
Ustadz Dedek menghentikan bacaan ruqyah namun minyak daun Bidara ini tetap harus dioleskan kepada ibu Nova.
"Makhluk yang merasuki tubuh ibu kamu sudah keluar. Dia takut jikalau sampai hangus terbakar. Oleskan minyak ini pada kening, kedua telapak tangan dan terkahir kedua telapak kaki (ustadz memberikan minyak Bidara kepada Nova). Saya mau mengecek makhluk itu memang sudah pergi atau masih bersembunyi dirumah ini."
"Beneran pak ustadz, ibu saya sudah tidak apa-apa ?"
Ustadz hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Nova.
"Oleskan minyak itu segera, agar ibu kamu lekas sadar."
"Baik pak ustadz."
Nova mulai mengoleskan minyak ini pada bagian tubuh yang dikatakan oleh ustadz.
Sementara ustadz Dedek keluar rumah, yang sudah ramai dengan para tetangga hingga merekapun bertanya penasaran.
"Ada apa tadi pak ustadz ? kami denger disini kalo ada yang berteriak histeris gitu. Kami gak ada yang berani masuk."
"Tidak ada apa-apa kok Bu, sudah ya sebaiknya ibu-ibu kembali kerumah masing-masing saja. Nanti dikirai terjadi sesuatu." Ustadz enggan memberitahu.
__ADS_1
"Yaudah deh pak ustadz, kami juga mau lanjut tidur siang. Abis tadi keganggu, berisik banget."
"Silahkan ibu-ibu, selamat beristirahat."
Para ibu-ibu tetangga sudah pada pulang kerumahnya masing-masing, ustadz Dedek mengelilingi area luar kediaman Nova untuk mengecek apakah makhluk jahat itu sudah benar-benar pergi atau belum.
Ustadz Dedek fokus memeriksa area luar, ibu Nova telah sadar dari pingsannya.
"Aduhhh kepalaku pusing sekali sih." Ibu Nova sadar perlahan.
"Ibu.. Alhamdulillah ibu udah sadar. Minum dulu Bu, pasti ibu capek." Nova memberikan ibunya segelas air putih.
Dirasa pandangannya udah jelas, ibu Nova memandangi wajah Nova, Arin dan Lala yang duduk sangat dekat dengannya.
"Ini kenapa pada kumpul disini ? emang ibu kenapa Nov ?" Tanya ibu masih belum tau tentang yang barusan terjadi.
"Ibu pingsan, Nova takut kalo ibu sampai kenapa-kenapa hiks. Tapi syukur ibu udah kembali." Nova memeluk ibunya.
Arin dan Lala terharu melihat Nova yang begitu sangat khawatir dengan keadaan ibunya.
__ADS_1
"Tante, ini ada sedikit buah tangan. Maaf ya tan cuma ini." Arin memberikan buah pir ini kepada ibu Nova.
"Terimakasih banyak, lagian Tante juga gak apa-apa kok malah dibawain buah segala. Kalian mau main kesini aja, Tante sudah sangat senang."
Ustadz Dedek kembali masuk karena ia telah memeriksa area luar rumah, tidak ada tanda-tanda adanya makhluk ghaib yang merasuki tubuh ibu Nova.
"Ibu kamu sudah sadar, kalo begitu saya permisi ya." Ustadz Dedek pamit.
"Lho ada pak ustadz juga ada disini ? sebenarnya ini ada apa pak ustadz ? apa yang terjadi dengan saya ?" Tanya ibu penasaran.
"Ibu tadi dirasuki oleh makhluk gaib yang ingin berniat jahat pada ibu, tapi Alhamdulillah sekarang makhluk itu sudah pergi. Ibu tidak perlu cemas. Saran saya tingkatkan ibadah, perbanyak membaca Al-quran, dan jangan lupa untuk terus berzikir kepada Allah agar kita selalu dalam perlindungan-Nya."
"Tunggu pak ustadz, maksudnya saya kerasukan, begitu ?"
"Iya Bu tapi sekarang sudah tidak. Maaf ya Bu, saya tidak sempat menjelaskan detailnya soalnya saya harus pergi mesjid untuk mengumandangkan adzan sholat ashar. Mari Bu wassalamu'alaikum."
"Pak ustadz, minyak ini gimana ? boleh saya simpen di rumah saya dulu kan pak ustadz, nanti kalo ibu udah enakan pasti saya pulangkan kok pak ustadz. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih sama pak ustadz."
"Minyak itu simpan saja dulu, siapa tau nanti dibutuhkan. Ya sudah ya saya pamit, wassalamu'alaikum." Pak ustadz mengulangi ngucapin salam.
__ADS_1