
Ratu Ajeng meradang, karena ekornya terkena oleh sabetan tasbih dari ustadz Dedek.
Ratu Ajeng mengangkat dua orang tetangga lalu kembali menghempaskan kesembarang.
Sudah tiga tetangga yang jatuh pingsan dan juga terluka akibat ulah Ratu Ajeng.
"Hahahaha itu bayaran karena kau berani melukai ekorku."
Ratu Ajeng menghilang tanpa jejak, begitu tertawa puas.
Perginya Ratu Ajeng berhenti pula tiupan angin kencang yang tadi sempat membuat para tetangga ketakutan dan panik.
Ustadz Dedek bernafas sedikit lega karena Ratu Ajeng telah meninggalkan area tempat tinggal ustadz Dedek.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mi tolong tetangga kita yang tak sadarkan diri. Abi ingin beristirahat sejenak, Abi sedikit lelah." Nampak ajah lelah dari ustadz Dedek.
"Iya Abi, Abi istirahat saja di dalam biar umi yang membantu para tetangga."
Ustadz Dedek masuk kedalam rumah guna beristirahat, karena tenaganya cukup terkuras.
Istri ustadz Dedek membantu tetangga yang pingsan dan sedikit mengalami cidera.
Usai membantu para tetangga, istri ustadz Dedek kembali kerumah dan menemui ustadz Dedek yang sedang berbaring di ranjang sambil tak lepas dari berdzikir kepada Allah.
"Tidak usah mi, terimakasih. Abi tidak apa-apa, Abi hanya perlu istirahat sejenak saja. Bagaimana dengan para tetangga, apakah baik-baik saja ? tidak ada luka serius kan mi?" Ustadz Dedek mencemaskan tetangga yang terluka.
"Alhamdulillah ketiga tetangga kita tadi, hanya menderita cidera sedikit, umi sudah membantu memberi obat kepada lukanya, sekarang mereka sudah pada pulang kerumah masing-masing, ya jujur mereka masih syok dan tidak percaya dengan yang mereka lihat malam ini Bi, tapi umi coba jelaskan agar mereka tidak perlu risau dan takut, cukup memohon perlindungan hanya kepada Allah SWT, mereka sedikit tenang."
__ADS_1
"Syukur lah, jika begitu."
"Hm sejujurnya juga, perasaan umi sama dengan para tetangga kita. Makhluk apa tadi Bi ? dan kenapa dia membuat kegaduhan di sini ? dia seperti marah kepada Abi Karen Abi telah mengusiknya ? tolong jelasin sama umi, Bi." Istri ustadz Dedek meminta penjelasan.
"Besok saja ya mi, Abi lelah. Abi ingin beristirahat, besok insya Allah Abi jelaskan tentang sosok yang seperti ular tadi. Sudah sekarang sebaiknya kita tidur ya, sebentar lagi sudah akan memasuki waktu subuh." Ustadz Dedek belum bisa menceritakan karena tenaganya masih lemah.
"Iya Bi, sebaiknya kita beristirahat. Kalo perlu apa-apa, Abi bangunin umi ya."
Ustadz Dedek mengangguk, kemudian istri ustadz Dedek tidur di sebelah ustadz Dedek.
Dalam benak ustadz Dedek, terdapat kekhawatiran jika ia tidak memiliki kemampuan, sebab ia hanya seorang diri, tapi dengan sekejab ustadz Dedek tersadar jika ia tidak boleh lemah. Ia kuatkan dirinya kalo dirinya tidak seorang diri, ada Allah sang Maha Kuasa selalu disisinya.
"Astaghfirullah'al adzim, ampunin hamba ya Allah tidak sepatutnya hamba merasa lemah. Hamba yakin engkau pasti akan selalu membantu hamba di setiap kesulitan. Berilah hamba kekuatan fisik untuk menghadapi makhluk ghaib yang menyesatkan manusia dari jalan menghadap-Mu." Ustadz Dedek berdoa memohon agar ia diberikan kekuatan untuk melawan Ratu Ajeng beserta anteknya.
__ADS_1
Setelah bermunajat kepada Allah, ustadz Dedek memilih untuk tidur karena memang ia merasa lelah.
Lelah bukan berarti ustadz Dedek lemah, tapi karena sudah dua kali ia mengeluarkan sukma dari tubuhnya, sebagai manusia biasa wajar jika ustadz Dedek merasakan tubuhnya lelah.