MAMA

MAMA
Bab 76


__ADS_3

Tujuan Mak Iyem' sudah terlaksana maka persinggahan pondok miliknya yang tadinya ia kamuplase sedemikian rupa agar terlihat bagus, ia rubah seperti bentuk semula, kemudian para mayat hidup itu kembali ia benamkan dibawah tanah tepat dibawah kediamannya. Sedangkan Desi, Hanifah dan mbok Sinah sebagai penjaga kantin juga sudah dibebas tugaskan pun diperbolehkan untuk pulang kerumah mereka masing-masing.


"Tugas kalian sudah selesai dan tempat ku juga sudah aku kembalikan seperti semula, jelek, kumuh dan reot. Kalian, aku persilahkan untuk pulang kerumah kalian masing-masing. Tapi jika kalian ingin tetap tinggal, aku sungguh tidak keberatan." Tutur mak Iyem menerangkan.


Desi, Hanifah dan mbok Sinah masih diam, mereka saling memandangi satu sama lain. Mata mereka bertiga seoalah ingin mengatakan memilih untuk pulang tapi mereka bingung, ya padahal Mak Iyem' sudah memberi mereka izin untuk pulang namun agaknya mereka masih bimbang.


Mak Iyem tau apa yang dipikirkan oleh ketiga pengikut setianya.


"Kenapa dengan kalian hem ? apa ucapanku belum jelas ? kalian pikir aku tidak tau, apa yang sedang kalian pikirkan ?" Tanya Mak Iyem.


"Ampun Mak, kami hanya bimbang harus memilih tetap tinggal atau pulang ? sementara jika kami pulang, kami harus mengantongi setidaknya sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Sekali lagi saya mohon ampun Mak, jika ucapan saya terlalu lancang." Hanifah mewakili.


"Sudah ku tebak, kalian tidak usah khawatir masalah uang, kalian cepatlah pulang lalu masuk kedalam kamar kalian kemudian lihat dibawah kasur kalian maka kalian bisa tau berapa jumlah yang sudah aku beri pada kalian karena kalian sudah setia menjadi pengikut setiaku. Aku lagi bahagia, kalian cepatlah pulang, aku ingin menikmati kulit tubuhku yang seperti bayi ini." Mak Iyem berdiri didepan cermin sambil mengelus lembut kulit wajahnya.

__ADS_1


"Njih Mak." Sahut mereka bertiga berbarengan.


Mereka bertiga pun beranjak keluar dari kediaman Mak Iyem' yang sudah berubah. Saat mereka bertiga melangkahkan kaki keluar dari kediaman Mak Iyem', pakaian yang mereka kenakan juga ikut berubah menjadi pakaian biasa, yang tadinya mereka mengenakan pakaian khas Jawa sekarang mendadak berubah.


Mereka bertiga nampak biasa tidak ada raut keterkejutan lagi. Mereka bertiga keluar dari rumah Mak Iyem' sebelum pagi, kira-kira pukul 2 dini hari.


Namun mbok Sinah melihat ada yang berbeda dengan kulit tubuh Desi dan Hanifah.


"Kalian berdua cantik." Mbok Sinah terperangah takjub.


"Kulit kalian jadi lebih bersih dan juga lebih cerah." Ungkap mbok Sinah.


"Hah ? bener ni, masa sih. Des, coba kamu pegang pipiku." Hanifah masih belum percaya.

__ADS_1


"Eh iya Hanifah, wajah kamu kenyal gitu halus lagi." Kata Desi ikut takjub.


"Oh ya woah bakalan nemu cowok ganteng, YESS." Hanifah lompat kegirangan.


"Ck, gantian donk coba kamu pegang wajahku sama seperti kulit kamu, gak ?" Desi juga penasaran.


"Iya, gak sabaran. Se' aku pegang." Hanifah menyentuh kulit wajah Desi.


"Kita sama Des, kulit wajah kita kenyal halus lho."


"Ihhhh seneng aku." Desi memegangi wajahnya sambil tersenyum sumringah.


"Yo wes, anggep ae iki bonus seko Mak Iyem'." Sela mbok Sinah.

__ADS_1


"Hehehe iyo mbok." Hanifah dan Desi cengengesan.


"Mending kita cepatan pulang, aku udah gak sabar pengen kacaan sampe puas." Ajak Hanifah senang.


__ADS_2