
Didalam kamar Sezha kembali menggerutu, ia merasa kesal karena sikap keingintahuan kedua orangtuanya terhadap dirinya sebab Sezha merasa bukan anak kecil lagi, ia menganggap apa yang ia lakukan tidak perlu harus seizin kedua orangtuanya.
"Ishhh ayah sama ibu bikin kesel aku aja, badmood aku ni. Lagian aku udah SMA, yang perlu dikasih tau itu si Ega yang masih bocah SMP, lah kenapa selalu kepoin aku coba. Kemarin sewaktu aku bilang, aku hamil, ibu ada peduli, gak kan cuma ayah yang peduli sama aku. Kalo gak karena minyak ini, gak bakalan mungkin ibu mau merhatiin aku. Jadi jangan salahkan aku donk kenapa aku cari jalan cepat. Coba aja ibu gak gitu sama aku, aku gak bakalan kayak gini. Heran orang tua selalu bisanya salahin anaknya, ck bete aku." Sezha tidak menerima teguran dari kedua orangtuanya, bukannya meminta maaf ia malah menyalahkan sikap ibunya.
Disela gerutunya Sezha, sosok arwah anak perempuan ini muncul dihadapannya tentu dengan arwah bayi Sezha.
Arwah bayi Sezha sudah sedikit bertumbuh besar dari awalnya tapi masih digendongan si arwah anak perempuan.
Sosok arwah bayi Sezha menangis masih dengan tangisan seorang bayi.
"Oekkkkk... oekkkkk.... oekkkkk."
__ADS_1
Sezha sontak kaget karena lagi lagi mendengar suara tangisan bayi, ia semakin bertambah kesal. Belum hilang rasa kekesalannya dengan ayah dan ibunya, sekarang ditambah lagi suara tangisan bayi.
"Astaga...(Sezha menghela nafas berat sembari menatap kearah sosok arwah anak perempuan) kalian lagi, kalian lagi, berapa kali mau aku bilang hah ?! berhenti menggangguku, ach..hari ini apes banget aku. Gak bisakah aku hidup tenang.." Sezha mengusap wajahnya kasar, ia merasa jenuh dan juga muak dengan apa yang terjadi di setiap hari-harinya.
Sosok arwah anak perempuan ini bukannya meninggalkan kamar Sezha, malah melesat mendekat kearah Sezha dan meletakkan sosok arwah bayi ini ke atas ranjang Sezha.
Nafas Sezha semakin menderu begitu sosok bayi diletakkan tepat diatas ranjang dan dekat dengan dirinya.
Sosok arwah bayinya yang tadinya menangis, seketika diam dan ia dengan cepat bergerak merangkak mendekati Sezha yang meneriakinya untuk pergi.
Sekejap sosok arwah bayi Sezha sudah berada di pangkuan Sezha sambil mengedipkan kedua bola matanya tanda sosok arwah bayinya merasa nyaman berada di pangkuan Sezha yang memang notabenenya adalah ibu yang mengandungnya sebelum ia diambil paksa dan di telan mentah-mentah oleh Mak Iyem.
__ADS_1
Sontak Sezha menjerit sekuatnya karena bertatapan langsung dengan arwah bayi, Sezha sama sekali belum mengetahuinya jika sosok arwah bayi ini adalah janin yang pernah ia kandung.
"Ahhhhhhhhhhhh......!!! pergiii..pergi.... !! ayah...ibu...!! tolong Sezha !!" Teriak Sezha sambil memanggil ayah dan ibunya.
Ayah dan ibunya yang berada didalam kamar tersentak kaget ketika mendengar teriakkan keras dari Sezha.
"Yah, itu kan suara Sezha. Yuk kita lihat ke kamarnya, sepertinya terjadi sesuatu dengan Sezha." Ucap ibu pada ayah dan tergesa-gesa mengajak ayah untuk segera bergegas ke kamar Sezha.
"Iya Bu, hayuk Bu." Timpal ayah.
Ayah, ibunya bersamaan keluar dari kamar dan secepatnya berjalan menuju ke kamar Sezha yang teriak meminta tolong.
__ADS_1