MAMA

MAMA
Bab 126


__ADS_3

Seluruh warga desa sudah ramai berdatangan memenuhi isi rumah pak Kasan.


Kiayai Eman memimpin pengantaran jenazah alm.bulek Sukini ke peristirahatan terakhir.


Usai memakamkan bulek Sukini, seluruh warga desa pulang kerumah mereka masing-masing, sekarang tinggallah pak Kasan seorang diri dirumah.


Pak Kasan memandangi tiap sudut rumahnya sembari terbayang sewaktu bulek Sukini masih hidup.


Pak Kasan tak teringat memberi kabar pada keluarga Arin.


Malam harinya Arin kembali menelpon ke ponsel bulek Sukini.


Pak Kasan baru saja selesai tahlilan atas meninggalnya bulek Sukini, ia berjalan masuk ke kamar dan mendengar suara dering ponsel. Diraih ponsel dari ranjang, tertera dilayar ponsel nama Arin.


Pak Kasan kemudian mengangkat ponselnya.


"Pak Kasan : " Assalamualaikum."


"Arin : " Waalaikum salam, lho kok palek yang angkat, bulek kemana palek ?"


Pak Kasan diam sejenak, mulutnya masih terasa berat untuk berbicara.


Arin yang berada di seberang telpon, mencoba bertanya lagi karena pak Kasan tidak menjawabnya.

__ADS_1


"Arin : " Palek, palek masih disana kan ?"


"Pak Kasan : " Hmm iya, maaf ya Arin. Palek sampe lupa kasih kabar ke kamu dan kedua orang tua kamu." Pak Kasan menghela nafas berat.


"Arin : " Kabar apa itu palek ?"


"Pak Kasan : " Kabar kalo bulek kamu~." Ucapan terpotong.


"Arin : " Kenapa sama bulek ?"


"Pak Kasan : " Hiks..hiks..bulek kamu sudah tiada, Arin."


"Arin : " Ti~ada gima~na, palek ?" Arin terbata diiringi detak jantung yang tidak stabil.


"Arin : " Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, tapi tadi baru aja Arin ngobrol sama bulek, emang bulek kenapa palek ? bulek sakit ?" Arin menitikan air mata.


"Pak Kasan : " Bulek kamu tadi siang jatuh dan kepalanya membentur batu, setelah palek angkat bawa kerumah, bulek sudah tiada hiks."


"Arin : " Ya Allah, kenapa palek gak kasih kabar ke sini. Terus bulek udah dimakamkan?"


"Pak Kasan : " Sudah tadi sore sehabis sholat ashar, maafin palek tidak memberitahu kabar duka ini. Jujur palek masih kalut dan masih belum percaya dengan kepergian bulek. Ya sudah ya, sampaikan ke orang tua kamu, sekali lagi palek minta maaf. Wassalamu'alaikum."


"Arin : " Tunggu palek, Arin masih mau ngo~." Perkataan Arin belum selesai, palek sudah mematikan sambungan telpon terlebih dahulu sebab terdengar suara tuttt ..tuttt.. tanda panggilan telepon telah diakhiri.

__ADS_1


Arin terisak di dalam kamarnya, ia tak menyangka bulek meninggal dengan secepat ini.


"Bulek, baru aja tadi siang kita ngobrol hiks. Arin gak nyangka kalo obrolan kita tadi itu adalah obrolan untuk terakhir kalinya. Semoga bulek tenang disana, segala amalan bulek diterima di sisi Allah SWT, Arin berdoa semoga meninggalnya bulek Husnul khatimah, amin..aminn ya rabbal alamin." Arin berduka dan memanjatkan doa untuk alm bulek Sukini.


Arin keluar dari kamarnya guna memberitahu kepada sang ibu kalo bulek Sukini telah berpulang ke Rahmatullah. Arin menuju ke kamar ibunya.


"Ibu ! buka pintunya bu ! Arin punya kabar duka hiks hiks." Seru Arin sambil masih terisak.


Ibunya pun keluar dari kamar.


"Kabar duka apa ? siapa meninggal ?"


"Bulek, Bu hiks..bulek Sukini meninggal hiks..tadi palek baru kasih kabar."


"Inna ilaihi wa Inna ilaihi Raji'un, sakit apa bulek, Rin ?" Ibu Arin terkejut mendengar kabar meninggalnya bulek Sukini sebab yang ibu Arin tau kalo Bulek Sukini tidak menderita sakit serius.


"Bulek gak sakit Bu, kata palek kalo bulek tuh jatuh terus kepalanya kebentur batu hiks."


"Ya Allah, yaudah besok pagi kita kesana." Mata ibu Arin sudah berlinang air mata.


"Iya Bu, tapi bulek sudah dikebumikan tadi selepas sholat ashar."


"Tidak apa-apa, kita kesana saja. Ya sudah kamu kembali ke kamar, ibu mau memberi kabar sama saudara yang lain, mungkin saja mereka belum diberi kabar."

__ADS_1


"Iya Bu." Arin mengangguk masih dengan raut wajah sedih.


__ADS_2