MAMA

MAMA
Bab 78


__ADS_3

Bulek dan Nova menghampiri Sezha, kemudian Nova menyorotkan lampu senter tepat ke wajah Sezha.


"Zha, bangun Zha, ya ampun kamu bisa-bisanya tidur disini." Nova menepuk-nepuk pipi Sezha.


Namun Sezha tak kunjung sadar. Nova kembali menepuk-nepuk pipi Sezha sedikit agak keras, tapi bulek Sukini menegur Nova agar tidak kasar pada Sezha.


"Wes, wes ojo di ngono'ke, kuwe iki yo ambe konco dewe kasar men." Bulek berbicara bahasa Jawa.


"Hiks bulek, bahasa Indonesia aja ya soalnya saya di sekolah cuma belajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, kalo bahasa Jawa baru sama bulek jadi saya belum paham." Nova berwajah lesu dibuat-buat.


"Oh iya bulek lupa, yaudah lupai yang bulek bilang tadi. Sekarang sebaiknya kita pergi dari tempat ini, temen kamu kita bopong aja kemungkinan dia pingsan."


"Ya bulek, kayaknya sih gitu, bukan tidur dia ni."


"Yaudah yuk kita pulang ke rumah bulek, sekalian kita periksa keadaan temen kamu."


"Baik bulek."


Bulek Sukini dan Nova memapah tubuh Sezha yang masih dengan keadaan pingsan.


"Aduhh berat banget sih, ya Allah makan apaan ni anak. Tubuh kecil tapi beratnya ampun dah." Nova menggerutu.


"Kamu ini ya, dari tadi ngeluh aja. Niat bantu temen itu yang ikhlas." Bulek menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Hehehe iya bulek, becanda kok bulek." Nova nyengir kuda.


"Lagian kita berdua kan, bukan kamu seorang yang mapah."


Nova mengangguk kikuk karena merasa malu ditegur bulek Sukini.


"Iya bulek."


Mereka pun memapah Sezha dengan jalan perlahan, sebab berat tubuh Sezha lumayan berat, bulek Sukini juga merasakannya tapi bulek Sukini hanya berbicara dalam hatinya.


Bener juga abot men wedok an iki. Mangan opo lah kok iso abot koyo ngene.


Masih jalan beberapa langkah, bulek mulai nafasnya tersengal.


"Se' se' berhenti, bener kata kamu makin lama makin terasa berat, nafas bulek ngos-ngosan ini ."


"Iya bulek."


"Nah kita duduk disini, bulek mau ngatur nafas dulu."


Mereka duduk sebentar dan kembali membaringkan Sezha ditanah.


Setelah dikira cukup beristirahat, bulek kembali mengajak Nova untuk melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


"Bulek udah bisa, kalo gitu kita lanjut lagi."


"Baik bulek."


Mereka kembali memapah Sezha, baru 2 langkah mereka jalan, Nova mendengar samar suara tangisan bayi.


"Bulek, saya mendengar seperti ada suara tangisan bayi deh." Tutur Nova.


"Tangisan bayi, kamu jangan ngada-ngada toh, mana mungkin ada suara tangisan bayi wong kita aja masih di tengah-tengah sawah koyo ngene." Bulek menyangkal karena memang bulek tidak mendengar.


"Bulek gak dengar sama sekali? tapi saya mendengarnya bulek."


"Ndak, bulek ndak denger suoro nangis bayi."


"Loh kok aneh, saya dengar sementara bulek tidak." Nova mulai bertanya-tanya.


"Sudah, sudah mending kita lanjut lagi perjalanan kita pulang, gak usah mikir yang aneh-aneh.''


Nova hanya mengangguk, namun raut wajahnya masih bingung.


Usai berjalan cukup lama, mereka sudah dekat dengan kediaman bulek Sukini.


"Sebentar lagi kita sampai, itu rumah bulek sudah keliatan."

__ADS_1


Nova melihat kedepan dan benar kalo mereka sudah hampir sampai.


Nafas bulek dan Nova ngos-ngosan, padahal mereka tidak sedang berlari tapi serasa capek sekali, maklum saja jalan yang mereka lalui adalah jalan setapak jadi mereka harus sangat berhati-hati agar mereka tidak tergelincir ke sawah.


__ADS_2