
Beberapa saat tiba dirumah, Sezha berbaring di atas ranjangnya mendadak ia merasakan sakit dibagian perutnya seperti akan melahirkan.
"Sshhhh aduhhh perutku, sakit banget, mules ya ampun ada apa dengan perut aku." Sezha meringis kesakitan sambil mengelus-elus perutnya.
Sezha ingin beranjak dari ranjangnya namun kedua lututnya seperti tidak bertenaga.
"Astaga, perutku sakittt..Ibuuu !!!" Teriak Sezha.
Janin dalam kandungan Sezha menggeliat sangat penuh tenaga hingga terbentuk jelas bentuk kepala janin Sezha.
Ibu yang berada diruang tv bergegas masuk kedalam kamar Sezha begitu ia mendengar suara teriakan Sezha.
Saat memasuki kamar, ibu Sezha terkejut bukan kepalang karena ukuran perut Sezha tiba-tiba saja bertambah besar dari yang tadi.
"Astagaaaa... Sezhaaaa." Ibu berlari mendekat kearah Sezha yang kesakitan.
"Ibu sakittt Bu..sakit...perut Sezha sakit banget Bu.." Sezha merintih kesakitan.
"Ibu rasa kamu sebentar lagi akan melahirkan, tunggu sebentar ibu akan panggil bidan. Kamu tahan ya, tenang jangan panik. Ibu akan lekas kembali."
__ADS_1
"Gak Bu, Sezha gak mau, ibu sini aja temenin Sezha. Awwww...shhhssshh..sakit Bu, sakitttt..."
"Ya ampun, terus ibu harus bagaimana Sezha ? lihat perut kamu sudah membesar begitu, ibu takut terjadi apa-apa sama kamu dan bayi kamu, nak."
Sezha dan ibunya betul-betul panik bukan kepalang.
Sementara ditempat berbeda yaitu kediaman Tukijan. Ia tersenyum puas menyaksikan Sezha tak lama lagi akan melahirkan bayi.
"Tak ku sangka secepat ini bayi itu akan lahir."
Tukijan akan menuju kerumah Sezha, cukup memejamkan mata sukma Tukijan sudah terpisah dengan raga.
Dalam waktu sekejap sukma Tukijan sudah tiba dikamar Sezha, kemudian ia membisikkan ke telinga Sezha.
Ditengah rasa sakitnya, ia mengiyakan permintaan Tukijan.
"Bu..sshhhhh..ibu keluarlah biar Sezha sendiri disini." Suara Sezha lemah menahan rasa sakit.
"Tapi nak, ibu gak bisa tinggalin kamu sendiri disini. Kalo sampe terjadi apa-apa sama kamu bagaimana." Ibu menolak.
__ADS_1
"Bu, tolong jangan berdebat sama Sezha. Ibu keluar dari kamar Sezha sekarang sshhhhh... awwww, sakit.."
"Baiklah kamu tunggu disini biar ibu balik Puskesmas itu lagi. Ibu gak akan lama, kamu tahan ya."
"Terserah ibu aja, udah ibu buruan keluar dari kamar Sezha sekarang." Desak Sezha pada ibunya.
"Iya, iya ibu akan keluar. Ya ampun mana ayah sama adek kamu gak dirumah. Tahan ya sayang, ibu pergi sebentar." Raut wajah ibu sedih.
Ibu Sezha dengan langkah berat meninggalkan Sezha didalam kamar seorang diri.
Usai ibu Sezha keluar dari kamar, Tukijan pun menampakkan dirinya.
"Sebentar lagi bayi ini akan lahir." Tukijan tersenyum licik.
"Sebenarnya bayi yang dikandungan saya manusia atau setan pak ? sakit sekali rasanya." Sezha tak henti-hentinya menggeliatkan tubuhnya karena sakitnya.
"Nanti kamu akan tau sendiri setelah dia lahir."
"Pak, tolong saya pak. Saya gak kuat pak, sakiiit sekali pak, achhhh." Sezha menghela nafas.
__ADS_1
"Bukannya kamu yang sangat menginginkan bayi ini. Jadi nikmati saja proses kelahirannya. Dia tidak akan keluar melalui kemal*an kamu melainkan ia akan merobek kulit perut mu, tapi tenang kamu tidak akan mati. Aku akan memulihkan kembali perut mu setelah bayi mu lahir."
"Maksud bapak ? ssshhhhh achhhh sakit pak..sakittt..Ratu tolong aku Ratu tolong..." Sezha benar-benar tidak dapat menahan rasa sakitnya lagi, hingga ia memanggil Ratu untuk bisa membantunya.