
Ratu Ajeng hadir dikamar Sezha, sontak Tukijan mengambil posisi duduk bersimpuh.
"Sembah abdi setiaku padamu Ratu."
Ratu memandangi Tukijan dan berkata.
"Kau berdirilah, dan pergi dari sini. Aku yang akan mengurusnya."
"Baik Ratu, saya akan pergi. Saya pamit."
Tukijan langsung menghilang.
Sekarang hanya tinggal Sezha dan Ratu Ajeng.
"Tahan rasa sakitnya, ini keinginanmu jadi jangan lemah. Aku paling tidak suka memiliki pengikut yang lemah." Hardik Ratu Ajeng.
Sezha tidak dapat berkata-kata lagi, ia hanya mengangguk sambil menitikkan bulir air mata karena menaha rasa sakit yang teramat.
Ratu melayang tepat diatas perut Sezha. Ia menatap tajam kearah perut Sezha.
__ADS_1
"Tidak lama lagi bayi ini akan lahir, bersiaplah dan sambutlah kelahirannya."
Ratu Ajeng mengarahkan sebelah tangannya dan menempelkan telapak tangannya tepat dipusar perut Sezha.
Mulut Ratu Ajeng komat-kamit seperti membaca mantra.
Benar saja tak berselang lama, bayi Sezha pun lahir. Lepas itu Sezha pun pingsan tak sadarkan diri, begitu banyak darah yang keluar dari perut Sezha. Perut Sezha saat ini dalam kondisi menganga lebar.
Ratu Ajeng memegang bayi Sezha hanya dengan satu tangan. Ratu Ajeng dengan rakusnya memakan tali pusar yang masih memilit di perut bayi Sezha.
Ratu Ajeng merasakan kenikmatan yang tiada tara. Usai tali pusar ia lahap, sekarang ia menjil*ti darah yang berceceran di atas ranjang.
"Sungguh nikmat dan lezat sekali." Ratu Ajeng merasakan kenikmatan dari darah segar yang keluar dari perut Sezha.
Setelah selesai dengan mengembalikan perut Sezha, Ratu Ajeng beralih ke bayi Sezha yang ada ditangannya.
"Sekarang kau sudah lahir didunia ini, bentukmu tidak sempurna layaknya bayi manusia. Aku akan menyempurnakanmu. Tapi setiap diatas jam 11 malam maka kau akan kembali ke wujud aslimu. Kau lihatlah, ini adalah ibumu, kau menyusulah padanya."
Rupa bayi Sezha benar-benar seram, memiliki kepala yang lebih besar dari tubuhnya, gigi yang sudah tumbuh seperti taring, serta kuku jari yang panjang dan tentunya runcing.
__ADS_1
Sebelum Ratu Ajeng mengubah bayi Sezha seperti layaknya bayi manusia, Ratu Ajeng terlebih dahulu menyadarkan Sezha yang sempat tak sadarkan diri usai Ratu Ajeng mengeluarkan bayi Sezha.
"Kau bangunlah, bayi mu sudah lahir." Perintah Ratu Ajeng kepada Sezha.
Mendengar ucapan Ratu, Sezha pun sadar. Ia perlahan membuka kedua matanya.
"Ra~tu." Ucap Sezha masih lemah.
"Iya, kau lihatlah ini bayimu. Dia telah lahir."
Sezha duduk menyandar di kepala ranjangnya, pandangannya masih nanar. Ia belum terlalu jelas melihat kondisi fisik bayinya.
"Anakku, sini sama mama sayang." Sezha mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong bayinya.
"Aku akan memberikannya padamu, tapi ingat jangan kau terkejut dengan kondisi bayimu. Apapun bayimu kau harus tetap mengurusnya jangan sekali-kali kau menyia-nyiakannya. Jika itu sampe terjadi, kau akan tau akibatnya." Ratu Ajeng mengultimatum Sezha.
"Saya mengerti Ratu, boleh saya menggendong bayi saya sekarang ? saya sudah tidak sabar ingin segera menggendongnya."
"Baiklah, ini bayi mu." Ratu Ajeng meletakkan diatas kedua telapak tangan Sezha.
__ADS_1
Kedua bola mata Sezha yang tadinya belum terbuka sepenuhnya, begitu melihat dekat dengan kondisi fisik bayinya sangat kaget. Ia membelalakkan matanya kemudian bertanya pada Ratu Ajeng.
"Ratu, apakah ini benar bayi saya ?" Tanya Sezha tidak percaya sembari menelan salivanya.