
Deon telah bersiap, ia akan pergi bekerja. Tak lupa ia berpamitan kepada kedua mertuanya dan juga Nina, ya walaupun balasan Nina dingin tapi Deon tetap berpamitan.
"Ma, papa pergi dulu ya." Deon hendak mencium kening istrinya.
"Hati-hati dijalan." Jawab Nina dingin sembari menghindar agar Deon tidak mencium keningnya.
Deon hanya menghela nafas, kemudian beralih kepada dua anaknya.
"Papa pergi kerja ya, kalian baik-baik dirumah. Jangan nakal, temenin mama ya."
"Okidoki pa." Sahut mereka berbarengan.
Deon berjalan keluar rumah dan menuju mobil, dia akan segera berangkat. Namun saat akan masuk mobil Nina tiba-tiba memanggilnya, Deon pun menoleh. Nina menghampiri.
"Jawab mama dengan jujur pa." Ucap Nina dengan wajah serius.
"Jawab apa ma ? papa udah terlambat ini lho." Tanya Deon.
__ADS_1
"Papa pilih mama atau wanita itu ?" Nina bertanya tentang pilihan Deon.
"Maksud mama apa sih ? udahlah nanti sore aja kita bahas, papa mau kerja dulu, gak apa-apa kan ?" Deon tidak ingin membahas hal ini karena ia sedang terburu-buru untuk berangkat bekerja.
"Oh ok, dah." Balas Nina menahan rasa kecewa, kemudian kembali berjalan masuk dan meninggalkan Deon tanpa mau menunggu Deon berangkat.
Deon memijit pelipisnya, tanda ia pusing.
"Kenapa jadi runyam begini ? sudahlah nanti saja aku pikir kan masalah ini, sebaiknya aku fokus bekerja." Deon mengesampingkan masalah hidupnya kemudian ia pun bergegas melajukan mobilnya menuju ke perusahaan.
"Kamu tega mas, tega sama aku. Kamu gak bisa nentuin pilihan antara aku dan wanita itu, padahal aku ini masih istri sah, sedangkan dia wanita yang datang merusak kebahagiaan kita mas tapi kenapa kamu begitu berat ngelepas dia ditengah ikatan pernikahan kita hiks hiks." Nina menangis sedih.
Ibunya melintas dan melihat Nina seperti sedang bersedih segera menghampiri.
"Kamu sedih ?"
"Ibu, gak kok Bu. Cuma kelilipan aja. Ibu mau ngapain, oh ya anak-anak, dimana Bu ?" Nina menutupi.
__ADS_1
"Anak-anak lagi sama kakeknya main. Nina, ibu tau kamu lagi sedih, ibu gak bisa kamu bohongi nak."
Ibunya berkata seperti itu, air mata Nina tidak bisa dibendung lagi. Ia pun menangis sembari memeluk ibunya.
"Nina gak tau lagi Bu, mau dibawa kemana rumah tangga Nina dengan mas Deon hiks, Nina udah nyerah, gak sanggup jika harus mendengar mas Deon memberi perhatian kepada perempuan lain, Bu. Nina gak kuat hiks."
"Ibu tau apa yang kamu rasakan, pasti sakit sekali rasanya, marah, kecewa bahkan benci dengan keadaan ini. Bukan maksud ibu untuk kamu mempertahankan, tapi kamu pikirkan anak-anak kalian, jika kalian sampai berpisah, pasti mereka akan sangat sedih nantinya. Tentang Deon yang seperti itu, ibu yakin pasti dia menyesal namun ia juga tidak bisa melepaskan gitu saja si perempuan itu karena Deon telah memiliki anak darinya. Anak itu juga berhak mendapatkan pengakuan dari Deon sebagai ayah kandung." Ibu memberi pengertian.
"Jadi Nina harus apa Bu? apa ? hiks."
"Jangan cepat mengatakan cerai, semua bisa dibicarakan. Berdoalah kepada Allah, mohon agar Allah memberikan jalan yang terbaik untuk hubungan kalian berdua. Ibu yakin Allah pasti dengar doa kamu. Cobalah berfikir dengan kepala dingin, jangan mengedepankan emosi, karena emosi itu akan merusak segalanya."
"Hiks, kalo memang itu yang terbaik, Nina akan coba Bu. Nina juga akan memohon pada Allah agar memberikan jalan keluar atas masalah Nina dengan mas Deon. Semua ini Nina lakukan demi anak-anak. Terimakasih Bu, Nina nyusahin ibu dan menambah beban pikiran ibu, maafin Nina, Bu..hiks.."
"Sudah, jangan menangis lagi. Lebih baik sekarang kamu temenin anak-anak kamu ya soalnya ayah sama ibu mau pergi belanja, stok di kulkas sudah habis."
"Iya Bu." Nina mengusap air matanya dan ia juga sedikit merasa lega karena nasehat dari ibunya.
__ADS_1