MAMA

MAMA
Bab 89


__ADS_3

"Ahh..telingaku (Sezha menutup kedua telinganya yang terasa tuli karena tangisan melengking sosok bayi). Pergilah ku mohon, pergilah dan berhentilah menggangguku lagi. Aku tidak ada hubungan apapun denganmu." Sezha masih berlindung dibawah selimut.


Usai Sezha mengatakan itu, suara tangisan bayi sudah tidak terdengar lagi menggema di seisi kamarnya.


"Sepertinya bayi hantu itu udah pergi." Gumamnya masih di bawah selimut.


Sezha mendongakkan kepalanya dari balik selimut, benar saja sosok bayi sudah tidak berada di dalam kamarnya lagi.


"Akhirnya pergi juga huuu ( Sezha bernafas lega). Aku gak habis berfikir kenapa bayi hantu itu selalu mengganguku ? emang aku ada buat salah apa coba ? hm atau bener kali ya kata orang kalo lagi hamil muda itu pasti di ganggui sama mahkluk halus, terus aku harus gimana ni ? mau tanya ibu gak mungkin, apa sebaiknya tanya ayah aja kali ya ? aku yakin pasti ayah tau penangkal hantu untuk aku yang sedang hamil." Sezha menerka, berfikir dan berbicara sendiri di atas ranjang.


Sezha masih sibuk dengan pikirannya dari luar pintu kamarnya, terdengar suara ayah yang memanggilnya.


"Zha..kamu di dalam ? ayah mendengar suara kamu tadi." Seru ayah dari arah luar kamar.


Mendengar suara ayahnya, Sezha begitu senang.


"Iya yah sebentar pintunya Sezha kunci." Sezha beranjak dari ranjang dan berjalan kearah pintu.


Sezha membuka kuncinya dan lalu membuka pintu kamar.

__ADS_1


Ayah tersenyum lega saat melihat Sezha berdiri didepannya.


"Kamu pulang tapi tidak memberitahu ayah."


"Maaf yah, tadi Sezha capek banget jadi langsung masuk ke kamar deh. Gimana keadaan ayah ?"


"Alhamdulillah ayah sehat. Ayah berkali-berkali menghubungi kamu tapi tidak aktif, ayah sempat khawatir. Ayah ingin bertanya begitu susahnya kah jaringan telpon disana ?"


"Ponsel Sezha hilang yah, gak tau jatuh dimana."


"Ya sudah yang penting kamu baik-baik saja. Ayah mau makan, ikut ayah ke dapur kita makan bersama. Kebetulan tadi ayah beli pecel 2 bungkus. Satu untuk ibu dan satu lagi untuk kita."


Ayah dan Sezha menuju dapur, mereka duduk di meja makan.


Ayah memberikan bungkusan yang berisi pecel kepada Sezha.


"Ambil piring, ini pecalnya."


"Ya yah tunggu bentar, oh ya nasi ayah banyak atau tidak ?" Sezha sudah memegang 2 piring ditangannya.

__ADS_1


"Sedang saja."


Sezha membuka rice cocker dan mengambilkan nasi secukupnya untuk ayah, tentunya juga dengan dirinya.


Ayah dan Sezha makan bersama dengan penuh rasa bahagia.


Hingga ditengah acara makan bersama ini, ibunya berjalan ke dapur. Melihat ibunya, Sezha menyapa ibunya terlebih dulu.


"Bu, ibu udah makan ? biar Sezha ambilkan piring buat ibu."


Ibunya tidak menjawab pertanyaannya bahkan sekedar untuk melihat Sezha saja ibunya tidak mau. Raut wajah ibu masih acuh terhadap Sezha. Sezha seperti tidak ada di dalam rumah ini, malah ibunya berbicara pada ayah.


"Yah, ibu mau keluar sebentar. Nanti nasi yang ada di rice cocker habiskan saja. Ibu tidak lapar." Setelah mengatakan itu, ibunya melangkah meninggalkan dapur tanpa menunggu balasan dari ayah.


Sezha tertunduk sedih, ia kira ibunya akan bisa memaafkannya tapi ternyata ia salah. Sikap ibunya masih dingin mengacuhkan dirinya.


Ayah menyadari jika Sezha merasa sedih. Ayah mencoba mengalihkan agar Sezha tidak terlalu memikirkan sikap ibunya.


"Sudah, kita lanjut makan lagi. Jangan hiraukan sikap ibumu seperti itu."

__ADS_1


"Iya yah." Sezha mengangguk dengan guratan kesedihan tapi ia masih bisa menahan air matanya agar tidak jatuh.


__ADS_2