
Si kakek sekilas menatap serius ke perut Sezha.
Sezha nampak risih dengan tatapan si kakek.
"Kenapa kakek melihat saya seperti itu ?" Tanya Sezha penasaran.
"Sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini. Sebelum kalian menyesal. Saya permisi." Si kakek berpesan.
Sezha dan Nova saling melemparkan pandangan. Raut wajah mereka berdua seperti memberitahu jika mereka saat ini lagi bertanya-tanya.
Tanpa mereka sadari si kakek sudah menghilang dan sudah tidak ada di dekat mereka lagi.
"Zha, Zha, kakek tadi udah gak ada ilang." Nova menarik pelan lengan Sezha.
"Eh kemana perginya tuh kakek padahal aku masih mau nanya. Ck yaudahlah mungkin si kakek buru-buru kali, yaudah yuk lanjut, aku dah laper ni."
"Ishh kayaknya mending kita pulang aja deh yuk, kamu denger sendiri kan apa kata kakek tadi. Mumpung belom kesana ni, kita masih. bisa pulang." Nova mendesak Sezha agar membatalkan untuk pergi ke persinggahan itu.
"Aduh Nova, gak usah lebay napa sih. Mungkin maksud tu kakek hati-hati soalnya kan kita pendatang. Lagian ni ya kita kan cuma niat liburan bukan yang macem-macem jadi pasti aman kok, percaya sama aku deh." Sezha menolak ajakan Nova yang ingin pulang
"Tapi Zha, kamu gak ngerasa aneh apa. Aku takut ni Zha, sumpah. Kita balik aja yuk."
__ADS_1
"Nov, Nov, temenku zeyeng, percaya sama aku udah, kita pasti aman ishh takut amat heran aku kayak anak kecil kamu bener deh. Baru juga dibilang gitu terus takut." Sezha meledek.
"Hilih serah deh, kalo ada apa-apa aku gak mau tau. Pokoknya aku udah ingetin." Nova cemberut sambil kembali masuk ketaksi.
Sezha menggelengkan kepalanya. Sezha merasa jika Nova sedikit berlebihan.
Sezha menyusul Nova yang terlebih dahulu masuk kedalam taksi.
Begitu Sezha sudah masuk, pak sopir bertanya.
"Maaf neng, gimana sudah bisa kita melanjutkan perjalanan ? "
"Bisa pak." Sahut Sezha.
Sezha memperhatikan sikap Nova yang gelisah, Sezha mengetahui sebab Nova bersikap begitu.
"Nov, kamu gak mau ikut bareng sama aku kan ?" Tanya Sezha.
Nova menoleh ke Sezha, menatap wajah Sezha lekat.
"Hm bukan Zha, cuma gini hm." Lidah Nova serasa peluh.
__ADS_1
"Cuma apa, yaudah deh daripada kamunya kepaksa dan aku juga jadi gak enak sama kamu. Kalo kamu ingin pulang boleh kok, aku aja yang menginap ditempat itu lagian kan emang aku yang pengen banget kesana." Terang Sezha.
"Zha, kita itu temen so mana mungkin aku ninggalin kamu sendirian. Ya juga jujur aku masih kepikiran tentang yang kakek-kakek tadi bilang. Terus ada satu pertanyaan sih yang aku ngerasa aneh sama tuh kakek?"
"Aneh gimana maksudnya ?"
"Iya aneh aja, si kakek tuh ngeliatin ke arah perut kamu gitu deh, aku kan merhatiin kakek itu, ya emang sih sekilas doank tapi ngapain juga coba tuh serius banget pas ngeliat ke kamu."
"Isssh ada-ada aja kamu, gak usah ngarang deh." Sezha nampak kikuk.
"Beneran Zha, kamu sih gak merhatiin makanya kamu gak nyadar."
"Udah ah bahas kakek itu lagi, tutup pembahasan."
Disela obrolan mereka berdua pak sopir nyeletuk.
"Kalo menurut bapak, mungkin si kakek bukan lagi ngeliatin perut neng, bisa aja si kakek tadi liatin isi kantong neng hehehe. Kali neng mau kasih uang gitu secara kan neng datang dari kota, pasti dikira si kakek neng ini punya banyak duit gitu, ini menurut pandangan bapak."
"Dih bapak lucu, mana mungkin ah ada-ada si bapak." Sezha tersenyum karena merasa lucu dengan ucapan pak sopir.
"Pak, masih jauh lagi ya kayaknya lama banget perjalanan." Tanya Nova.
__ADS_1
"Sabar atuh neh ,tidak lama kok neng paling sekitar 15 menit lagi kita juga bakalan sampai." Jawab pak sopir.