim saya. Karena kelak nantinya pasti anak ini akan menjadi penghalang untuk masa depan saya. Saya tidak mau jika masa muda saya terbuang sia-sia." Sezha lantang.
"Yowes, nanti saya bantu yo. Sekarang kamu pake pakaian pengantin ini dulu, tadi katanya pengen coba." Mak Iyem mengalihkan.
"Lain kali saja Bu, saya mau kembali ke kamar. Saya mau istirahat, tidak apa-apa kan Bu." Sezha mengurungkan keinginannya untuk memakai pakaian adat Jawa.
"Iya, saya paham. Tapi besok datanglah kesini lagi. Saya akan memberi tahu cara agar kamu bisa terbebas dari beban dan juga rasa membalas rasa sakit hati kamu kepada laki-laki itu." Mak Iyem berpesan .
"Baik Bu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Ibu sudah mau membantu saya. Kalo gitu saya permisi Bu."
"Monggo." Mak Iyem tersenyum ramah.
Usai Sezha keluar dari ruangan itu, muncul sosok berjubah hitam dari arah belakang Mak Iyem'.
__ADS_1
"Atur semuanya." Ucap Mak Iyem' kepada sosok berjubah.
"Njih Mak." Balas sosok berjubah kemudian hilang.