MAMA

MAMA
Bab 135


__ADS_3

"Ayah ingin menanyakan perihal sikap kamu yang menyepelekan ucapan salam, lalu ibu kamu bilang kalo kamu juga sudah tidak pernah sholat, kemudian ditambah lagi kamu beberapa hari ini selalu pulang terlambat. Bisa kamu beri jawabannya pada ayah dan ibu ?" Tanya ayah detail dengan perubahan sikap Sezha.


Sezha nampak cemas terlihat jelas dari raut wajah. Ia kira orang tuanya bakalan tidak terlalu memperdulikan dengan perubahan sikapnya tapi ternyata kedua orangtuanya memperhatikan dirinya.


Aduh jawab apa aku ini ? astaga pikiran buntu.


Melihat Sezha yang seperti bingung untuk menjawab, ibu Sezha menegur Sezha.


"Sezha.. jawab pertanyaan ayah barusan. Kenapa kamu malah diem aja." Ibunya berkata sambil melirik ke ponsel yang ada di genggaman tangan Sezha.


Ibu masih menahan pertanyaan darimana ponsel itu bisa Sezha miliki.


"Eh iya Bu, maaf eee gini bukan Sezha lupa tapi Sezha kadang suka terburu-buru makanya lupa ngucapin salam waktu pergi dan pulang kalo mengenai sholat eee Sezha kan lagi dateng bulan kadang mau 10 hari baru abis, dan kenapa Sezha selalu pulang telat kerumah, itu karena Sezha kan main sama temen makanya gak langsung pulang. Gitu ayah..ibu.." Sezha berkilah agar ayah dan ibunya percaya dengan apa yang ia katakan.


Ibu tidak langsung mempercayai ucapan yang dilontarkan oleh Sezha. Ibu yakin kalo Sezha seperti menyembunyikan sesuatu yang ayah dan ibunya sama sekali tidak mengetahui, sebab firasat ibu begitu kuat dan sungguh sulit untuk bisa membohongi perasaan ibunya.


"Kenapa wajah kamu jadi tegang begitu, Sezha ? ibu merasa kalo apa yang kamu ucapkan adalah bohong hanya agar kami percaya pada ucapan kamu. Tolong jawab dengan jujur, Sezha. Ibu tidak kamu bohongi." Raut wajah ibu tegas.

__ADS_1


Sezha semakin ketar ketir menghadapi pertanyaan kedua orangtuanya.


Aku harus gimana ? gak mungkin aku jawab kalo aku lagi pake jasa dukun bisa abis aku. Ck blom sempet olesin ini minyak lagi.


"Kamu terlihat gelisah, apa bener yang dikatakan sama ibu kamu ? kalo kamu saat ini sedang berbohong." Tanya ayah karena heran melihat tingkah Sezha yang seperti


kebingungan.


"Gak kok yah, Sezha bilang yang sebenarnya kok. Gak mungkin Sezha bohong sama ayah dan ibu kan, yang ada nambah dosa donk." Sezha terus saja mencari alibi pembenaran walaupun ia harus berbohong.


"Benar kata ibu, ayah harap kamu tidak lagi menyepelekan hal itu sekalipun kamu terburu-buru jangan lupakan kewajiban dasar seorang muslim. Apa kamu sudah mengerti Sezha ?" Timpal ayah membenarkan ucapan ibu.


"Iya yah Sezha ngerti kok." Jawab Sezha sembari mengangguk.


"Ayah, ibu eee Sezha masuk ke kamar dulu ya. Sezha mau istirahat, bolehkan kalo Sezha ke kamar ?" Sezha ingin cepat-cepat masuk ke kamarnya, ia sudah seperti terpojok.


"Sudah, kamu boleh istirahat. Masuklah ke kamar kamu." Kata ayah memperolehkan.

__ADS_1


"Malam ayah, ibu. Sezha ke kamar dulu." Sezha beranjak dari duduknya.


Ibunya masih ada pertanyaan yang belum ditanyakan oleh Sezha mengenai ponsel yang ada di genggaman tangan Sezha saat ini.


"Tunggu dulu, ibu masih ada satu pertanyaan lagi. Itu ponsel kamu atau ponsel teman kamu ? soalnya ibu rasa ponsel kamu baru tidak seperti yang kemarin." Ibu menaruh rasa curiga.


Langkah Sezha tertahan karena ibunya kembali bertanya.


"Ohh ini ponsel Sezha Bu, kebetulan Sezha punya tabungan, ya lumayanlah Bu hasil uang tabungan Sezha makanya Sezha bisa beli ponsel baru." Sezha kikuk.


Haisshh ibu penasaran mulu, heran.


"Gitu ya, Alhamdulillah kalo ponsel itu hasil dari kamu menabung. Yaudah kamu boleh kekamar, ibu juga mau istirahat." Ibu sedikit mempercayai namun didalam lubuk hati jujur ibunya masih merasakan keraguan terhadap semua yang dikatakan oleh Sezha.


"Iya Bu, Sezha masuk kamar."


Berjalan menuju kamarnya, ia mengelus dadanya tanda ia merasa lega yang tadinya rasa was was kini sudah tidak ada lagi. Terlepas ayah dan ibunya mau percaya atau tidak dengan ucapannya. Yang terpenting bagi Sezha, kesenangannya masih belum mau untuk dia sudahi.

__ADS_1


__ADS_2