
Sezha menunggu diruang tamu seorang diri sementara Tukijan belum juga muncul sedari tadi.
"Ishh kemana lagi tuh si bapak, ck ngapain sih didalam, lama amat perasaan. Apa jangan-jangan ketiduran kali ya si bapak ? aishh kalo iya gimana masa aku disini, keburu malam banget ini." Sezha melongo kearah dalam ruangan rumah Tukijan. Perasaannya mulai gelisah.
Disela rasa gelisahnya tak lama Tukijan berjalan dengan membawa sebuah botol parfum kecil, kemudian duduk berhadapan dengan Sezha.
"Aku sudah tau masalahmu, pakai ini setiap malam tepat pukul 12 malam. Ingat jangan sampai terlewat 1 malam saja." Tukijan tanpa basa-basi langsung memberikan Sezha sebuah botol kecil yang Sezha belum tau apa itu.
"Hm tapi pak, saya boleh bertanya tidak ? tentang arwah anak perempuan dan arwah bayi itu, sebenarnya mereka mau apa pak ? mereka selalu menghantui saya. Saya tidak tau salah saya apa." Sezha memberanikan bertanya.
"Jika saya memberitahu kamu, apakah kamu sudah siap menerima kenyataan ?" Wajah Tukijan serius balik bertanya pada Sezha.
"Maksud bapak ?" Sezha penasaran.
__ADS_1
"Kedua setan bocah itu tentu bukan pertama kali kamu temui, benar ?"
"Ya benar pak, tapi mereka mau apa ya pak? saya tidak habis pikir dengan mereka terus menghantui saya."
"Belum saatnya kamu mengetahui siapa kedua setan bocah itu. Suatu saat kamu akan mengetahui dengan sendirinya. Intinya minyak ini kamu pakai secara rutin." Tukijan belum berniat memberitahu.
"Astaga pak, saya mau jawaban. Bukan teka-teki kayak gini. Lalu untuk apa saya memakai minyak ini ?" Sezha mulai kesal dengan respon dingin Tukijan.
"Saya sudah katakan jika kamu berminat memakai bantuan saya, diam dan lakukan apa saya perintahkan. Bukan banyak bertanya kemudian menyanggah setiap ucapan saya." Tukijan memelototkan kedua bola matanya tanda ia tidak senang dengan sikap Sezha.
"Pantas saja hidupmu berantakan, sikap yang kamu tunjukkan sama sekali tidak memiliki etika. Sepertinya kamu salah menemui saya, silahkan pergi dari rumah saya. Saya tidak ingin membuang-buang waktu meladeni gadis keras kepala seperti kamu." Tukijan beranjak kemudian dengan nada ketus mengusir Sezha untuk meninggalkan rumahnya saat ini juga.
Sezha nampak panik, ia mengatur nafas. Malam ini dia tidak mungkin pulang tanpa mendapatkan hasil.
__ADS_1
"Gini pak, bukan maksud saya tidak sopan pak tapi saya seperti ini karena saya sudah sangat lelah dengan kedatangan arwah anak perempuan dan arwah bayi itu, belum lagi masalah saya dengan ibu saya sendiri kemudian ditambah lagi rasa sakit hati saya dengan seorang laki-laki bre*sek yang dengan tanpa bersalah mencampakkan saya seenaknya, jadi tolong pak, maafkan saya. Baik setelah ini saya tidak akan terlalu banyak bicara dan juga banyak bertanya pada bapak." Sezha meluapkan uneg-unegnya kepada Tukijan.
"Baik kalo begitu, dengarkan saya. Ini masih langkah pertama yang harus kamu lakukan. Pakai minyak ini, oleskan tiap malam sebanyak 4 kali di bagian leher tepat waktu tengah malam. Jika minyak ini sudah habis, kamu kembali datang kesini. Ingat selama kamu memakai minyak ini jangan pernah sekalipun melakukan kegiatan ibadah kepada Tuhan, apa kamu paham ?" Tukijan menjelaskan dan memberikan Sezha larangan agar tidak beribadah seharusnya sebagai seorang muslim.
"Baik pak, saya akan lakukan apapun itu yang terpenting niat saya terbalaskan dengan sempurna dan ibu saya kembali seperti dulu." Sezha menyanggupi tanpa berfikir.
"Bagus, ambil minyak ini. Maharnya 200ribu." Tukijan menyebutkan harga sebotol minyak.
Sezha menerima minyak dalam wadah botol yang diberikan oleh Tukijan untuknya, kemudian Sezha mengambil uang dari saku celananya dan memberikan kepada Tukijan.
Usai Sezha membayar mahar tanpa ia tawar, lalu Tukijan menyuruh Sezha untuk pulang kerumahnya.
"Kamu boleh pulang."
__ADS_1
"Makasih pak, saya permisi." Sezha beranjak tanpa mau banyak bertanya.